
Jujur saja, seumur hidupnya. Meskipun Aric hidup susah dengan ibunya dia tidak belum pernah melihat makanan seaneh ini.
Melihat ekspresi wajah dan diamnya Aric. Lily merasa sedih, sepertinya Aric tidak menyukai sarapan buatannya. Padahal menurut Lily telur mata sapi dan selai kacang adalah kombinasi paling sempurna untuk roti panggang.
"Kenapa? kau tidak suka ya. dengan masakan ku." Lily tertunduk lesu, matanya sudah menggembun dan air mata wanita itu siap untuk jatuh kapan saja.
Aric yang tersadar dengan pertanyaan dari istrinya, segera memasukkan makanan aneh itu kedalam mulutnya.
"Emh ... ini enak sekali, Istriku paling pandai memasak," ujar Aric dengan mulut yang penuh.
Ia berusaha menahan diri agar tidak muntah, perpaduan rasa yang sungguh mencekik tenggorokannya. apalagi telur mata sapi itu ternyata sangat asin.
"Benarkah? kau suka?" wajah Lily berbinar seketika, mendung di wajah wanita cantik itu hilang tak berbekas.
"Ini sangat lezat." Aric mengunyah dengan cepat.
Hanya itu yang bisa ia lakukan, kunyah telan dan dorong dengan air sebanyak mungkin.
Setelah menyelesaikan sarapan dengan menu baru kreasi sang istri. Mereka berdua pun pergi ke rumah sakit. Namun, perjalanan tidak semulus yang Aric bayangkan.
Di sela perjalanan mereka, Lily selalu meminta untuk berhenti saat ia melihat sesuatu yang unik menurutnya. Ya, seperti wanita hamil pada umumnya, dia dalam mode ngidam sekaligus suka mengeksplorasi apa pun yang ia lihat.
"Aric lihat balon itu lucu deh," ujar Lily sambil menunjuk.pqda pedagang balon karakter di lampu merah.
"Ya, lumayan," jawab Aric tanpa menoleh , pria itu fokus melihat jalanan didepannya, dan sesekali melirik lampu lalulintas.
"Beli itu ya," pinta Lily dengan nada sedikit merengek.
"Tapi tadi sudah beli kan, kamu coba lihat di kursi belakang. Ada beberapa balon yang kamu beli, Sayang," jawab Aric datar.
"Tapi ini beda, yang jual ada kumisnya. kalau tadi kan nggak ada," tukas Lily.
"Tapi-"
"Kau mau belikan atau tidak?!" potong Lily cepat, nada bicaranya yang semula lembut berubah sedikit meninggi.
Aric pun segera menoleh, do lihatnya raut wajah itu sudah mulai terlihat tidak bersahabat.
"Iya kita beli, aku putar arah dulu ya, Sayang."
"Gitu dong, dari tadi kek."
"Iya maaf." Aric segera memutar arah mobilnya untuk kemudian menepi di sisi jalan tempat penjual balon itu mangkal.
__ADS_1
Setelah membeli Balon yang Lily mau mereka melanjutkan perjalanan. Berkali-kali mereka harus berhenti, karena keinginan Lily.
Berfoto dengan badut, manusia silver sampai polisi lalu lintas pun tak luput dari perhatian Lily. Aric pun menuruti setiap kemauan Lily dengan sabar.
Saat Aric tahu Lily hamil, ia pun segera belajar, membaca beberapa artikel dan buku tentang kehamilan. Jadi dia sudah ada pandangan tentang ngidam saat hamil. Aric pun berjanji akan menuruti semua keinginan Lily asalkan itu tidak membahayakan sang istri dan janin mereka.
Setelah perjalanan singkat yang menjadi panjang, akhirnya mereka sampai di rumah sakit. Aric membantu Lily turun dari mobil dengan lembut dan hati-hati. Kedatangan mereka disambut oleh Sam dengan mata panda.
"Kalian akhirnya datang, aku kira kau tidak jadi datang Aric," sindir Sam.
Karena menunggu manusia laknat satu ini, Sam tidak berani untuk tidur. Aric benar-benar menguji kesabarannya kali ini.
"Memangnya kenapa? Ada masalah?" tanya Aric sinis.
"Tentu saja tidak, mari ikut saya. Akan saya antar kan langsung ke Dokter Ima." Sam melangkah mendahului Aric dan Lily untuk memandu jalan.
Hari ini demi Aric, Sam meminta teman dokternya yang sedang cuti agar mau untuk kembali bekerja.
Setelah melewati lorong, mereka pun sampai di sebuah ruangan. Sam mengetuk pintu beberapa kali sebelum masuk.
"Dokter Ima, saya sudah membawa pasiennya lemari," ucap Sam.
"Ya, silakan masuk," sahut seorang wanita dari dalam ruangan itu.
"Baik.".
Seorang wanita cantik menyambut kedatangan mereka, dia adalah Dokter Ima.
" Selamat pagi. Tuan, Nyonya silahkan duduk." Sapa Dokter cantik itu dengan lembut.
"Selamat pagi Dokter. "Jawab Lily.
Aric membantu sang istri untuk duduk, sebelum ia sendiri duduk.
"Apa ini kehamilan Pertama?"
"Tidak Dok, ini anak kedua saya," jawab Lily cepat.
Dokter Ima tersenyum.
"Nyonya silahkan berbaring di sana, kita akan melakukan USG."
"Baik Dokter."
__ADS_1
Lily bangkit dari duduknya, ia kemudian berjalan dan merebahkan tubuhnya di atas brankar. Semua apa yang Lily lakukan tak lepas dari bantuan Aric, pria itu sangat menjaga istrinya.
"Permisi Nyonya, Maaf ya saya buka sedikit kemejanya." Lily mengangguk iya.
"Iya Dokter."
Tangan Dokter Ima segera menyibakkan sedikit kemeja Lily sedikit keatas hingga atas pusar. Kemudian Lily diminta untuk sedikit menurunkan celananya ke bawah.
Aric berupaya menahan marahnya, sebenarnya tidak suka melihat pemandangan ini. Sungguh tidak rela rasanya tubuh Lily dilihat orang lain, meskipun dia seorang dokter perempuan.
Dokter Ima, mengoleskan gel yang terasa dingin di perut bagian bawah pusar Lily. Ia kemudian mengarahkan alatnya di atas perut Lily.
Laya monitor sudah mulai menampilkan apa yang ada dalam rahim Lily.
"Selamat Tuan, Nyonya. Usia kandungan Anda sudah 6 minggu, bisa kita lihat di sini bentuknya sudah seperti kecebong," ucap Dokter Ima sambil menunjuk ke arah monitor.
Meskipun tidak terlalu paham, Aric melihat layar itu dengan seksama. Ia hanya melihat sebuah lingkaran hitam dengan sebuah titik berekor di dalamnya.
"Di mana tangan dan kakinya Dokter?" tanya Aric dengan rasa penasaran.
Dokter Ima tersenyum, ia menghentikan kegiatannya sebelum menjawab pertanyaan Aric.
"Pada usia 7 minggu janin akan mulai terbentuk tangan dan kaki, rahim juga akan berukuran dua kali lipat. Pada minggu ke 8 hingga ke 10 janin telah berhasil melalui masa kritis dari perkembangan organ dan struktur tubuhnya. Ukuran janin kurang lebih sekitar 3 centimeter panjangnya, janin pada rahim ibu akan semakin banyak bergerak dan semakin terlihat seperti manusia," Dokter Ima menjelaskan pada Aric dengan sabar. Aric mendengarkan penjelasan dokter, kemudian mengangguk kecil.
Rasanya sungguh bahagia, ada kehangatan yang terasa dalam hatinya. Rasanya sungguh luar biasa, melihat kehidupan baru, seorang Aric kecil tumbuh di rahim istrinya.
Aric pun membantu Lily untuk bangun dari brankar dengan hati-hati, setelah Dokter Ima selesai membersihkan gel di perut Lily.
"Ini resep vitamin untuk Anda Nyonya, juga anti mual. Berjaga-jaga saja, pada trimester pertama biasanya akan sering mual." Dokter Ima memberikan secarik kertas resep untuk Lily.
"Terima kasih Dokter," ucap Lily.
"Sama-sama, ingat untuk banyak istirahat dan tidak stress, usahakan Anda selalu bahagia." Lily mengangguk mengiyakan ucapan Dokter Ima.
Sepasang suami-isteri itupun keluar dari ruang praktek Dokter Ima, untuk mengambil obat dan vitamin.
"Kenapa kau tadi bertanya seperti itu?" tanya Lily ketus.
"Bertanya apa, Sayang?"
"Bertanya tentang tangan dan kaki bayi! Mana mungkin ada, usianya saja baru beberapa minggu."
"Maaf aku tidak tahu," ucap Aric pasrah.
__ADS_1
"Anak sudah mau dua masih nggak tau," ketus Lily.
Wanita itu melangkah cepat meninggalkan Aric..