Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Tahap 2


__ADS_3

Aric sangat bahagia Lily merasa cemburu padanya, itu berarti Lily sudah mempunyai rasa cinta untuk Aric dalam hatinya. Namun, di sisi lain ia harus menerima konsekuensi dari kecemburuan Lily.


Ia harus menghabiskan malam yang panjang di sofa, meringkuk sendirian dengan memeluk guling. Tak ada kehangatan pelukkan Lily seperti malam-malam sebelumnya.


Aric bangkit, dengan malas ia menyandarkan tubuhnya di sofa. Ia menatap sang istri yang sudah terlelap, perlahan Aric berdiri dan berjalan menghampiri ranjang.


Dengan sangat hati-hati, ia menyusup dalam selimut Lily. Dua tangan kekarnya merayap perlahan di perut Lily. Pelan tapi pasti, ia merengkuh wanita itu dalam dekapannya. Aric mengambil nafas dalam, ia takut membuat Lily terbangun dan kembali mengusir dirinya.


"Ehm ...." Lily mengeliat kecil. Tubuh Aric menegang, ia menghentikan gerakannya seketika.


Aric merasa lega, Lily tidak terbangun. Akhirnya, ia bisa tidur dengan memeluk Lily.


Baru saja mata Aric terpejam, ponsel di nakas sudah bergetar. Dengan terpaksa, ia kembali membuka mata untuk mengangkat telepon.


"***** ...! Apa yang mereka pikirkan? kenapa menelfon malam-malam begini," umpat Aric kesal.


Melihat nama Rey yang tertera di ponsel, Aric memutuskan untuk menjauh dari Lily. Rey tidak mungkin menghubunginya jika tidak ada sesuatu yang mendesak.


"Ada apa?" tanya Aric datar, sambil berjalan ke balkon.


"Maafkan saya Tuan," jawab Rey di ujung telepon.


"Aku tidak butuh maaf, cepat katakan kenapa kau menelpon ku?"


"Lusius, dia ingin bertemu dengan Anda."


"Lusius, Bedebah itu. Apa yang dia inginkan?" Aric memijit pelipisnya, orang satu ini sangat sulit untuk dihadapi.


Lusius jenis orang yang akan melakukan apa saja untuk mencapai tujuannya.


"Apa yang dia lakukan?"


"Dia sudah menghajar Marquis Kang, Tuan."


"Hais .... anak itu benar-benar tidak bisa diandalkan. Katakan pada Lusius, aku akan menemui besok. Aku tidak bisa malam ini."


"Baik Tuan."


Aric menghela nafasnya panjang, ia meletakkan kembali ponselnya diatas nakas setelah memutuskan panggil.


Sebenarnya, Aric sudah memutuskan untuk mundur dari White Clown. Ia ingin menjalani kehidupan yang tenang bersama anak dan istrinya. Namun, sepertinya ia belum bisa sepenuhnya mundur, Marquis masih belum bisa diandalkan untuk memimpin.


Pria itu melangkah keluar dari kamar, ia butuh sebotol air dingin untuk menyejukkan otaknya.

__ADS_1


Sesampainya di dapur, Aric segera membuka lemari pendingin, mengambil sebotol air mineral lalu menenggaknya hingga habis.


Pada saat yang sama seorang wanita hamil, menghampiri Aric dengan senyum manis yang tersungging di bibirnya. Ia sungguh senang bisa bertemu dengan Aric di saat seperti ini, sepi dan hanya mereka di keremangan cahaya.


"Aric,"Panggilnya mendayu-dayu, ia memeluk tubuh kekar pria itu dari belakang.


Aric memejamkan mata, bukan menikmati pelukan wanita itu, Aric justru merasa jijik saat jemari tangan itu menyentuhnya. Namun, Aric tidak bisa mendorong tubuh Veronica, wanita itu sedang hamil, kalau ia sampai jatuh itu akan sangat berbahaya bagi janin yang ada di rahim Veronica.


"Apa yang kau lakukan? cepat lepaskan," ucap Aric lirih tetapi terdengar tegas.


Aric melepaskan tangan Veronica yang melilit tubuhnya, Aric membalikan badan, menatap nyalang pada wanita hamil itu.


"Aku tahu aku melakukan kesalahan padamu, aku sungguh menyesal. Bisakah kita kembali seperti dulu, aku masih sangat mencintaimu," ucap Veronica dengan tidak tahu malu. Kedua matanya menatap Aric dengan sangat memuja.


Dua netra Lily memanas, cairan bening meleleh di pipinya. Lily baru saja keluar dari kamar, ia merasa haus dan memutuskan untuk pergi ke dapur. Lily memelankan langkah, saat melihat siluet seseorang di dapur. Langkah Lily terhenti, dari tempat ia berdiri, bisa melihat dengan jelas dua insan yang menempel dengan mesra.


Lily membekap mulutnya sendiri, menahan suara tangisnya. Wanita itu segera berbalik pergi, rasa haus yang tadi ia rasakan hilang sudah.


Mata Aric memelototkan matanya, mendengar ucapan absurd Veronica.


"Kau gila! Sampai kapanpun, aku tidak akan pernah kembali padamu. Kita sudah selesai!" tegas Aric.


"Genggam tanganmu masih seperti dulu, Sayang. Sangat kuat dan hangat, aku suka," Veronica berkata dengan nada yang begitu menggoda.


"Diam!" bentak Aric, ia menghempaskan tangan wanita itu dengan kasar.


"Aku tahu kau masih mencintaiku, tiga tahun, Sayang. Itu bukan waktu yang singkat, apa kau ingat hari-hari dimana kau begitu memanjakan ku. Aku tidak percaya kau bisa mengantikan diriku begitu saja dengan wanita itu."


"Uhgh ..."


Aric mencengkeram dagu Veronica dengan kuat, hingga wanita itu merasakan sakit yang sangat. Mata elang Aric, menatap tajam, seolah siap untuk menghunuskan pedang kapan saja.


"Jauhi aku dan keluargaku, jika kau masih ingin hidup, mengerti!" tegas Aric.


Veronica mengangguk dengan takut, ia sungguh tidak menyangka Aric akan sekasar ini dengannya.


"Apa ku bisu! Jawab!"


"Me-mengerti," jawab Veronica dengan susah payahnya.


Aric melepaskan tangannya dari dagu Veronica dengan kasar, sampai wanita itu hampir terjatuh. Aric tidak perduli lagi, ia sudah menahan diri untuk tidak bertindak kasar pada Veronica, mengingat kondisi wanita itu.


Namun, Veronica semakin tidak terkendali, dan membuat Aric merasa geram. Dengan langkah lebar, Aric meningkatkan Veronica. Niatnya untuk mendinginkan otak malah jadi panas, karena bertemu dengan wanita itu.

__ADS_1


"Kau tidak bisa melakukan ini padaku!" geram Veronica, menatap tajam pada punggung Aric yang berlalu.


Aric kembali ke kamar, ia menutup pintu depan perlahan setelah masuk. Aric merasa lega melihat, Lily masih meringkuk dalam selimut dengan posisi membelakangi pintu, Aric pun kembali memeluk sang istri dari belakang. Yang Aric tidak tahu, tertidur karena lelah menangis, hati wanita itu begitu sakit melihat Aric bermesraan dengan Veronica.


.


.


.


.


Pagi kembali menyapa, Lily masih diam seribu bahasa. Marah tentu saja. Hati wanita mana yang tidak sakit, melihat suami bermesraan dengan wanita lain.


Namun, Lily berusaha bersikap biasa di depan mertuanya. Seolah tidak ada masalah dengan rumah tangganya.


Setelah menyelesaikan sarapan, Lily berjalan-jalan ke taman belakang sendiri, menikmati bunga yang di tata dengan begitu apik. Adam lebih banyak menghabiskan waktu bersama kakeknya di sini, mereka begitu akrab. Bahkan semalam mereka tidur bersama.


Sementara Aric, suaminya itu pamit untuk pergi sebentar. Ia bilang masalah perkerjaan dan sangat penting.


"Hai ... Kakak Ipar, kenapa sendiri? di mana Aric?" tanya seseorang. Suaranya berasal dari belakang Lily.


Lily begitu enggan untuk sekedar menoleh, ataupun menjawab pertanyaan wanita itu. Jadi ia hanya diam dan pura-pura tidak mendengar.


Veronica menyeringai licik, ia berjalan mendekati Lily.


"Kakak Ipar, kenapa kau diam? kau bersikap dingin padaku setelah tahu hubunganku dengan suamimu," bisik Veronica.


Lily menoleh, ia menatap geram pada Veronica.


"Bukankah kau kemarin sudah melihatku di dapur?" tanya Veronica.


"Aku sudah cukup bersabar, jangan kau kira aku akan termakan ucapanmu!"


"Aku tidak mengiranya Kakak ipar, aku tahu dengan pasti."


"Kau tahu, kau tidak pantas sama sekali untuk menjadi istri Aric, dia hanya menggunakan mu untuk menyenangkan Ayah mertua. Jika tidak, Kenapa dia merahasiakan pernikahan kalian dari publik?" Veronica mendorong tubuh Lily.


"Karena kau tidak pantas, Akulah satu-satunya yang ada dalam hatinya." Ia terus mendorong tubuh Lily kebelakang dengan satu tangan.


"Diam! Apa kau tidak malu mengatakan hal seperti itu? kau sedang hamil dan suamimu adalah adik kandung dari suamiku, tidakkah kau malu. Menggoda kakak iparmu sendiri? di mana harga dirimu, Ver? Kau menantu di rumah ini, kita sama. Ke


Veronica menyeringai, ia meraih tangan Lily lalu menempelkan di dadanya.

__ADS_1


"Harga diri? sebentar lagi kau kan tau." Veronica melepaskan tangan Lily.


"Veronica!"


__ADS_2