Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Buat Rencana


__ADS_3

Baca "Istri Sang Pewaris Tahta" yuk. Tinggalin like sama komen tiap chapter biar author betah nulis di sini. 😁 Mudah-mudahan bisa lebih populer dari ADA.


🍁🍁🍁 Gak salah daun yes 🍁🍁🍁


"Aku beruntung karena istriku sangat pengertian. Dia selalu punya waktu untuk memikirkan aku juga anak-anak. Karena itu, aku ingin memberi dia hadiah ulang tahun pernikahan yang tak bisa ia lupakan," jelas Dira pada pekerja yang sedang memasang aksesoris di ruangan kosong tempat Dira ingin memberikan kejutan untuk Bia.


Ruangan ini berbentuk gazeebo dengan tiang-tiang tinggi yang menyangga atap dan lantai marmer indah dengan motif bunga aster raksasa. Tak ada tembok yang menjadi batas antara ruangan dengan dunia luar. Dari dalam kita bisa bebas melihat sisi pantai.


Pekerja itu tersenyum dan nampak salut dengan Dira. "Jarang ada pria yang memperhatikan istrinya. Pasti istri anda sangat bahagia," ucap pekerja itu.


Dira mengangguk. "Aku pernah menyakitinya dan itu menyiksaku. Sampai dia begitu keras berusaha menghilangkan rasa bersalahku. Sekarang aku sadar, aku memang pernah salah. Hanya saja aku hanya tinggal membuatnya dan diriku bahagia sekarang dan selamanya. Karena bahagia yang sesungguhnya adalah di saat semua pihak berbagi."


Dira berdiri. Ia melihat bagaimana dekorasi ruangan itu sudah begitu indah dengan pita, balon, bunga juga meja makan. Ia berjalan menuju tiang dan melihat lepas ke pantai. Hamparan pasir putih berkilau dan suara deburan halus ombak membuat suasana begitu mendukung.


"Acaranya jam berapa, Pak?" tanya pekerja itu.


"Mungkin jam delapan. Habis anak pertamaku jam setengah delapan biasanya baru tidur. Masalahnya yang bayi, masih minum susu ibunya," jawab Dira sambil terkekeh.


Ia mencari cara agar Diandre bisa ditinggalkan. Untungnya Sayu memberi saran agar Bia memompa air susu dulu ke dalam botol. Awalnya Dira bingung karena meminta Bia


menyimpan air susu terlihat kentara sekali jika Dira akan mengajaknya keluar. Akhirnya Dira punya cara sendiri. Ia menelpon Bia segera karena sudah pukul enam sore di sini dan Dira harus siap-siap untuk mandi juga berpakaian.


"Kenapa?" tanya Bia di telpon dan jelas sekali istrinya itu menyimpan kecurigaan.

__ADS_1


"Ituloh, tadinya aku pikir bisa sendiri. Ternyata harus sama istri karena harus ada penjamin," jelas Dira.


"Kenapa harus malam, sih? Kan anak-anak lagi tidur gak ada yang jagain," keluh Bia.


"Aku kalau siang kerja, kan. Jadi baru bisa beli mobil sekarang," jelas Dira.


Ia membuat alasan untuk membeli mobil baru untuk gaya-gayaan. "Kamu kalau mau beli mobil itu harus bisa digunain dan memang butuh. Mobil banyak di garasi, ngapain beli lagi, suamiku!" ucap Bia kesal.


Dira menggaruk kepala. Kalau begini terus bisa gagal. Mana dia sudah menyiapkan semua dengan sempurna. Baiklah, mau tidak mau Dira harus mengeluarkan jurus terakhir.


"Kamu sering punya waktu buat Divan sama Diandre. Masa buat tanda tangan mobil saja gak ada waktu. Ituloh, Sayu bilang kamu bisa pompa ASI buat disimpan," rengek Dira.


Bia menggerak-gerakkan bibirnya ke kanan dan kiri. Kalau bukan kepikiran dengan keadaan psikologis Dira, Bia gak akan mengalah. "Iya, gak apa-apa. Asal kamu senang aku turutin. Lagian itu uang kamu sendiri," jawab Bia.


Bia menyimpan telpon di atas meja. Ia berdiri lalu mengecek keadaan Diandre. Bia menggendong dan menciumnya. "Mamah tinggal sebentar dulu, ya? Papah kamu lagi manja," ucap Bia. Ia mencium pipi Diandre lalu menidurkan kembali di box bayi.


Lekas Bia mandi dan berganti pakaian. Setelah siap, sebelum pergi ia memompa dulu ASI. Untung ia sudah beli dot dan alat pemompa untuk jaga-jaga kalau tiba-tiba harus meninggalkan Diandre.


"Aduh, kalau gini jadi inget sama Divan waktu bayi. Pagi-pagi harus mompa dulu sebelum kerja," ucap Bia sambil cekikikan. Lama-lama rasa sakit yang ia alami jika diingat malah terasa lucu sendiri. Mendadak ia kangen masa kerja di toko roti juga mengasuh Divan sendirian ke taman hiburan atau belanja makanan.


Mendapat dua dot susu, Bia simpan di lemari es khusus untuk ASI agar nutrisinya tak rusak. Bia memanggil pelayan untuk menjaga Diandre. Setelah itu, Bia berjalan ke kamar Divan.


Ada Mrs. Carol di sana sedang membantu Divan membangun garasi mainan untuk truk Divan. "Bu, aku nitip Diandre, ya? Itu ada Melisa nunggu di kamar, kok," izin Bia.

__ADS_1


"Mamah mau mana?" tanya Divan penasaran. Ia melihat ibunya sudah berpakaian rapi.


"Ituloh, papah minta bantuan mamah buat beli mobil," cerita Bia.


Divan berdiri sambil melipat tangan di dada. "Papah, bohong saja! Katanya dak ada uang, itu beli mobil!" protesnya.


"Divan, mobil kan gak semahal pesawat. Buat beli mobil ada uang, kalau pesawat gak ada. Coba Divan lihat di mana tempat menyimpan pesawat?" tanya Bia memberi pengertian.


"Bandala!" jawab Divan.


"Waktu itu Divan antar kakek ke bandara lihat gak sebesar apa bandaranya?" tanya Bia lagi.


Divan mengingat-ingat. "Besal kali! Olangnya banak juga!" jawabnya.


"Sama rumah kita lebih besar mana?"


Divan menggaruk kening. "Besal bandala, lah. Di sana ada tukang jual ekim, di lumah dak ada."


"Nah, itu ... kalau mau punya pesawat rumah kita harus sebesar bandara."


Mata Divan terbelalak. Ia ingat berjalan di bandara membuatnya pegal. "Uh, males lumah besal. Kaki pegel, deh. Gak jadi pesawat, Divan beli keleta saja," ikrarnya.


Mrs. Carol dan Bia nyengir kuda. Anak ini ada saja jalan pikirannya. Ingin Bia berkata, "kereta sama pesawat gedenya sama saja." Akhirnya ia hanya bisa membantin dalam hati.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2