Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Apa Pantas Kau Disebut Ayah?


__ADS_3

"Cloe, kamu tahu keadaanku waktu itu. Keluargaku hampir bangkrut dan hanya keluarga Gwen yang bisa membantu. Aku tak punya pilihan lain. Aku tak mau jatuh miskin seperti keluargamu," timpal Haley.


Cloe tertawa getir. Ia letakan telapak tanga di atas meja. "Karena takut miskin kamu sampai mengorbankan cinta kita? Tega kamu Haley! Padahal kamu tahu sendiri, aku bilang aku siap menerima kamu apa adanya. Nyatanya apa?"


Haley mengusap tengkuk yang teras berat. "Dengar, jangan bodoh. Jika saat itu aku tak menikahi Gwen, apa kau bisa jadi artis? Jangan munafik, akhirnya kau mengejar Dira Kenan karena dia lebih kaya dariku, kan?"


Cloe tertawa puas. "Kau menyesal aku pergi dengannya? Baguslah! Aku memang ingin begitu, membuatmu menyesal meninggalkan aku dan pergi dengan Gwen! Agar Gwen bisa melihat jika hidupku jauh lebih baik darinya," tekan Cloe.


Haley berdiri. Ia melangkah menuju Cloena dan memegang tangannya. Ia masih dirundung kekecewaan saat Cloe tiba-tiba bersikap manis dan memintanya memberikan sebuah nomor untuknya. Cloe beralasan jika ia suka dengan nomor itu karena cantik. Ternyata tak lama Cloe tak bisa dihubungi. Haley awalnya mengizinkan Cloe pura-pura pacaran dengan Dira untuk menutupi hubungan mereka dari Gwen. Ternyata ia kecolongan. Cloe malah dengan lancang mengirim foto-foto mesranya dengan Dira Kenan.


Haley bukannya tidak berdaya. Cloena ternyata diam-diam sering memperhatikan Haley dan menyusup ke rumah tempat ia dan Haley tinggal bersama dulu. Perempuan itu berhasil mencuri juga membawa kabur foto-foto mesra mereka, hasil tes kehamilan, termasuk riwayat kelahiran. Perempuan itu mengancam akan menyebarkan pada publik. Haley tak bisa menyerah begitu saja demi perusahaan keluarganya. Karena itu ia putuskan melepaskan Cloe dan bertekad merebut Cloe kembali setelah perusahaan Alvonz kembali bangkit.


Cleo sendiri bukannya tak ingin mengeluarkan bukti-bukti itu sejak dulu. Hanya saja keluarga Alvonz tetap tidak akan dihukum secara adil. Mereka pintar memainkan media massa. Ujung-ujungnya, Cloena tetap kalah.

__ADS_1


"Tentu aku takut miskin. Aku ingin kamu bahagia dan kecukupan. Jika aku tidak menipu Gwen apa sekarang aku akan memiliki ini? Rumah ini aku beli atas namamu. Ini buat kamu. Karena aku mencintaimu Cloe!" tegas Haley.


Mendengar itu sama sekali tak membuat Cloena merasa bangga. Baginya Haley tetap pria pengecut yang berlindung di balik nama keluarganya. "Cinta? Jika kamu mencintaiku, kamu akan lindungi anak kita. Kamu tahu apa yang keluargamu lakukan pada anak kita?" bentak Cloe.


"Kamu tahu Gwen tak ingin aku punya anak dari wanita lain agar keturunannya menjadi pewaris. Aku tak punya pilihan. Anak itu hanya jadi penghalang tujuannya. Biarkan lah, untuk mendapat sesuatu tentu harus ada yang dikorbankan. Lagipula itu hanya anak har*m yang lahir dari kesalahan kita. Jangan dibahas lagi!" ucap Haley begitu mudah.


Hati Cloe seperti tertusuk ribuan duri. "Aku mengandungnya selama sembilan bulan. Aku melahirkannya seorang diri. Aku bawa dia padamu dan dengan harapan kau akan memberikannya hidup yang layak. Namun, kamu begitu mudah bilang dia penghalang dan harus dikorbankan? Dia anakmu! Darah dagingmu!" bentak Cloena.


Haley hanya memberikan senyuman meledek. "Kalau mau punya anak, kita bisa buat lagi. Yang dulu sudah biarkan saja. Aku bahkan lupa kalau kau pernah hamil," timpalnya.


Haley terjatuh dan tergeletak di lantai. Ia memegang dadanya yang mengeluarkan banyak darah. Cloe menjatuhkan pisau ke lantai. Ia injak punggung Haley. "Sakit? Ini yang anak kita rasakan saat keluargamu membunuhnya. Ia ketakutan, menangis dan meminta tolong. Sekarang kau mengerti, Haley?"


...🍁🍁🍁...

__ADS_1


"Bi, lihat televisi." Dira yang sedang bermain salju dengan Divan di luar langsung berlari ke dalam setelah menitipkan Divan pada pengasuhnya. Pria itu mendengar kabar yang mengejutkan dari Matteo.


"Ada apa?" tanya Bia begitu Dira menariknya dari walking closet ke sofa. Pria itu menyalakan televisi di kamar. Dira langsung merubah channel ke acara berita.


CEO dari perusahaan telekomunikasi nasional di Livetown ditemukan tewas bersimbah darah di villa miliknya sendiri. Pelaku dari pembunuhan itu adalah seorang aktris cantik yang belakangan terlibat skandal kekerasan berinisial C.P. Pelaku memberikan pengakuan melalui live streaming media sosialnya dan menyerahkan diri pada polisi pagi hari tadi.


Bia tertegun, ia syok dan mematung. "C.P? Cloena Parviz?" tanya Bia pada Dira. Meski tak ingin mendapat jawaban 'ya', Bia harus menelan pil pahit melihat Dira mengangguk.


"Kenapa?" tanya Bia dengan mata yang basah. Ia merasa bersalah karena membiarkan Cloena pergi hari itu. Jika saja ia tak percaya pada Cloena dan tak membiarkan wanita itu pergi, semua ini tak akan terjadi. "Dir, mungkin Cloena dijebak."


Dira menggeleng. "Ia datang sendiri ke polisi dan menyerahkan pisau yang ia gunakan untuk menghilangkan nyawa Haley," jelas Dira. Pria itu mengusap punggung istrinya. "Jangan merasa bersalah. Aku yang patut disalahkan. Selama ini aku dekat dengannya dan sama sekali tak tahu hidupnya sekelam itu. Ini sudah takdir Cloena," nasehat Dira.


"Lalu sekarang dia bagaimana?" tanya Bia. Ia merasa kasihan dengan wanita itu.

__ADS_1


"Gwen Alvonz memberikan tuntutan hukuman mati. Untungnya, Cloena mengantisipasi itu. Ia membuka rahasianya pada publik." Dira menunjukan sebuah rekama video kesaksian Cloena yang sudah tersebar ke publik. Dengan pakaian yang penuh dengan darah, ia ungkap sisi kelam masa lalu yang ia tutupi. Masa lalu yang membuat ia tega memisahkan seorang wanita dengan kekasihnya dan anak dengan ayahnya.


🍁🍁🍁


__ADS_2