
Ini episode terakhir Ayah Dari Anakku. Terima kasih sudah mau membaca sampai sejauh ini. Yang masih sisa vote boleh disumbangkan untuk terakhir kalinya.
Ouh iya, AKU MASIH DI NOVELTOON/MANGATOON dengan karya baru. judulnya MR. TAJIR JATUH CINTA. rencananya aku up besok. Mudah-mudahan kalian beri dukungan untuk biru seperti memberi dukungan untuk Dira. Hanya mengingatkan. Selama satu bulan awal, karya baru GAK BOLEH DI TABUNG KARENA AKAN MEMPENGARUHI KE LEVEL NOVEL. Sekarang ada rank LIKE. Like yang kalian berikan akan meningkatkan novel baru author. 🙏 Kalau kalian masih mau dukung author di sini, yuk baca MR. TAJIR JATUH CINTA dan langsung baca setelah beri favorit.
TERIMA KASIH AKU UCAPKAN SEKALI LAGI SUDAH MENEMANI BIA DAN DIRA HINGGA SAMPAI DI SINI. KITA BERTEMU DI NOVEL BARU, YA? MUDAH-MUDAHAN LEVELNYA LEBIH BAIK DARI SEBELUMNYA. TERIMA KASIH.
🍁🍁🍁
Bia, aku minta maaf. Setelah ini, aku tak mau persahabatan kita hancur. Apapun jawaban kamu, aku masih mau sahabatan sama kamu.
Jadi. Sebelum kamu lanjut, tutup mata dulu. Kalau ada aku dalam bayangan kamu. Jawabannya sudah pasti iya. Mau kamu jadi pacar aku?
Dira Kenan
Bia tersenyum saat menatap surat itu lagi. Waktu berputar begitu cepat. Lembaran kertas itu ia dekap dalam pelukan. Lalu Bia buka buku catatannya.
Untuk Dira Kenan saat bayi, saat balita, saat TK, saat SD, saat SMP, saat SMA, saat kau tinggalkan aku, saat kau jadi ayah dari anakku, saat kau jadi suamiku ... bagiku kamu tetap sahabat yang aku cintai setulus hatiku.
Drabia Kenan
Terdengar suara langkah. Bia menutup catatan. Ia merasakan seseorang mengusap bahunya. Bia mendongak dan melihat Dira berdiri di sampingnya. "Dinia mana?" tanya Dira.
"Di kamar, katanya ingin me time karena sedang senang. Tak tahu apa," jawab Bia.
Tubuh Dira bergerak ke sisi Bia lalu duduk di kursi samping. Ia pegang tangan istrinya. Api unggun masih menyala tak jauh dari mereka. "Terus Divan mana?"
__ADS_1
"Katanya izin mau jalan-jalan ke Emertown bertemu dengan Mrs. Carol dan lainnya. Kita juga nanti ke sana, ya?" tanya Bia.
Dira mengangguk. Bia menyandarkan kepalanya dalam pelukan Dira meski terhalang sedikit oleh sandaran tangan kursi. "Rumah sepi. Diandre pergi ke luar negeri. Begini tak enaknya punya anak yang usianya saling dekat. Ketika besar, mereka juga sibuknya barengan," keluh Dira.
Bia menepuk lengan suaminya. "Anak-anak kita suatu hari nanti punya anak, cucu kita. Saat itu rumah kita mulai ramai lagi."
"Usia kita masih muda. Masih sanggup punya bayi lagi," pinta Dira.
Tawa Bia menggelegar. "Ih, kamu gak malu apa? Anak-anak pasti gak mau kalau diminta mengasuh adik bayi," tolak Bia.
Dira tertawa. "Mereka takut disangka itu anak mereka?"
Anggukan Bia menyetujui ucapan Dira. "Kamu tahu tidak, Diandre suka pada wanita yang sama dengan Divan."
"Kamu itu, bisa saja ngerjain anak kamu. Lagipula kasihan dia baru patah hati ... masa kamu bikin patah hati lagi?"
"Aku sebenarnya sudah bicara dengan temanku tentang Aira. Ternyata anak kamu sudah bilang duluan. Mana dia minta temanku merahasiakan siapa dia. Katanya mau pura-pura jadi sopir taksi online," cerita Dira.
Lagi, Bia tertawa. "Diandre itu keturunannya siapa, sih? Ada saja kelakuannya."
Dira menatap istrinya yang sedang tertawa. "Sayang, kamu tahu gak kalau kamu itu cantik banget?" tanya Dira.
"Tahulah. Kamu saja yang gak sadar."
"Pura-pura gak tahulah," keluh Dira.
__ADS_1
Bia tertawa. "Iya ... aku gak tahu, kata siapa?" tanya Bia.
"Karena dalam setiap pandanganku, selalu kamu yang aku ingat," jawab Dira.
"Kalau mamah Maria?" tegur Bia.
Wajah Dira terlihat kusut. Ia cubit pipi Bia. "Aku selalu kalah kalau harus milih antara kamu sama mamah Maria," keluh Dira.
"Kalau pilih mamah Maria juga gak apa-apa. Katanya pria yang sayang ibunya, pasti sayang istrinya juga."
"Aku pilih Dinia. Putri kita tak ada yang menandingi cantiknya," timpal Dira sampai terkekeh.
Keduanya lagi-lagi berpelukan. "Sayang, jangan tinggalkan aku duluan, ya? Aku gak sanggup. Biar aku duluan saja meninggalnya." Dira mengusap rambut istrinya.
"Gak adil, aku merana sendirian. Sama-sama kek," protes Bia.
"Ya sudah jangan meninggal dulu. Berduaan saja kayak gini."
"Kamu gak bosen kita sudah barengan dari bayi?"
"Kalau bosen gak akan ada Diandre sama Dinia," jawab Dira singkat tapi mengena.
Bia tersenyum. Ia kecup pipi Dira. "Terima kasih sudah jadi ayah dari anakku," ucap Bia.
🍁🍁🍁
__ADS_1