
Saat pulang siang itu, Bia kaget karena mencari Divan di rumah, tapi rumahnya terkunci. Rupanya anak itu ada di rumah Mrs. Carol. Bia mendengus. "Akhirnya ia menyerah juga mengurus anak," umpat Bia dalam hati.
Syukur Bia membawa roti dari toko, jadi ia bisa berikan sebagai tanda maaf. Padahal paginya, Bia sudah bilang dengan bangga jika hari ini Mrs. Carol bisa istirahat. Baru setangah hari, Divan sudah kembali ke sana.
"Maaf, Bu. Aku kira dia benar akan menjaga Divan sampai sore," ucap Bia sambil memberikan sekantong roti pada Mrs. Carol.
Senyum terkembang di wajah wanita tua itu. "Tadinya juga begitu. Ia habis mengajak Divan ke mall. Beli mainan. Habis itu titip katanya mau pergi dua hari karena ada jadwal kerja."
Bia menunduk. "Akhirnya ia tetap memilih karir," batin Bia. Apalagi yang bisa ia harapkan dari pria itu. Lagi pula tugasnya di sini hanya sebagai ayah Divan.
Mrs. Carol mengambil sebuah kotak di atas meja. "Ini titipan buat kamu. Katanya kalau kamu pulang minta tolong diberikan."
Bia meraih kotak itu. Ia membuka kertas kado yang melapisinya. Bia kaget melihat dus ponsel apel yang terpampang di sana. Ada juga selembar kertas terselip. Bia ingat betul itu tulisan Dira. Dia memang pria aneh, tidak hanya cantik jika didandani seperti wanita, tulisannya juga serapih tulisan wanita.
Untuk ibu dari anakku
Ini ponsel sebagai pengganti ponsel kamu yang rusak. Aku harus menghubungi kamu agar tahu perkembangan bayi kita. Maaf gak pamitan, aku mau manggung ke luar kota dua hari untuk mencari nafkah agar anak kita bisa membeli susu dan bayar sekolah nanti. *****Sekarang semua serba mahal seperti maaf darimu*****.
__ADS_1
Jangan kerja terlalu lama. Cari orang yang bisa menggantikanmu. Nanti aku jemput kamu di rumah sepulang dari sini. Jangan lupa makan, badan kamu isinya tulang semua. Bahaya jika naik motor bisa terbang kayak balon udara.
^^^Pujaan hati kamu,^^^
^^^Dira Kenan^^^
"Mbek rengsek!" umpat Bia tanpa sadar. Ia kesal, tapi tak lama tersenyum. Begitulah Dira, yang bisa membuatnya melambung dan kesal bersamaan. Sifat yang turun pada Divan.
Mrs. Carol menatap Bia dengan pandangan senang. "Aku gak nyangka loh, Bi. Kamu bisa punya anak dari pria seganteng dia," puji Mrs. Carol. Ia juga sudah lama penasaran dengan ayah Divan karena anak itu masih kecil saja tampan.
"Percuma ganteng, Bu! Dia itu be rengsek, nyebelin, jahil dan lebih parah lagi gak bertanggung jawab!" tegas Bia. Napasnya naik turun karena kesal ingat isi surat dari Dira.
Bia mengangguk. Ia tatap Divan yang sedang bermain kereta. "Hei, Van! Kamu kenapa nangis ditinggal Papah?" tanya Bia.
Divan meninggalkan sejenak mainannya dan menatap Bia. "Nati Papah dak puyang. Van mau Papah," jawabnya. Bia mengusap rambut Divan. Benar, bukannya dia murahan dan lemah karena menerima Dira begitu saja. Hukuman paling pas untuk Dira adalah menjaga mereka berdua dengan baik.
Bia menarik napas panjang. "Bu, aku boleh tanya?" Bia duduk di karpet rumah Mrs. Carol. Wanita yang ia ajak bicara mengangguk.
__ADS_1
"Aku tahu apa yang ia sudah lakukan padaku. Ia menodai lalu meninggalkan. Itu kejam, sangat. Kalau bukan karena anak, aku juga gak mau bagi Divan dengannya. Hatiku sakit, tak bisa memaafkan. Uang yang dia punya tak bisa membayar rasa sakit, juga nyawa tanteku. Ia tak pantas dimaafkan. Kenapa sisi hatiku yang lain ingin memberi ia kesempatan? Apa aku ini bo doh?" tanya Bia.
Mrs. Carol menggeleng. "Jika semua orang jahat harus dihukum berat, kenapa Tuhan ciptakan kata maaf. Untuk apa ada kata 'berubah' jika semua orang jahat harus selalu jahat dan orang baik akan selalu baik," nasehat Mrs. Carol.
"Tapi dia menghancurkan hidupku," ralat Bia.
"Lantas jika kau tak memaafkannya, hidupmu akan terulang menjadi lebih baik. Luka ada dan ditorehkan sebagai pelajaran. Saat anakku meninggal, hal yang aku pikirkan adalah kesalahanku. Jika aku menjaganya dengan baik dan tak membiarkan ia main sampai malam, ia tidak akan diperkosa dan pergi selamanya. Manusia selalu menyalahkan orang akan kemalangannya, ia lupa jika ia punya bagian paling besar dalam takdirnya sendiri," jelas Mrs. Carol.
Bia menunduk. Ia menelisik bagian salah yang ia lakukan. Jika ia tak meminta putus hingga berkali-kali, Dira tak akan senekat itu. Di Heren ada Universitas bagus di mana ia bisa mendapatkan ilmu keguruan. Kenapa ia harus memaksakan diri kuliah di Emertown? Lebih dari itu, ia tahu ada Kelvin dan Ezra yang bisa ia hubungi, ia malah memilih kabur.
Bia mengusap dadanya. "Aku masih harus berpikir keras. Aku bingung dan itu menyiksaku. Aku pasti dimaki jika kembali padanya. Juga bo doh karena tidak menerima pertanggung jawabannya."
"Pria lain mungkin ada yang bisa menerima kamu dan Divan. Belum tentu keluarganya juga mau. Ada yang bisa menerimamu, belum tentu dengan Divan," Mrs. Carol membuat opsi yang semakin mengusik batin Bia.
πΏπΏπΏ
Maaf ya author up hanya 3 chapter. Ini karena aku mulai kerja lagi, gak WFH. Jadi siang gak ada waktu nulis π.
__ADS_1
Lagi-lagi aku minta maaf karena masih banyak kekurangan dalam novel ini. Kalau kalian bosan, aku juga gak aneh. Remahan ini memang tiada daya dan upaya, tapi akan berusaha untuk lebih baik π