Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Kesal


__ADS_3

Mendengar ucapan Aric tentu saja itu sebuah perintah bukan pilihan. Mati atau ikut bergabung dengan white Clown. Dua pilihan yang sangat jelas bukan.


Akhirnya mereka memilih bergabung, karena memang Darren juga sudah du kalahkan oleh Aric. Mereka sudah kehilangan pemimpin. Aric memerintahkan Rey untuk membawa anggota baru itu ke markas Utara untuk pelatihan.


"Bagaimana dengan mata-mata itu?" tanya Aric pada Rey.


Keduanya sedang berdiri sambil mengawasi orang-orang yang masuk kw dalam mobil untuk diantar ke markas Utara.


"Saya sudah menghabiskannya dengan tangan saya sendiri Tuan," jawab Rey dengan nada puas.


"Urus semuanya dengan baik, aku harus pulang." Aric kembali melangkah masuk ke markas.


Sandiwara yang ia lakukan untuk Darren kali ini sangat besar, dia membiarkan ank buahnya terluka. Tapi untuk racun yang di gunakan oleh Darren. Tentu saja Aric sudah memberikan penawaran pada semua anak buahnya.


Aric melangkah ke kamar yang ada di markas, untuk membersihkan diri. Aric segera melepaskan semua baju yang melekat di tubuhnya, berdiri di bawah shower untuk menghilangkan darah yang mulai mengering di tubuhnya.


Setelah selesai membersihkan diri, Aric bergegas pulang. Ia tidak ingin membuat Lily khawatir seperti waktu itu, apalagi saat ini istrinya itu sedang hamil.


Dengan kecepatan tinggi Aric memacu kuda besinya. Ia ingin secepat mungkin sampai di rumah, tempat sia bisa melepaskan semua beban.


Setelah perjalanan cukup lama akhirnya dia sampai di mansion. Malam sudah cukup larut, ia yakin Lily sudah terlelap saat ini.


Setelah Aric memarkirkan mobilnya, ia bergegas turun. Kemudian masuk, ia membuka pintu utama dengan perlahan. Ruang tamu sangat gelap, tak ada satupun lampu yang menyala. Aric merasa heran, tidak biasanya mansion miliknya gelap gulita seperti itu.


"Apa Mateo telat bayar listrik?" tanya Aric sambil mengerutkan keningnya.


Ia berjalan pelan-pelan, agar tidak menabrak benda di sekelilingnya. Tangan Aric tembok, agar bisa berjalan dengan baik.


Tiba-tiba ... lampu ruang tamu menyala. Aric terkejut, ia melihat sekeliling dan pandangannya terhenti saat melihat sosok perempuan duduk di sofa, matanya tajam menatap Aric.


Aric menelan ludahnya kasar, ia merasa sesuatu akan terjadi. Wanita itu sedang dalam mode tidak baik-baik saja.


"Sayang, kenapa belum tidur?" tanya Aric dengan senyum paling manis yang ia punya.


Lily diam tak menjawab, ia melipat kedua tangannya. Dia masih menatap Aric dengan level kemarahan enam puluh persen.


Aric melangkah mendekati istrinya, dengan senyum manis yang tak lupa ia sunggingkan di bibirnya.

__ADS_1


"Kita ke kamar, istirahat ya. Ini sudah malam, nggak baik lho tidur malem-malem," bujuk Aric.


Tangan Aric terulur hendak mengendong Lily, tetapi dengan cepat Lily mundur dan menepis tangan Aric.


"Aku bisa sendiri!" tegas Lily.


"Tapi aku ingin membantumu."


Lily bangkit dari duduknya.


"Aku nggak butuh bantuan dari pembohong," ujar Lily ketus tanpa menoleh pada Aric.


Aric mengerutkan keningnya, ia tidak mengerti dengan ucapan sang istri. Kebohongan apa lagi yang di maksud, apa karena dia pulang larut lagi.


"Bohong, bohong apa. Sayang?" tanya Aric sambil mengejar langkah sang istri.


Lily masih diam, dia melangkah semakin cepat. Sesampainya di kamar, Lily masih bungkam. Dia masih menatap Aric dengan marah.


"Sayang."


"Nggak usah sayang-sayang!" bentak Lily.


"Aku, tentu saja aku pergi kw kantor Sayang."


"Kantor? jangan bohong. Kau bahkan tidak pernah ada di sana!"


Lily memalingkan wajahnya, ia sungguh sangat marah pada Aric.


Hari ini Lily sengaja ingin memberikan kejutan pada Aric. Ia ingin ingin menjalani hubungan suami-isteri yang selayaknya pasangan lain. Saling mencintai dan mengasihi, Lily sudah memutuskan. Ia akan membuka hati, menerima perasaan dan cintanya untuk Aric.


Lily menyiapkan makan siang untuk Aric, ia memasak dengan tangannya sendiri. Lily meminta sopir untuk mengantarkan sia ke kantor Gulfaam, tempat dimana Aric berkerja.


Namun, sesampainya di sana ia tidak bertemu dengan Aric. Saat ia mengatakan ingin bertemu dengan CEO perusahaan itu, karyawan di sana malam mempertemukan dia dengan seorang laki-laki mesum. Dia memperlakukan Lily dengan tidak sopan.


Aric terkejut, ia kemudian mengerti kenapa Lily marah.


"Apa kau dari perusahaan Gulfaam, Sayang?" tanya Aric dengan lembut.

__ADS_1


Lily masih bungkam seribu bahasa. Tangan Aric terulur untuk memeluk pinggang Lily. Namun, wanita itu segera menepisnya.


Bukan Aric namanya jika menyerah begitu saja. Sekali lagi, ia memeluk Lily. Kali ini lebih erat, hingga wanita itu tidak bisa melepaskan tangannya.


"Kau mau membuat aku mati sesak ya??!"


"Sayang, maafkan aku. Aku belum menjelaskan masalah keluargaku padamu, aku mohon padamu maafkan aku." Aric menenggelamkan wajahnya di ceruk leher Lily.


"Kau bukan CEO perusahaan itu kan? " Lily akhirnya membuka suara untuk bertanya.


"Aku pemimpin di sana, tapi bukan aku yang duduk di kursi itu," jawab Aric.


Alis Lily menyatu, ia belum paham dengan jawaban Aric.


"Lalu siapa pria mesum yang duduk di sana?"


"Pria mesum? Kau bertemu dengannya? kau tidak apa-apa kan? Apa sia melakukan sesuatu padamu? Apa dia menyentuhmu?" cerca Aric. Pria itu melepaskan pelukannya, ia membolak-balikkan tubuh Lily untuk memeriksanya.


"Apa sih? Nggak lah, cuma cara dia bicara sangat tidak sopan, dan matanya jelalatan kesana-kemari," ujar Lily kesal.


Ia ingin betul bagaimana pria itu menatapnya. Tatapan pria itu seperti seekor serigala, yang sedang melihat daging segar di hadapannya.


"Syukurlah, kalau begitu. Lain kali jangan pernah bertemu dengannya, lebih baik kau menjauh dari." Aric merengkuh Lily dalam pelukannya dengan perasaan lega.


"Memang siapa dia? kenapa aku harus menjauhi pria itu?"


"Dia Adikmu," jawab Aric datar, sebenarnya dia sangat enggan untuk membahas itu.


Namun, ia merasa jika sudah saatnya Lily tahu tentang keluarganya.


"Apa? dia Adikmu!" beo Lily.


Aric mengangguk mengiyakan, ia mempererat pelukannya lada Lily, sambil mengusap lembut rambut hitam nan harum milik sang istri. Aric mengambil nafas dalam, bersiap untuk bercerita.


"Kami bersaudara, satu ayah tapi beda ibu. Aku adalah anak dari istri pertama ayah. Tapi, pernikahan ibu tidak diakui oleh keluarga ayah. Ibu hanya wanita biasa, sedangkan ayah anak dari seorang pengusaha besar. Satu-satunya menantu yang diakui adalah ibu dari Ahnan Gulfaam, istri ayah yabg kedua."


Lily hanya diam, ia mendengarkan cerita Aric dengan saksama. Lily bisa merasakan degup jantung Aric semakin, cepat. Ia tahu suaminya itu sedang berusaha mengontrol emosi saat ini.

__ADS_1


Lily membalas pelukan Aric dengan erat.


"Jangan lanjutkan jika kau tidak ingin bercerita," ujar Lily.


__ADS_2