
Makanan yang disediakan acara kali ini lumayan banyak. Bia sampai bingung akan memilih yang mana. Jika saja tidak sedang diet, ia akan memilih semuanya. Batinnya bergelut antara perut dengan timbangan.
Bia melirik ke arah Dira yang duduk lumayan jauh dari posisi Bia kini. Dira tengah mengobrol dengan Divan. Ayah dan anak itu menjadi pusat perhatian. Banyak yang menyapa Divan dan memberikan pujian betapa lucunya Divan. Mereka juga memuji betapa Dira terlihat tak menua. Hanya suara dan tubuhnya saja semakin gagah.
Hanya Bia saja yang tak dipedulikan. Padahal dia sudah dandan cantik sekali sampai Dira tak hentinya memuji. Sayang, popularitas memang tak bisa semua orang dapatkan begitu mudah.
Tak lama Divan mulai berlari-lari hampir keliling ruangan. Dira baik sekali sedari tadi mengikuti ke mana Divan pergi. Bia hanya melihat dari kejauhan. Lagu masih terdengar seisi ruangan. Beberapa alumni menyumbangkam pidato singkat. Semakin lama diam, justru perut Bia semakin melilit. Dia hanya makan apel.
Hidangan untuk para tamu tersedia di stan tak jauh dari Bia. Baunya benar-benar menarik hati. Bia memijiti perut. Mendapat Bia yang sudah terlihat tak nyaman, Sayu menjadi khawatir. "Kamu kenapa, Bia?"
Bia menyeringai. "Aku lapar," jawabnya dengan suara pelan.
"Kamu gak makan?" Sayu menyimpan tangan di pundak Bia.
"Aku lagi diet, makanya cuman makan apel. Eih, malah lapar," keluh Bia. Sayu menggeleng-geleng. "Makan sedikit saja gak apa, kan?" tanya Bia. Ia tak mau dietnya gagal, tapi juga tak mau kelaparan.
"Gak apa, kok. Asal jangan khilaf," jawab Ana. Mendengar itu, Bia sedikit lega. Ia mengangguk kemudian berjalan menuju stan makanan. Ada piring yang disusun di ujung stan. Ukurannya lumayan besar untuk menampung makanan. Bia mengusap dada.
"Bia, jangan khilaf. Ingat, sekarang kamu kuda bukan beruang." Ia menyemangati dirinya sendiri. Bia melihat-lihat makanan di stan. Ia memperkirakan makanan dengan kalori tinggi kemudian melewatinya.
Hampir di ujung stan makanan, ada sop krim yang cukup banyak sayurnya. Bia pikir itu lebih tepat. Lekas ia menaikan kecepatan langkahnya. Ketika mengambil mangkuk kecil sop itu, tangan Bia bertabrakan dengan tangan lain. Kontan Bia menarik tangan kemudian melirik orang yang tadi bersentuhan tangan dengannya.
Mata Bia terbelalak. Ia kenal betul orang itu. "Drabia?" sapanya. Melihat manusia itu, Bia hanya meneguk ludah.
"Masih ingat aku?" tanya pria dengan tubuh jangkung dan rambut hitamnya. Matanya sedikit sipit dan hidungnya mancung.
"Sunny?" tebak Bia.
Sunny mengangguk. Ia perhatikan Bia dari ujung rambut hingga ujung kaki. "Kamu berubah banyak, ya?" tanyanya.
__ADS_1
Wajah Bia merona. Akhirnya ada juga yang mengakui hal itu. Tangan Bia mengaitkan anak rambut ke belakang telinga. Ia menunduk sebentar lalu melirik Sunny lagi dengan memasang senyuman kecil. "Kamu juga banyak berubah."
"Ouh, ya? Sebelah mananya?" tanya Sunny penasaran.
"Tambah tinggi dan kelihatan kuat," puji Bia. Mendengar itu Sunny tertawa kecil. Bia tak mau ketinggalan. Ia juga ikut terkekeh.
Ternyata benar apa kata orang, pacar pertama itu bisa menggoreskan kesan dalam kenangan. Bertemu Sunny masih membuat dada Bia berdegup. "Hmm, Reta apa kabarnya?" Bia membuat basa-basi. Reta dulu sahabat Bia. Ketika berhasil merebut. Sunny, kedua wanita itu tak akur lagi.
"Dia baik, sedang duduk di sana," jawab Sunny sambil menunjuk meja yang sangat jauh dari tempat mereka berdiri.
Bia mengangguk. Jemarinya meremasa taplak meja tempat berbagai makanan disajikan.
"Aku dengar kamu dan Dira sudah menikah. Selamat, ya?" ucap Sunny sambil mengulurkan tangan. Bia tersenyum dengan wajah merona. Wanita itu siap mengulurkan tangan dan siap meraih tangan Sunny.
Keduanya berjabatan tangan. Sunny masih melihat Bia. Lumayan lama, mereka melepaskan jabatan tangan itu. "Kamu cantik, Bia," pujinya. Mata Sunny sampai tak bergeser melihat wanita itu.
Sunny menggeleng. "Gak kok, Bia. Kamu memang sejak dulu cantik. Hanya gak sadar saja dengan kecantikan kamu."
Ucapan manis itu membuat Bia terpesona. Kembali Bia mengaitkan anak rambut ke belakang daun telinga. Setelah itu, Bia menggeser-geserkan sepatu kanannya.
"Apa pantas bicara dengan istri orang tanpa ada suaminya," tegur seseorang yang Bia hafal betul suaranya. Bia melirik dan menemukan Dira di sana. Mendadak ia khawatir, apalagi melihat wajah Dira yang sudah memerah dan sorotan matanya yang tajam.
Sunny mengusap tengkuk. "Maaf, Dir. Aku tadi hanya menyapa Bia," ucap Sunny sambil tersenyum.
Dira berkacak pinggang. "Gak usah dusta! Sudah jelas tadi kamu bilang dia cantik! Maksudnya apa? Cari perhatian?" Suara Dira begitu lantang hingga beberapa orang di sekitar berpaling ke arah mereka.
"Maaf, Dir. Aku hanya memuji." Sunny mulai kelabakan.
Dira meraih kerah kemeja Sunny. Tak disangka Sunny, selanjutnya ia terkena bogem mentah. "Kamu pikir aku gak merhatiin kamu sedari tadi! Sengaja kamu ikuti Bia sampai ke sini. Kamu lihatin dia dari jauh! Dasar buaya! Istri orang saja berani godain!"
__ADS_1
Sunny mengusap pipinya. Reta yang baru sadar suaminya menjadi bulan-bulanan Dira lekas berlari ke TKP. Bia memegang lengan Dira. "Dir, jangan kayak gini. Malu dilihat orang. Nanti kamu juga yang bakalan digosipin orang lagi," nasehat Bia.
Dira menepis tangan orang. "Malu? Harusnya dia yang malu. Semua orang termasuk kamu tahu kelakuan dia gimana, terus kenapa masih saja senang dia goda? Kamu pikirin perasaan aku gak?" tegur Dira.
Bia menggeleng. "Aku gak gitu, kok. Aku cuman gak enak dia nanya. Masa aku diemin," jelas Bia.
"Diemin? Jelas saja kamu senyum-senyum sampai jabatan tangan. Apaan itu?" omel Dira. Napasnya naik dan turun begitu cepat.
"Dan kamu! Kalau berani ganggu istriku lagi, aku habisi baru tahu rasa!" ancam Dira.
Pria itu meraih lengan Bia dan menariknya keluar aula. Bia turut saja, ia tak mau membuat Dira tambah emosi. Tangan Dira terasa hangat. Jelas sekali emosinya sedang tinggi.
Sampai di parkiran, Dira memukul kap mobil. Bia sampai kaget, ia raih tangan Dira dan memeriksanya. Ada lecet di sana meski tak berdarah. "Kalau marah jangan sampai gini, donk." Bia mengusap tangan pria itu.
Dira meraih bahu Bia. Ia tatap mata istrinya. Sekali ia menarik napas kemudian mengembuskannya. "Jangan seperti donk, Bi. Jangan senyum-senyum gitu sama pria lain, apalagi mantan kamu," pintanya.
Bia tak berucap apapun. "Aku sadar aku pernah salah, tapi lihat kamu tadi itu ... aku gak terima. Tolong, ya?"
Melihat wajah Dira yang memohon itu membuat Bia merasa bersalah. Ia usap wajah pria itu. "Maaf, ya. Beneran, kok. Aku cuman sayang sama kamu," ucap Bia.
Dira memeluk Bia. "Maaf, aku kesal. Aku cuma gak mau kamu pergi," ucapnya. Bia mengusap punggung suaminya. Bagi Bia ini bukan hal yang aneh. Dira memang begitu, kalau cemburu pasti lebaynya minta ampun. "Bilang saja deh kamu mau apa, asal jangan ketemu orang itu lagi," tambah Dira.
"Kita pulang saja, ya? Aku takut kamu mukulin orang lagi," ajak Bia. Dira menganguk. Mereka melepaskan pelukan. Dira membukakan pintu mobil. Bia tersenyum dan masuk ke dalam.
Ada boneka pororo di sana, Bia tertegun. "Divan!" pekik Dira dan Bia barengan.
🍁🍁🍁
"Papa mana? Tadi cini, kalang ilang. Papa dak petak upet, kan?" Divan menggaruk kepalanya. Seingatnya tadi ayahnya mengikuti. Mendadak ketika ia berbalik, Dira tak ada.
__ADS_1