
Seorang laki-laki berambut pirang sebahu, duduk berhadapan dengan Aric disebuah ruangan. Sementara Marquis berdiri disamping Aric dengan wajah yang di tekuk masam.
"Langsung saja, apa mau mu Lusius?" tanya Aric datar.
"Niat ku masih sama, berkerja samalah denganku," jawab pria itu.
Aric tersenyum miring, ia menatap wajah pucat lusius dengan meremehkan.
"Jawabanku masih sama, No!"
"Ayolah A, apa yang membuatmu ragu? Kita sudah lama di dunia hitam ini, apa kau takut kotor? Dosa? kita sudah kotor dengan darah sejak kita kecil A. Apalagi!" Lusius mendengus kesal, ia sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran Aric.
"Kita sudah membunuh sejak umur kita belasan, saat anak lain bermain dengan busa kita sudah menikmati harumnya cairan merah itu," ucap Lusius dengan mata terpejam, mengenang pertama kali dia bermain dengan darah.
Lusius dan Aric besar dan tumbuh disisi gelap dunia ini. Bedanya, Aric masih memiliki rasa belas kasih, itu semua karena ibunya. Aric masih memiliki sang ibu yang mencurahkan kasih sayang padanya. Tetapi tidak dengan Lusius, pria berambut pirang itu dibuang oleh keluarganya karena dianggap aib, sejak ia masih kecil.
"Kita akan berkuasa, apa kau tidak menginginkan itu? menjadi kelompok terkuat dan paling ditakuti. Apa kau puas hanya dengan seperti ini?!"
"Sudahlah, percuma kau terus bicara di sini. Aku tetap pada pendirian ku, Lucy. Lebih baik kau pergi sekarang, jika kedatanganmu hanya untuk ini." Aric bangkit dari duduknya, berjalan ke pintu besar dan membukanya.
"Aku akan membuatmu menyetujuinya A, camkan itu!" Lusius melangkah lebar, dengan wajahnya yang pucat memerah karena marah.
Lusius menghentikan langkahnya, menatap tajam Aric seperkian detik dengan tajam sebelum ia benar-benar pergi. Aric menarik nafas dalam, ia tahu Lusius tidak akan semudah itu melepaskannya.
"A, kenapa kau tidak berkerja sama dengannya?" sebuah pertanyaan meluncur dari mulut Marquis yang tadinya bungkam.
Aric menoleh, melihat Marquis dengan sorot mata yang sulit diartikan.
"Kau tau kerjasama apa yang ia tawarkan?" Marquis menggeleng.
"Perdagangan organ tubuh. Menjual wanita dan anak-anak, kau mau?"
Marquis terbelalak, mendengar penuturan Aric. Dia memang pria brengsek, begitu pun Aric. Tetapi untuk hal seperti itu Marquis tidak setuju sama sekali.
"What?! tidak terima kasih. Tapi aku heran, kau sudah menghentikan penjualan obat sejak beberapa tahun terakhir. Kenapa dia masih mencarimu? dan ingin mengajakmu bergabung?"
"Lusius sudah sejak lama ingin mengajakku, tapi aku selalu menolaknya. Aku dan dia teman lama, dulu lebih tepatnya." Aric menghempaskan tubuhnya di sofa.
__ADS_1
Marquis mendengar cerita Aric dengan seksama, ia pun turut mendaratkan bokongnya di sofa yang tak jauh dari Aric duduk.
"Aku juga tidak mengerti, tapi dia pasti punya alasan tentang ini." Aric beralih menatap langit-langit, ancaman dari Lusius bukanlah isapan jempol semata.
Aric tahu seberapa besar ambisi laki-laki pucat itu, tapi yang tidak ia mengerti adalah obsesi Lusius padanya.
.
.
.
.
Sebuah brankar beroda di dorong masuk oleh beberapa perawat. Pasien wanita baru saja dipindahkan dari ambulans, ia mengerang kesakitan sambil memegangi perutnya. Dress biru muda yang ia pakai berubah menjadi merah, karena pendarahan.
"Ugh .... sakit, sakit sekali Dokter!" pekiknya keras. Veronica meremas perutnya.
"Sabar Ver, sebentar lagi Dokter akan memeriksamu," tutur Lily dengan wajah pucat, langkahnya tergesa-gesa mengikuti laju brankar.
"Kau, pembunuh, Wanita jahat! aku tidak akan memaafkanmu jika terjadi sesuatu pada anakku!" Veronica menatap tajam pada Lily.
"Nyonya, Anda tidak bisa ikut masuk," cegah seorang perawat.
Lily mengangguk dengan berat hati, ia menatap nanar pada pada brankar yang mulia menghilang di balik pintu.
Lily jatuh terduduk dilantai, kedua kakinya terasa lemas. Semua ini terjadi begitu saja, Veronica menjatuhkan diri kebelakang saat melepaskan tangannya di taman tadi, tubuh wanita itu jatuh terjengkang ke belakang, entah di sengaja atau tidak, Lily tidak tahu. Tapi satu yang pasti, Lily tidak mendorongnya, meskipun Veronica terus mengatakan itu.
"Bangunlah Nak." Hadid membantu menantunya itu untuk berdiri.
Lily menengadah menatap wajah mertuanya dengan sendu, ia pun menurut. Perlahan ia bangkit dari lantai, Hadid menuntun Lily untuk duduk di bangku yang tersedia di sana.
"Apa Ayah percaya padaku?" tanya Lily dengan tatapan kosong.
Hadid diam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan Lily. Hanya ada mereka berdua di taman pagi itu, Hadid tidak punya bukti apapun jika Lily tidak mendorong Veronica.
Ia ingin percaya. Namun, di sisi lain, Veronica terus mengatakan kalau Lily mendorongnya. Jika bukan Lily siapa lagi, apa mungkin Veronica menjatuhkan dirinya sendiri? sementara dia sedang hamil, dan Hadid tau bagaimana menantu keduanya itu menginginkan bayi itu.
__ADS_1
Lily tersenyum getir, diam sang Ayah mertua, sudah cukup menjawab pertanyaannya. Lagi pula tidak ada bukti dan saksi, siapa yang akan mempercayainya.
Perut Lily terasa diremas, rasanya sakit. Namun, Lily menahannya. Dia butuh Aric sekarang, keringat dingin membasahi kening dan leher Lily. Wajah wanita itu sangat pucat, tetapi Hadid tidak menyadarinya. Pria paruh baya itu fokus, menatap pintu di mana Veronica dirawat.
Suara langkah terdengar cepat mendekat, Lily hafal betul pemilik langkah itu. Lily menoleh kearah sumber suara, sebuah senyum tersungging di bibirnya yang pucat. Laki-laki itu semakin, mendekat kearahnya.
Aric melewati Ayahnya begitu saja, ia langsung menyongsong Lily.
"Sayang, apa yang terjadi? Kau tidak apa-apa kan?" Aric menakup wajah Lily, kemudian memeluk erat tubuh sang istri.
"Aku tidak ap-."
Lily terkulai lemas, wanita itu tidak sadarkan diri. Merasa ada yang aneh, Aric mengendurkan pelukan.
"Sayang, buka matamu. Lily ...Sayang!"
"Lily kenapa? apa yang terjadi?" cerca Hadid.
Aric tidak mengindahkan pertanyaan Hadid.
"Suster! Suster! tolong istri saya!" teriakannya pada tenaga medis.
Seorang tenaga medis yang melihat Aric, segera mengarahkan Aric untuk mengikutinya. Hadid yang bingung, ia bangkit dari duduknya tetapi tidak mengikuti Aric. Veronica sendirian di sini, ia tidak bisa meninggalkan menantunya begitu saja.
Aric terus menggenggam tangan Lily yang dingin, wanita itu terbaring lemah. Ia tidak mau beranjak dari sisi istrinya sedetikpun.
Meskipun Dokter memintanya untuk menunggu di luar sementara Dokter melakukan pemeriksaan, Aric tetap kekeh menemani Lily. Dokter pun terpaksa membiarkan Aric berada di sana, dengan catatan ia tidak menganggu jalannya proses pemeriksaan pasien.
"Dokter, bagaimana keadaan istri saya?" tanya Aric dengan raut wajah cemas.
"Istri Anda mengalaminya shock yang berimbas pada kehamilannya. Saya sarankan agar jangan membiarkan pasien terlalu banyak pikiran, untuk saat ini pasien harus istirahat dengan baik."
"Baik, Dokter."
"Kalau begitu saya permisi dulu."
Aric mengangguk, dokter itu kemudian pergi dari ruangan bersama susternya.
__ADS_1
Aric menatap lekat wajah Lily yang pucat. Dengan lembut, ia membelai kedua pipi tirus itu.
"Maafkan aku Sayang, aku lalai. Tapi, aku janji tidak akan aku biarkan seorangpun menyakitimu lagi."