
Bia tak banyak berharap saat ke dokter kandungan karena memang test packnya masih menunjukkan garis kedua yang samar. Dokter juga hanya memintanya kembali lagi bulan depan. Apalagi gejala-gejala awal kehamilan belum terlihat, hanya terlambat datang bulan dua kali. Bisa saja yang kedua datang minggu depan.
"Kalau tahu ada yang namanya test pack, pasti dulu kita tahu dari awal Divan ada," ucap Dira ketika mereka turun di supermarket. Itu adalah supermarket besar yang menjual barang-barang khusus keperluan rumah tangga.
"Gak akan ada lika-liku Bia-Dira kalau begitu," timpal Bia.
Kedatangan mereka ke sana sambil berpegangan tangan menarik perhatian masyarakat. Banyak yang mengambil foto diam-diam untuk dibuat postingan internet.
Hari ini mereka diam-diam membeli keperluan ulang tahun. Mereka tak bisa mengundang banyak orang. Kasus Cloena membuat Dira lagi-lagi dikejar media massa.
"Beli balon ini saja?" tanya Dira sambil memperlihatkan balon aneka warna.
"Biru saja semuanya. Sayang warna pinknya, dia tak suka," jawab Bia.
Dira menggaruk jidat. "Masa iya sih, kemarin dia mainan payung warna pink," pikirnya.
Dari balon, goodie bag, topi sampai kartu undangan mereka beli. Hanya anak-anak dari lingkungan terdekat yang diundang. Mungkin sekitar dua puluh anak di bawah, seusia dan di atas usia Divan.
"Kita beli kado apa buat dia? Mainannya banyak, pakaiannya juga. Malah lebih banyak tak terpakai," pikir Bia. Ia sangat keras berpikir masalah kado. Malah hadiah dari saudara-saudara Dira mahal-mahal dan itu membuat Bia rendah diri.
"Dia kemarin bilang minta dibelikan pesawat beneran." Dira mengatakannya sambil melihat-lihat topi-topi di rak.
Bia melirik suaminya. Lama kelamaan Dira semakin tidak nyambung saja kalau diajak biacara. "Aku serius, loh. Kita mana bisa beliin pesawat? Uang dari mana?" tanya Bia.
Kali ini Dira balas menatap Bia. Dia tertawa. "Jual rumah, mobil, dan semua tanah. Kita tinggal di pesawat saja," sarannya.
__ADS_1
Mendengar itu rasanya Bia emosi. Dia sedang bingung dan suaminya tak bisa diajak diskusi. "Dira, aku serius. Aku belum beli kado apapun buat Divan. Tahun pertama aku belikan dia alat makan, tahun kedua belikan dia balok, sekarang beli apa?" tanyanya.
"Gini, coba ubah mindset kamu itu. Kemarin kamu belikan hadiah karena dia butuh. Sekarang kamu pikir dia berlebih. Itu yang bikin kamu bingung. Buka mata baik-baik, anak kita tak semua kebutuhannya berlebihan. Apa mainannya sudah sesuai yang dia butuhkan? Karena kakeknya sering kirim mainan, kita gak pernah lagi cek itu cocok apa tidak, kan? Lalu pakaian. Mahal belum tentu buat dia nyaman," nasehat Dira.
Bia menurunkan pandangan. Benar juga apa kata suaminya. Usia tiga tahun, Divan harus sering dilatih motorik halusnya. "Aku cek dulu, apa sudah aman buatnya main pasir kinetik. Sepertinya itu pas," pikir Bia.
Lekas Bia mengecek keamanan pasir itu di internet. Tak lama ia menemukan banyak pilihan lain yang ternyata Divan belum punya. "Gunting plastik, crayon, pensil warna, buku dongeng, itu semua gak ada," absennya.
Dira mengusap rambut istrinya. "Tuh, kan! Aku bilang juga apa. Kebutuhan dia banyak. Hanya saja yang tidak butuh berlimpah, jadi yang butuh tak terlihat."
Bia mengangguk. Mereka sengaja jalan-jalan dulu mencari hadiah untuk Divan. Kemarin gara-gara sering meninggalkannya mereka tak sengaja berjanji akan membelikan hadiah yang menumpuk. Akhirnya bagian belakang mobil Dira habis diisi kado Divan semua.
Pukul sembilan malam, baru mereka tiba di rumah setelah yakin Mrs. Carol memberi pesan kalau Divan sudah tidur. Pelan-pelan mereka berjalan agar tak membuat gaduh - bagian paling gak jelas karena rumah itu terlalu besar hingga Divan pasti tak mendengar suara langkah mereka.
Beberapa pelayan membantu meniup balon menggunakan alat khusus dan memasangnya di setiap sudut ruangan hingga ke atap. Bia tak mau kalah, ia ikut membantu memasang dekorasi ulang tahun lainnya seperti boneka-boneka pororo dari styrofoam termasuk hiasan tanaman dan pohon plastik.
Terdengar ketukan di pintu rumah. Sepupu Dira akhirnya datang berkunjung. Malam ini adalah malam tahun baru, sehingga mereka merayakan dua acara sekaligus.
"Apa mungkin nanti orang akan datang? Rata-rata pasti sedang merayakan malam tahun baru bahkan sampai di luar kota," tanya Sayu sambil membantu Bia menyusun makanan di ruang tamu.
"Makanya acara resepsi ulang tahun Divan dirayakan tanggal dua. Sekarang kita-kita saja yang merayakannya. Dia asal ada ...." kalimat Bia terpotong karena lagi-lagi pelayan datang memanggil ke dapur.
"Nyonya, ada Tuan dan Nyonya besar bersama Tuan Daren sekeluarga," kata pelayannya.
Bia tertegun. Ia pikir mertuanya tidak jadi datang ke Emertown untuk ulang tahun Divan. Bia lekas ke ruang tamu dan menemukan keluarga besar suaminya di sana.
__ADS_1
Emelie turun dari pangkuan ayahnya. Terlihat sekali anak perempuan cantik berambut panjang itu baru bangun setelah melewati perjalanan panjang.
"Hai, Em! Apa kabar cantik," sapa Bia sambil mengusap rambut keponakannya itu.
"Divan ulang tahun ya, Tante?" tanya Emelie sambil mengusap mata dan menguap. Bia mengangguk. "Divannya mana? Emelie mau kasih kado, loh!" Dia memutar dan mengambil kado dari tangan ibunya yang masih ada di dalam tas kertas.
"Divan masih tidur. Nanti jam sebelas malam Tante bangunkan," jawab Bia. Ia menuntun Emelie untuk duduk di sofa.
"Mamah, Papah dan kakak-kakak pasti lelah. Istirahat dulu saja di kamar. Nanti biar Bia panggil kalau sudah siap."
Sora menepuk pundak Bia. "Istirahatnya nanti saja kalau sudah selesai. Sekarang biar kakak bantu kamu," tawar Sora.
Sementara yang lain sedang menyiapkan kejutan untuk Divan, justru Dira malah sibuk dengan kegiatan lain. Ia adu mulut dengan Dustin, adiknya sampai saling tendang.
"Dira! Dustin!" panggil Daren agar kedua adiknya berhenti membuat kegaduhan.
"Dia duluan, tuh!" protes Dustin sambil menonjok lengan Dira. Tak mau kalah, Dira menendang pantatnya. "Tuh, kan! Mah, Dira nih ganggu banget!"
"Dia nih, Mah. Dari tadi ketahuan lagi chatting sama perempuan. Mana dua lagi!" adu Dira.
Dustin menunjukkan tinjunya pada Dira, tapi langsung dibalas Dira dengan memeletkan lidah. "Kalau baru laku itu gini, nih. Sok kecakepan. Semua cewek dijabanin!" ledek Dira.
"Mamah! Dira, tuh!" protes Dustin sambil menginjak punggung kaki Dira hingga kakaknya itu kesakitan. Ia tertawa puas.
Daren yang kesal langsung menarik telinga kedua adiknya. Ia seret mereka ke hadapan Maria. "Minta maaf sama Mamah! Bikin ribut saja!" omel Daren.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Gak ada catatan. Cuman ngasih tahu saja. Ternyata ini hari Sabtu dan malamnya, malam keramat bagi para jomlo.