Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Keuwuan masa bocah


__ADS_3

Ada alasan mengapa Ernesto selalu ingin mempertahankan Dira di KG. Dia pria yang cerdas dan penuh perhitungan termasuk masalah Mayen. "Satu minggu, bantu aku cari tahu siapa saja musuh papah yang berhubungan dengan Mayen?" pinta Dira pada Daren. Satu-satunya yang menghalangi Dira adalah posisi hingga tak semua orang pintar pencari informasi ia miliki.


"Kamu mau apa lagi, sih?" tanya Daren. Dira hanya terkekeh.


"Pokoknya carikan," tegas Dira.


Ia menutup telponnya dan berbalik melihat Bia yang tengah pusing merangkai boneka mainan Diandre. Meski ini hari libur, tak ada hari libur untuk seorang ibu. Tetap saja ia harus mengurus anak dan suami karena anak dan suaminya hidup setiap hari.


"Sini, biar papah bantu," tawar Dira. Pasangan itu masih saja saling berbagi dalam banyak hal. Dira masih antar-jemput Divan dan Bia mengurusi hal-hal yang sebaiknya diurus olehnya. Seperti menjaga anak termasuk mencuci pakaian.


Bukan apa-apa, bundanya sering berkata dulu. Lebih baik urusan makan dan pakaian harus istri yang urus agar keluarga merasakan sentuhannya.


Hari demi hari tak ada yang berubah dari Bia meski masa lalunya terungkap. Jelas seperti penilaian Dira. Bia jauh berubah. Bukan lagi perempuan manja yang sedikit-sedikit mengadu, menangis juga marah.


"Kenapa juga, sih? Semua orang juga punya masalah. Aku juga menangis karena masalah ini pernah, itu hakku. Namun, menangis berlarut-larut hanya menjadikan aku bukan apa-apa." Begitu prinsip hidup Bia setelah merasakan hidup jadi orang tua tunggal, menjadi istri dari suami penuh kontroversi hingga melihat kasus Cloena.


"Syukur lah," ucap Dira sambil memeluk istrinya. Meski terlihat baik, bukan artinya Dira membiarkan istrinya begitu saja. Sesekali mengecek keadaan istrinya takut down tiba-tiba.


Bahkan Dira sampai harus memberikan tugas pada Divan. "Kalau mamah nangis, apa kakak bisa peluk?" pintanya saat berada dalam mobil menuju sekolahan. Divan mengangguk.

__ADS_1


"Iyalah, Divan gak biar mamah nangis. Divan superman mamah," tegas anak itu.


"Dah!" pamit Divan sebelum menutup pintu mobil. Mobil Dira berhenti tepat di sisi teras sekolah. Gurunya sudah menunggu di sana. Dira tinggal menurunkan Divan lalu pergi ke kantor.


Divan menatap mobil papahnya yang pergi hingga keluar gerbang. Sudah jadi rutinitas anak itu selama sekolah. Barulah ia menyapa gurunya dan masuk ke dalam gedung.


"Papah kasih Divan tugas, loh. Jagain mamah sama bikin mamah ketawa," lapor Divan. Bukan hal aneh kalau anak seusia itu diajak main rahasia tetapi ia bocorkan pada banyak orang.


"Wah, hebat sekali. Semoga Divan bisa jalani tugasnya, ya?" semangat bu guru sambil mengangkat tangannya. Divan balas menepuk tangan gurunya.


Saat tengah berjalan, ia lihat gadis berambut sebahu yang kini jadi teman dekatnya. "Davina!" panggil Divan. Ia berlari ke arah gadis kecil itu.


"Divan! Pagi! Kamu sama siapa ke sekolah?" sapa Davina basa-basi begitu Divan berhenti tepat di depannya.


"Sama papah, donk. Kemarin Divan pergi berenang sama papah juga," ceritanya.


Davina mengangguk. Ia lihat videonya di YT. "Aku nonton tahu. Eh, mamah Divan cantik, ya?" puji Davina.


Mendengar pujian untuk ibunya, Divan mengangguk pasti. "Mamah Davina cantik gak? Divan gak lihat, loh," tanya Divan.

__ADS_1


Davina berpikir. Ia menyimpan foto keluarganya di buku Princess Ariel. Davina menurunkan tasnya di lantai. Ia buka sleting tas itu lalu mengeluarkan buku dari sana.


"Ini. Mamahnya Vina," tunjuk anak itu pada perempuan yang berdiri di belakangnya dalam foto keluarga.


"Ouh, cantik. Vina juga!" puji Divan. Anak itu menghitung banyak orang dalam foto. "Ada empat. Ini sapa saja?" tanya Divan seperti biasanya selalu ingin tahu.


"Ini mamah, papah, Vina dan kakak. Namanya Kak Silvina," tunjuk Divan.


Ia menatap foto Silvina lekat-lekat. Wajahnya mirip Bia waktu kecil dulu. "Mamah Divan waktu kecil gini, loh. Mirip," komentarnya. Daya ingat Divan memang sangat tajam. Terlebih foto Bia kecil dipajang di ruang keluarga.


Mata Davina melirik foto kakaknya. "Kakak Silvi sekarang KS satu, lho. Sudah besar kakakku," cerita Davina.


"Baik, gak?" tanya Divan penasaran. Davina mengangguk. Ia masukan kembali foto ke dalam bukunya. Buku itu dikembalikan dalam tas yang ia seletingkan untuk dibawa ke kelas.


"Nanti istirahat ke kelas Kak Silvina, yuk!" ajak Davina. Divan sih mau saja. Ia dan Davina memang sering berpetualang jika istirahat. Syukurnya Divan tahu cara membaca jam, jadi sebelum bel berbunyi mereka akan kembali ke kelas.


Lingkungan petualangan mereka hanya sebatas lingkungan dalam gedung sekolah. Tak jauh dan masih dalam pengawasan guru.


"Kakak Emelie juga sekolah KS satu. Aku ke sana juga nanti. Kenalin Davina," cerita Divan sambil menuntun Davina ke kelas. Kedua anak itu sejak bertemu hampir tak terpisahkan. Persis seperti Bia dan Dira saat kecil dulu.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2