
Heren mulai kembali bergejolak. Kasus Cloena Parviz mulai menyentuh perhatian publik hingga mancanegara. Permintaan penggantian provider meningkat tajam. Lebih dari itu, gelombang ujuk rasa memenuhi halaman depan gedung perusahaan Artech Media.
Cloena dijatuhi hukuman dua puluh lima tahun penjara oleh pengadilan. Hal yang ditakutinya terjadi, tidak ada keadilan untuknya juga bayinya. Gwen dan ibu Haley hanya dijatuhi sepuluh tahun penjara. Tentu hal itu menyulut kemarahan publik. Tak tahan dengan hasil pengadilan, Dira mengajak sahabat-sahabat artisnya mengumpulkan dukungan.
Foto batu nisan putri Cloe menjadi postingan media social artis-artis di Livetown. Hastag Leona Parviz menjadi trending topik. Komentar-komentar netizen membanjiri hampir setiap akun media social milik pemerintah.
Cloena hanya menyelamatkan diri, dihukum 25 tahun. Sementara Alvonz yang jelas merencanakan kematian untuk bayi kecil tak berdosa dihukum sangat ringan. Apa hukum negara ini masih waras?-
Aku menyesal menggunakan provider milik Alvonz dan Artech. Aku memperkaya pembunuh berdarah dingin.-
Mereka sekeluarga monster.-
Pergerakan masa yang semakin ganas akhirnya membuat keluarga Alvonz harus kembali menjalani sidang. Untuk kali ini, mereka tak bisa hanya mengandalkan uang. Orang yang menuntut mereka bukan hanya Dira Kenan, tetapi juga masyarakat dan para ibu juga komisi perlindungan anak. Hasilnya dalam sidang ulangan ini, mereka mendapat hukuman penjara seumur hidup sementara Cloena mendapat potongan sepuluh tahun.
Cloe berdiri di pintu keluar ruang sidang. Ia melihat Cynthia yang berdiri di sana sambil membawa keresek besar. Cloe berlari menghampiri mantan managernya itu, meski polisi sempat menahannya.
"Kau kurus sekali," ucap Cynthia dengan mata yang basah. Cloe hanya menggeleng. "Kau harus kuat, ya? Lima belas tahun lagi aku yang akan menjemputmu ke sini. Aku janji!"
__ADS_1
"Kenapa kamu selalu setia padaku? Aku ini bahkan sering kasar." Cloe melepas pelukannya.
Cynthia mengusap pipi Cloena. "Kita kenal dari SMP, mana mungkin aku pura-pura tak mengenalmu? Lagipula, siapa lagi yang mau berteman denganmu kalau bukan aku?" ledek Cynthia. Cloe manyun.
Saat ini Cynthia merasa senang melihat Cloe bisa tersenyum manis lagi seperti dulu, sebelum Haley menghancurkan hidupnya. "Aku kerja bersama Hugo sekarang. Dia butuh staff tambahan karena karirnya semakin naik. Aku janji akan mengirim makanan ke sini setiap minggu agar kau gemuk."
Senyum terkembang di bibir Cloena. Cynthia memberikan keresek di tangannya pada mantan artisnya itu. "Makan, ya? Jaga diri baik-baik. Kita gak bisa bicara lama," tambah Cynthia. Cloe mengangguk karena memang polisi yang mengawalnya sudah memberikan isyarat agar Cynthia menjauh.
Cloe memeluk Cynthia lagi. Kemudian ia mulai mengikuti polisi masuk ke dalam mobil tahanan. Cynthia menepuk jidat. Ia melupakan sesuatu. Wanita itu lekas mengejar Cloena meski harus kembali beradu mulut dengan polisi.
Setelah itu keduanya benar berpisah. Bulan depan, Cynthia mungkin baru bisa mengunjungi Cloena lagi karena batas kunjungan. Cynthia menarik napas panjang. Baginya ini adalah akhir bahagia karena setidaknya Cloena mendapat hikmah dari perjalanannya selama ini.
Sementara Bia dan Dira masih melanjutkan perjalanan menuju dokter kandungan. Selama di perjalanan, Dira selalu menanyakan hal yang sama. "Kamu ingin makan itu?" Padahal boro-boro ingin makan, Bia merasa kenyang karena Dira membelikan susu, roti juga makanan-makanan sehat lainnya agar Bia memakannya selama di jalan.
"Memang gak ada yang bisa kamu tanyain selain masalah makan?" protes Bia. Barulah Dira mulai merubah pertanyaannya walau tetap terdengar menyedihkan. "Ada yang kamu ingin banget gak sekarang?" begitu tanyanya hingga Bia menepuk jidat.
Ponsel Bia berdering. Ia mendapat telpon dari Cynthia. "Aku menunjukkan foto makam Leona pada Cloe. Dia terlihat senang sekali. Terima kasih, Nyonya Bia," ucap Cynthia.
__ADS_1
Karena Bia menyalakan tombol speaker, Dira bisa mendengar dengan jelas suara Cynthia. "Yang memindahkannya aku, loh! Bukan Bia, aku!" protes Dira.
Cynthia tertawa puas. "Sumpah dengar kamu ngomong, aku jadi mules Dira!" ledek Cynthia. Sudah lama ia tidak main ledek-ledekan dengan pria itu. Dira memang selalu dekat dengan siapapun. Maka dari itu, staff yang kenal dekat dengannya juga berani meledeknya.
"Jual mahal kamu, Cyn! Belum pernah saja kamu lihat pesonaku. Eh, lupa! Kamu tahunya yang memesona itu Matteo!" Dira balas meledek. Di sana yang terlihat senang memang hanya Drabia.
"Bukan tipeku!" tolak Cynthia lalu mematikan telponnya.
"Gak sopan! Main nutup saja!" protes Dira.
Bia geleng-geleng. "Mungkin dia mau ke toilet," jelas Bia.
Dira mengangkat sebelah alisnya. Ia masih terpusat pada kemudi mobil. "Kok kamu tahu dia mau ke toilet?"
"Lha, kan tadi dia bilang langsung mules dengar suara kamu. Makanya langsung ke kamar mandi," kelakar Bia sambil tertawa puas. Dira melirik istrinya dengan tajam. Syukur Dira berpikir Bia sedang hamil, kalau tidak pasti Bia jadi bulan-bulanan dicubit Dira.
🍁🍁🍁
__ADS_1