
Aric melepaskan pelukannya dan sang istri, dengan lembut dia menuntun lembut tangan Lily. Mengarahkan wanita itu untuk duduk di kursi kebesaran yang ada di sana.
"Semua ini milikmu, Sayang. Aku sudah pernah bilang, aku akan membalas tiap hinaan yang pernah kau terima." Aric memutar kursi kerja yang diduduki Lily.
Pria itu merunduk, dengan kedua tangan yang berpegang pada kedua sisi kursi. Lily menatap lekat wajah suaminya, dengan mata yang berkaca-kaca. Ia tidak pernah menyangka Aric akan bertindak sejauh ini, untuk janji yang pernah ia ucapkan.
"Kenapa kau menatapku seperti itu, Sayang? Apa semakin cinta padaku?" tanya Aric dengan percaya diri.
"Iya, aku sangat mencintaimu."
Cup
Lily menyatukan bibir mereka. Aric cukup terkejut dengan ciuman yang Lily berikan, ia biarkan Lily memimpin penyatuan bibir mereka.
"Emh..." Tak sabar, Aric sedikit mendorong tubuhnya, mencium Lily lebih dalam. ******* bibir ranum itu dengan kasar dan penuh semangat.
Siapa suruh Lily menggodanya, sekali colek saja, kejantanan Aric sudah meronta. Lily seperti candu yang selalu membuat dia ingin. Lily mengalungkan kedua tangannya di leher Aric, Aric melepaskan pagutan bibir mereka. Ia mengangkat tubuh Lily, kemudian berganti duduk di kursi, sementara sang istri ia dudukan di pangkuannya.
Lily tersenyum, bibir keduanya kembali tertaut, semakin dalam dan panas. Suara decakan mulai memenuhi ruangan itu, lidah Aric menyusup masuk mengabsen tiap inci yang ada dalam mulut manis itu. Suara ketukan pintu dari luar, membuat Lily sadar di mana mereka berada, Ia mendorong tubuh Aric menjauh.
"Ck, selalu saja," keluh Aric kesal.
"Kita lanjutkan di rumah," ujar Lily menenangkan.
Aric hanya bisa menghela nafasnya, ya ada sesuatu yang lebih penting, yang harus ia lakukan sekarang.
Tok ..tok ..
"Masuk," titah Aric datar.
Perlahan pintu terbuka, Hakim masuk dengan Guntur dan istrinya yang mengikuti di belakang. Ana menatap tak suka pada Lily yang duduk bermanja dipangkuan Aric, sementara suami, Guntur. Laki-laki itu menunduk, antara malu dan menyesal.
"Apa nyaman duduk seperti ini Sayang?" tanya Aric pada istrinya.
"Aku mau duduk di kursi saja," jawab Lily manja.
__ADS_1
Aric membantu sang istri untuk berdiri, setelah itu ia mempersilakan Lily duduk di kursi setelah ia bangkit.
"Tuan Guntur Wiguna dan Nyonya Ana, apa kalian tahu kenapa saya ingin bertemu dengan kalian hari ini?" tanya Aric tiba-tiba.
Guntur sedikit mendongakkan wajahnya, menatap wajah Aric yang sedang menatapnya dengan tajam.
"Maaf saya tidak tahu, Tuan," jawab Guntur dengan sedikit tergagap, suhu di ruangan itu terasa begitu dingin bagi Guntur.
Suara langkah sepatu Aric beradu dengan lantai marmer, terdengar sangat jelas mendekat kearah Guntur. Pria itu berjalan memutar, kemudian berhenti tepat dibelakang Guntur.
"Anda pasti sangat mengenal wanita cantik yang sedang duduk di sana," ucap Aric penuh penekanan.
Guntur mengangkat kepalanya, menatap lurus ke depan. Mata Lily dan sang Ayah bertemu sesaat, sebelum wanita hamil itu memalingkan wajahnya. Hati Guntur bagai tersayat pisau, sebegitu bencinya kah Lily dengan dirinya. Ia pun kembali menunduk.
"Dia putri saya, Lily," jawab Guntur lirih.
"Putri?"
Aric mengerutkan keningnya, tawanya seketika pecah mendengar jawaban Guntur.
Mata tua Guntur berkaca-kaca. Ana pun ikut menunduk, bukan karena malu. Tetapi dia lebih merasa takut dengan apa yang akan dilakukan pria itu pada mereka.
Tidak, Ana tidak bisa diam saja. Ia harus bisa melakukan sesuatu.
"Itu sudah berlalu Tuan, lagi pula kami mengusirnya karena dia bukan wanita baik-baik. Susah payah kami membesarkannya, tapi dia malah mencoreng nama baik keluarga Wiguna, dengan hamil tanpa laki-laki tidak jelas," ujar Ana membela diri.
Lily yang mendengarkannya itu, menunduk. Luka di hati Lily kembali terasa sakit. Aric yang melihat perubahan wajah pada istrinya merasa tidak suka.
"Apa kau pikir anak perempuanmu yang lain lebih terhormat dari Istri saya?" Aric berjalan kedepan, dia berdiri tepat dihadapan mertua angkatnya itu.
"Tentu saja," jawab Ana dengan membusungkan dadanya, bangga.
Aric menaikkan satu alisnya, dia merasa heran dengan wanita paruh baya itu. Bagaimana bisa dia bangga, dengan kelakuan anak perempuannya? Atau jangan-jangan dia tidak tahu, dengan apa yang Cindy lakukan selama ini.
"Anda begitu percaya dengan putri Anda itu?" tanya Aric memastikan.
__ADS_1
"Ya, saya mendidiknya dengan sangat baik. Dia juga keturunan Wiguna, pastinya dia adalah gadis yang sangat berkompeten dalam hal apapun. Tidak seperti wanita tidak jelas bibitnya, meski dirawat di istana tidak akan mengubahnya menjadi lebih baik," dengan ketus Ana sengaja menyindir Lily.
"Bu, jaga ucapanmu!" bentak Guntur.
"Apa! yang aku katakan memang benar kan, Cindy anak kita. Jelas bibitnya, kalau dia-."
Plak
Sebuah tamparan mendarat di pipi Ana, cukup keras sampai wanita itu tertoleh. Guntur segera memegang pipi sang istri yang memerah.
"Aric!" pekik Lily terkejut. Ia tidak menyangka Aric akan melakukan hal itu pada ibu angkatnya.
"Jaga mulutmu! apa kau pikir anakmu itu wanita baik-baik, Heh! Dia hanya seorang J*lang yang siap membuka sel***angan kapan saja!"
"Tidak, anak saya tidak seperti itu Tuan," bantah Guntur cepat.
"Jangan terlalu yakin. Hakim!" Aric mengulurkan tangannya pada sang asisten.
"Ini Tuan." Hakim memberikan amplop coklat tebal Aric.
Aric mengeluarkan isi amplop itu, lalu melemparkannya ke arah Guntur. Lembaran foto itu berhamburan di lantai, Mata Guntur terbelalak saat melihat foto-foto yang ada di lantai.
"Tidak! Ini pasti hanya editan, semua ini bohong!" teriak Ana setelah melihat foto Cindy yang tersebar di lantai.
Foto-foto vulgar Cindy bersama beberapa pria yang sudah berumur, foto itu di cetak dari hasil tangkapan kamera pengawas di hotel, klub dan beberapa di ambil langsung oleh orang suruhan Aric.
"Tuan, apa sebenarnya maksud Anda memanggil kami kemari?" tanya Guntur dengan lemah.
Kaki tuanya terasa lunglai. Pria paruh baya itu terduduk dilantai, ia begitu shock melihat semua foto itu.
"Aku hanya ingin memberimu kesempatan berkerja di perusahaan ini, dengan syarat kau harus meminta maaf pada Lily. Istriku, Dialah pemilik sah dari perusahaan Wiguna!" tegas Aric.
"Dan aku ingin menjelaskan bahwa perusahaan ini belum cukup untuk menutup semua hutang Anda, jadi ... saya akan mengambil beberapa aset milik Anda," ucap Aric dengan penuh penekanan.
Lily menatap iba pada ayahnya, pria itu terlihat sangat menyedihkan. Duduk di lantai dengan tatapan sendu, wanita itu menunduk dengan air mata yang tal berhenti mengalir.
__ADS_1