
Dengan manja Lily bersandar di dada bidang Suaminya, mengambil nafas dalam sesaat sebelum ia mulai bicara.
"Apa bisa aset Ayah tidak kau sita semua? tanya Lily dengan takut-takut, jari telunjuknya menggambar lingkaran abstrak di dada Aric.
Pria bermata hazel itu menggeryitkan keningnya. "Kenapa, kau merasa kasihan pada mereka? mereka sudah mengusirmu, membuatmu hidup menderita selama bertahun-tahun."
"Aku tahu, tapi jika kita merampas semua. Apa bedanya aku dan keluarga Wiguna?" Lily mengangkat wajahnya, menatap mata teduh yang sedang menatapnya dengan tidak suka.
"Hemp." Aric memalingkan wajahnya.
Aric ingin Wiguna merasakan apa yang istrinya rasakan, hidup kekurangan tanpa uang tanpa tempat untuk berteduh. Aric bahkan ingin membuat mereka hidup seperti di neraka.
Lily mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Aric. Tangan Lily sedikit mengarahkan suami tampannya itu agar mau berpaling padanya lagi, kedua mata mereka bertemu.
"Sayang, please." Lily mengalungkan tangannya di leher Aric, hingga pria menunduk dan ujung hidung mereka nyaris bersentuhan.
Lily menatap Aric lembut, dengan wajah yang ia buat seimut mungkin.
Aric menghentak-hentakkan nafasnya. Kalau sudah seperti ini, Aric tidak bisa menolak keinginan Lily.
"Maaf Sayang, aku tidak bisa."
Lily melepaskan tangannya, dengan mencebik kesal ia memalingkan badan membelakangi Aric.
"Aku tidak, Aset Guntur harus tetap aku sita sebagai pembayaran hutangnya padaku." Tapi aku bisa melakukan hal lain, dan aku janji mereka tidak akan hidup kekurangan."
Aric membelit tangan kekarnya di pinggang Lily.
"Janji?"
"Janji." Aric mengecup gemas pipi Lily.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
Dua bulan kemarin.
Dua wanita berbalut gaun pengantin, berjalan beriringan. Mereka sangat cantik, dengan senyum lebar tersungging di bibir keduanya.
Dua mempelai pria menanti mereka dengan gugup. Hari ini adalah resepsi pernikahan Marquis dan Helena, tetapi tidak hanya itu. Hari ini juga merupakan anniversary satu tahun pernikahan Aric dan Lily. Jadi mereka melakukan pestanya secara bersamaan di markasnya White Clown.
Adam juga tak ketinggalan, pria kecil itu memakai tuxedo berwarna hitam. Senada dengan apa yang dikenakan oleh sang Ayah. Tangan kecilnya menggenggam erat, jari-jari kekar Aric.
Tak ada tamu undangan yang spesial, hanya anak buah mereka yang meramaikan acara itu. Lily tampak begitu cantik dan menggemaskan mengenakan gaun pengantin dengan perutnya yang membesar, lain halnya Helena. Untuk dia terlihat sangat seksi tetapi juga elegan, Marquis sampai tidak berkedip melihat sang permaisuri yang datang menghampiri dia.
"Sial, seharusnya aku ikut saat dia memilih gaun itu," umpat Marquis kesal. Aric tersenyum mengejek sambil mengangkat kedua alisnya, Marquis bertambah kesal melihat raut wajah Aric.
Acara dimulai, tak banyak basa-basi di sana. Hanya papa Helena yang memberikan wejangan pada Marquis untuk menjaga Helena dengan baik, dan agar Marquis lebih berhati-hati. Kini kelompok mereka lebih besar, pasti akan ada rintangan yang lebih tajam.di depan mereka kelak.
Lagu klasik mulai mengalun di dalam markas white clown. Aric berdansa dengan penuh kasih bersama Lily, Mengayunkan tubuhnya perlahan mengikuti alunan musik, ia begitu hati-hati mengingat perut isterinya yang sudah sangat besar.
Marquis berdansa dengan pangeran kecil Aric, untuk hari ini ia harus merelakan Helena berdansa dengan papanya.
"Apa kau suka?" tanya Aric.
"Suka? tentu saja Sayang.Terima kasih, ini sangat sempurna." Lily tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.
Pesta ini dibuat Aric untuk sang istri, tiap detail decoration, tiap kuntum bunga yang menghiasi sudut markas adalah pilihan Lily, Aric tak perduli dengan Marquis yang protes. Sebagai gantinya, Aric membelikan tiket bulan madu ke pulau Maladewa untuk pengantin baru itu.
Pernikahan Aric dan Lily memang sah secara hukum dan agama, tetapi mereka belum pernah mengadakan resepsi pernikahan, dan bukan tanpa alasan Aric mengadakan acara ini di markas. Ini adalah tempat paling aman, dan juga permintaan Lily sendiri.
Wanita itu mengatakan ingin mengenal Aric lebih baik. Ingin tahu semua tentang sang pendamping hidup, di mana lagi tempat untuk tahu Aric lebih baik selain markas. Di mana dia lebih banyak menghabiskan masa kecilnya dari pada di rumah besar Gulfaam.
__ADS_1
Music terus mengalun, Lily terus tersenyum. Namun, ia mulai merasakan sesuatu pada perutnya.
"Ehm ..." Lily meremas tangan Aric, sambil menahan sakit.
"Kenapa Sayang?" tanya Aric cemas.
Lily menggeleng pelan, tetapi raut wajahnya mengatakan ia tidak baik-baik saja. Pinggang bagian belakang dan perutnya terasa sakit, mules secara bersamaan.
Aric sangat cemas dan khawatir melihat wajah Lily yang mulai pucat. Ia segera memapah sang istri untuk duduk.
"Aku tidak apa-apa," ucap Lily dengan senyum yang dipaksakan, rasa sakit itu hilang.
"Tidak apa-apa bagaimana, Hem? Kau terlihat sangat kesakitan seperti ini."
"Masih dua minggu lagi dari hari kelahiran yang diperkirakan dokter, ini mungkin hanya kontraksi palsu," tutur Lily.
Baru saja Lily mengatakan itu, rasa sakit itu kembali datang. Kali ini lebih kuat dan lebih mules, Lily meremas gaun pengantinnya kuat.
"Hentikan musiknya! Marquis bawa aku ke rumah sakit sekarang!" teriak Aric panik.
Semua anggota yang mendengar teriakan Aric membeku, seolah waktu di hentikan di ruangan itu. Marquis menatap Aric dan Lily secara bergantian.
"Kenapa diam!? Apa kalian semua tuli!" Teriakan kedua Aric menyadarkan mereka.
Marquis menitipkan Adam pada Papa mertua dan istrinya, laki-laki berambut panjang itu segera berlari ke luar Markas untuk menyiapkan mobil.
Aric mengangkat tubuh Lily, dan sekarang membawanya mengikuti langkah Marquis. Marquis membukakan pintu mobil untuk Aric, agar dia lebih mudah mendudukkan Lily.
Dengan cekatan Marquis mengendarai mobil Alphard hitam itu dengan kecepatan penuh. Ia juga ikut panik melihat kakak iparnya yang kesal, di markas memang ada ruang rawat dan dokter. Namun, tidak ada dokter kandungan dan Aric tidak mau mau mengambil resiko.
Lily mencengkeram erat lengan Aric, gelombang rasa sakit itu datang tiap lima menit sekali. Kuku-kuku cantiknya menancap hingga meninggal bekas di lengan Aric.
"Sabar Sayang, sebentar lagi kita sampai," Aric berusaha menenangkan Lily juga dirinya sendiri. Ini pengalaman pertama Aric, menemani sang istri melewati masa-masa kontraksi. Gaun Kiky mulai basah karena cairan yang keluar dari jalan lahir bayi. Aric sempat terkejut, tapi ia berusaha fokus untuk memberikan ketenangan pada Lily.
Lily hanya bisa mengangguk. Wanita itu berusaha mengatur nafas, mulutnya sesekali mendesis saat rasa sakit itu datang. Beberapa saat kemudian mereka akhirnya sampai di rumah sakit.
__ADS_1
Seorang dokter wanita dan beberapa perawat melepaskan gaun dan aksesori yang ada di kepala Lily.