
Cynthia tertegun ketika membuka pintu dan menemukan pria berjas hitam berdiri di sana. Ia pikir selamanya tidak akan mendapati pria itu datang menemui artisnya.
"Ada apa? Kupikir kamu marah," tanya Cynthia heran.
Cloe menoleh ke arah pintu akibat mendengar ucapan Cynthia. Ia sama kagetnya melihat pria itu berdiri di sana. "Biar aku bertemu Cloena. Ada yang perlu aku tanyakan," ucap pria itu datar.
Cynthia tak banyak berharap. Ia sudah tahu perasaan pria itu pada Cloe telah lama mati. Bagian yang tersisa dari hubungan keduanya hanya kebencian dan ketidak percayaan.
Cynthia berbalik. Ia memastikan jika orang yang ingin pria itu temui memberikan izin. "Cloe, ada Dira," ucap Cynthia.
Cloe menarik napas. "Biarkan saja dia masuk," izin Cloe. Tak menunggu lama, Dira melangkah masuk sementara Cynthia langsung menyadari keadaan dan memutuskan menunggu di luar. Ia berharap meski Dira tak kembali pada Cloe, wanita itu mendapat kata maaf. Setidaknya pikiran Cloe lebih tenang.
"Kau pasti kecewa karena aku tak mati, kan?" tanya Cloe.
Dira tak memberikan respon. Pria itu hanya duduk di kursi yang bersebelahan dengan tempat tidur pasien. Wangi parfum Dira tak pernah berbeda. Ia selalu mengenakan parfum dari merk dan jenis yang sama. "Kau memang tak pernah berubah, seperti parfummu," ucap Cloe lagi basa-basi.
"Jangan salah paham. Aku ke sini bukan untuk nostalgia denganmu. Kau harus menjelaskan banyak hal sebelum aku tahu sendiri," timpal Dira dingin.
Pandangan Cloe menurun. Apa yang bisa ia harapkan lagi. Tuhan sedang menyadarkan jika pilihan jalannya selama ini sudah salah. Merk parfum yang selalu Dira pakai dulu pernah dibelikan Bia di hari ulang tahun pacaran mereka yang pertama.
__ADS_1
Dira melempar sebuah foto ke pangkuan Cloena. Wanita itu untuk kedua kalinya terperanjat. Itu fotonya bersama Haley 5 tahun lalu. Foto yang ia simpan sebagai alat untuk mengendalikan Haley.
"Jadi kamu yang menggeledah apartemenku?" tegur Cloena. Kembali Dira hanya diam, meski Dira tak tahu. Ia biarkan Cloena mengungkap semuanya dulu. "Apa sebegitu bencinya kau sampai mengambil semua barang yang menjadi rahasiaku? Untuk apa? Ingin menghancurkanku?"
"Kalau iya kenapa? Kalau tidak kenapa?" pancing Dira. Dengan santai Dira melipat tangan di dada lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi.
"Aku tahu aku salah. Aku tahu menipu kamu dengan pesan dari wanita itu, tak bisa kamu maafkan. Apa kamu sampai setega ini menghancurkan hidupku? Bukti-bukti itu, satu-satunya cara aku bertahan hidup dan malah kamu berikan pada Haley?" bentak Cloena.
Dira balas menatap tajam Cloe. "Kamu sekarang bisa merasakan bagaimana rasanya di posisi Bia? Karena perbuatan kamu, dia hidup di jalan, membesarkan anak sendiri, anakku harus jadi yatim dan dia dihina orang lain. Kamu pikir Bia tidak menderita?" Dira balas membentak.
Mata Cloe basah. "Aku tidak tahu dia hamil! Kalau tahu, aku gak akan melakukan itu!"
"Sekarang katakan padaku, apa tujuan Haley Alvonz menyuruhmu pura-pura mendapat pesan dari Bia?" paksa Dira sambil memegang pergelang tangan Cloe dengan kuat. Cloe menjerit karena rasanya lumayan sakit.
"Dia tak menyuruhku," jawab Cloe sambil mengucurkan air mata.
"Jangan bohong kau! Aku tak peduli kalau selama ini kau membohongiku. Namun, sampai aku tahu kau bersekongkol dengan pria itu untuk menghancurkan keluargaku, menyakiti istri dan anakku ... aku pastikan akan mengubur kalian hidup-hidup di lubang yang sama."
Dengan kasar, Dira menghempaskan lengan Cloe. Jelas Cloe bergetar hebat. Ia sama sekali tak tahu Dira akan semenyeramkan itu jika amarahnya tak tertahankan.
__ADS_1
"Aku berkata jujur. Aku bisa pastikan Haley tak memiliki maksud apapun padamu. Aku yang membuat kau terlibat masalah ini. Aku yang salah. Karena itu aku mohon ampun padamu. Aku tahu daripada Haley, kau masih punya perasaan."
Saat mengatakan itu, Dira bisa melihat wajah pucat Cloe dan rasa takutnya. Dira mencoba menarik napas panjang lalu mengembuskannya pelan. Emosinya mulai menurun.
"Jujur aku bingung. Aku tak ingin berurusan denganmu lagi. Namun, hatiku masih belum bisa menerima mengingat apa yang Bia dan anakku alami selama tiga tahun ini. Aku gak bisa maafin kamu Cloe. Kalau bisa, aku ingin kamu merasakan apa yang Bia pernah alami juga," tekan Dira.
Pria itu bangkit. "Kau yang menjamin dengan kata-katamu bahwa Haley tak akan macam-macam denganku. Hanya jika sampai kau dan dia benar-benar mencari masalah, aku tak akan mengampuni kalian. Aku pastikan kau dan dia menderita sampai tak ingin hidup lagi," ancam Dira.
"Oh ya, satu lagi. Aku tak tahu siapa yang menggeledah rumahmu. Foto itu aku dapatkan dari Matteo. Dia bilang tak sengaja menemukannya di rumahmu saat membantu Cynthia memeriksa barang. Sepertinya kau mencari masalah dengan banyak orang, sudah saatnya kau belajar meminta maaf," ungkap Dira.
Setelah berkata begitu, Dira meninggalkan kamar tempat Cloena dirawat. Dira berpapasan di lobi dengan Cynthia. "Dir, aku mohon jangan sakiti dia. Cloe sudah sadar atas apa yang ia lakukan," ucap Cynthia.
Dira melirik wanita itu. "Kau, kenapa masih peduli dengannya. Apa kau lupa dengan apa yang ia pernah lakukan?"
Cynthia menggeleng. "Kalau bukan aku, siapa yang akan bersamanya sekarang?"
Dira memalingkan wajah. "Andai jika Bia punya teman sepertimu tiga tahun lalu, aku tentu tak akan semarah ini pada Cloena."
🍁🍁🍁
__ADS_1