
"Kenapa?" tanya Divan. Baik Bia atau Dira sama-sama memintanya duduk di sofa ruang keluarga. Anak itu belum diajak bicara tentang rencana masa depan pasangan itu.
Mata Bia menyoroti suaminya. Ia tak tega untuk mengatakan secara terus terang tentang keputusan yang Dira ambil. Hanya saja, mereka juga tak bisa memaksa Divan. Ia harus dimintai persetujuannya meski harus melalui pembicaraan panjang.
"Kalau gak ngomong, Divan cerita saja," tegas Divan. Kebetulan hari ini dia sedang merasa senang. "Divan loh, bisa tanda tangan juga. Bisa kasih tanda tangan sama Kakak cantik," cerita Divan sambil memegang kedua pipinya saat mengucapkan kata cantik.
"Kakak cantik?" tanya Bia penasaran. Dira menyikut lengan istrinya. Kalau tema mereka berubah, gagal sudah maksud pembicaraan ini.
Kepala Divan mengangguk. "Iya, kakaknya Vina. Cantik loh, kayak mamah kecil dulu. Divan suka," ucap Divan sambil tersenyum.
Ucapan yang mampu membuat papahnya menggeleng. "Kamu masih kecil masa sudah tahu kakak yang cantik?" protes Dira.
"Mamah cantik, gak?" tanya Divan. Tanpa berpikir, Dira mengangguk. "Kakak Silvi kayak mamah, kakak Silvi cantik," tegasnya.
"Jadi bukan Davina yang cantik, tapi kakaknya?" tanya Bia sambil cekikikan. Ia merasa sedang menginterogasi putranya masalah calon istri.
Divan menunduk. "Vina teman Divan. Vina juga cantik. Kakak Silvi lebih cantik," tegasnya.
"Ini ceritanya mereka sedang mengalami kemelut kisah cinta segitiga?" tanya Dira sambil berbisik. Tak lama ia cekikikan.
"Pah, anak kita masih kecil. Dalam beberapa kasus anak seusia ini sudah ada ketertarikan pada lawan jenis. Ini masalah yang harus kita sikapi serius," tegas Bia.
Kali ini Bia mendekati putranya. "Jadi Divan suka kakak Silvi karena cantik?" tanya Bia.
__ADS_1
Divan mengangguk. "Mirip mamah loh," tegasnya.
Jawaban yang memberikan Bia pemahaman. Itulah, melihat orangtuanya mesra kadang anak berpikir jika punya pasangan itu bahagia. Apalagi jika panutan itu ia dapati dari ibu dan ayahnya. Ia biasa akan mencari pasangan seperti orang tuanya.
"Diandre dan Divan mirip gak?" tanya Bia.
"Ganteng Divan, sih," jawab anak itu polos. Ia berpikir beberapa saat. "Mirip dikit," ralatnya.
"Apa sikapnya sama? Seperti ini, Divan suka sekali sayur, Diandre gak suka. Divan suka marshmallow, Diandre suka coklat," jelas Bia.
"Ouh, beda." Anak itu sudah mendapatkan konsepnya.
"Iya, meski wajah mirip, sikap orang bisa berbeda. Mamah mirip dengan kakak cantik itu, apa sikapnya bisa sama?" tanya Bia. Divan menggeleng.
"Kakak cantik bukan mamah," tegas Divan. Ia berdiri lalu memeluk mamahnya. "Mamah Divan satu saja. Mamah Bia yang cantik," pujinya.
"Belum. Jadi Divan gak cari yang cantik-cantik dulu. Tangannya belum lebar kayak papah," rangkumnya.
Bia mengangguk. Ia belai rambut lurus Divan. Anak itu menyandarkan tubuh di pelukan ibunya. "Terus ini bilang apa ke Divan?" Anak itu baru sadar jika tujuan orang tuanya ingin mengajaknya berbicara akan sesuatu.
"Van, papah tahu Divan sudah senang main dengan teman. Divan juga punya sahabat kayak Davina. Hanya ada yang namanya perpisahan. Mungkin supaya Divan ikut mamah papah, Divan harus pisah sama teman di sekolah sekarang," jelas Dira.
Divan terdiam. "Napa? Ada suka mamah lagi?" tanya Divan curiga. Lekas baik Dira dan Bia menggeleng.
__ADS_1
"Begini, kita mau pindah rumah lagi. Kali ini bukan ke Emertown. Kita mau naik pesawat jauh ke Amerika. Papah akan kerja di sana," jelas Dira.
Wajah Divan mengerut. Jelas tak mudah baginya untuk berpisah dari temannya sekarang. Divan sudah senang bermain dengan temannya. Apalagi Davina. Ia sudah betah ikut main di rumah Davina.
"Gak mau, Divan mau main sama teman-teman," keluh anak itu.
Bia memeluk Divan. Jelas terlihat wajah kecewa putranya. "Di sana ada Kris. Temannya bos papah yang tak punya teman main. Kris sangat senang waktu papah bilang mau bawa Divan ke sana," cerita Dira.
Divan tetap menggeleng. "Gak mau! Divan suka main sama Davina saja. Teman Divan banyak," tegas Divan.
"Papah harus kerja di sana, sayang. D-zone juga akan dibantu penjualannya oleh papahnya Kris. Jadi merk pakaian Divan semakin banyak orang beli. Banyak juga orang kenal dengan Divan," tambah Dira.
"D-zone beli, polower Divan banyak juga. Beli banyak, uang banyak?" tanya Divan.
Dira mengangguk. Ia tidak salah, tahu benar apa kelemahan anaknya itu. "Mau. Pindah saja," jawab Divan.
Dira tersenyum. Ternyata mudah juga merayu putranya. "Lalu Davina bagaimana?" tanya Bia.
Divan nyengir. "Divan bisa telpon Davina. Video call. Pulsa banyak kalau uang banyak," serunya.
"Apalah anakku ini kecil-kecil jago akuntansi," puji Dira.
"Papah Kris punya pesawat jet loh, yang cepat itu pesawatnya," tambah Bia merayu.
__ADS_1
Mata Divan berbinar. Uang, popularitas dan pesawat mana bisa ia tolak. "Ke Amerika sekarang saja," sarannya.
🍁🍁🍁