Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
kumpul bocah


__ADS_3

"Ceril ditangkap karena memakai narkoba?" tanya Bia pada Dira sore itu. Terpaksa Dira mengangguk. Bia memeriksa ponsel dan hasilnya benar.


Dalam sebulan Ceril membuat skandal baru lagi. Ia digerebek disebuah rumah mewah bersama suami orang. Parahnya Ceril dilindungi pria itu. Kini, ia ditangkap karena menggunakan obat terlarang.


"Ibu minta bantuan kamu, gak?" tanya Dira.


Bia menggeleng. Skandal keluarga Kenan dengan Mayen resmi ditutup karena dianggap Mayen bersalah sudah menelantarkan anak. Tentang Bia dan Mayen memang tak diungkap ke publik. Mayen juga sepertinya sudah cukup malu bermain drama.


Walau begitu, Mayen tak juga sadar diri. Ia masih menikmati kemewahan yang Ceril berikan dari uang pemberian pengusaha yang menjadikan Ceril istri muda.


"Dia harus membesarkan Ceril sendiri dengan susah payah. Apa ibu gak takut kalau suatu hari Ceril juga mengalami hal yang sama?" tanya Bia.


Dira merebahkan diri di sofa. "Mana ada, apalagi pacar pengusaha putrinya membela terus. Dia sedang berusaha menyuap untuk melepaskan Ceril dari penjara," komentar Dira.


Bia mengangguk. Sudah bukan hal yang aneh lagi. "Pengusaha tas itu sepertinya takluk pada adikmu. Tak aneh sih, dia memang cantik. Tipe kebanyakan pria. Dari videonya yang dulu saja terlihat dia jago membuat pria puas," komentar Dira.


Ucapan suaminya membuat Bia terpancing akan sesuatu. "Memang pria itu hanya suka dengan kepuasan begitu, ya?" tanya Bia.


Dira berpikir sejenak untuk merangkai kata. "Sama seperti orang lapar. Diberi makan apapun akan kenyang. Hanya makanan yang enak dan mahal memberi kepuasan tersendiri. Tetap saja itu terjadi kalau sedang lapar saja. Kalau gak lapar, mau seenak apapun malas makan," jelas Dira.


Bia masih menunggu penjelasan suaminya. "Dulu aku dengan Cloena begitu. Hanya urusan memuaskan diri dengan s*x, tapi tetap saja dalam keseharian hampa. Biasanya pria seperti itu hanya karena lelah dengan kesehariannya. Karena yang ia dapat hanya kebahagiaan di kamar, sementara hidupnya hanya kehampaan," jelas Dira.

__ADS_1


"Seperti tak punya tujuan hidup?" tanya Bia.


Dira mengangguk. "Penat, bosan dan kecewa. Kecewa karena apa yang ia lalukan demi uang, nyatanya tak bisa membeli kebahagiaan," tambah Dira.


Bia mengerti maksud Dira. "Sekarang bagaimana?" tanya Bia.


Dira tertawa. Ia rangkul pinggang istrinya. Dengan manja, Dira rebahkan kepala di pangkuan Bia. "Sekarang lihat ada dua anak yang setiap hari bertingkah dan istri yang sudah seperti sahabat sendiri, aku mulai tahu cara bahagia."


"Bagaimana?" tanya Bia.


Dira terbangun. "Divan!" panggil Dira dari kamar. Suaranya lumayan terdengar hingga tak lama Divan datang. Dari langkahnya sudah memancing rasa penasaran.


"Iya papah?" tanya Divan. Tampilan anak itu tegas membuat kedua orang tuanya tertawa. Ia memakai kemeja Dira lagi, mengenakan kaca mata yang untung kali ini kacanya putih. Rambutnya dibuat klimis dengan belahan di tengah akibat kebanyakan gel. Tas kantor besar yang biasa Dira pakai dan kini tak digunakan, ada di tangan Divan dijinjing. Karena saking besarnya tas itu, sampai harus diseret. Dasinya menjuntai sampai ke lantai.


"Belajar jadi papah. Divan video call sama Vina. Liatin Divan mirip papah gimana," jawabnya.


Bia menghampiri Divan. "Sini mamah rapikan?" tawar Bia. Tangannya hampir menangkap Divan hanya langsung anak itu tepis.


"Gak usah mamah, Divan sibuk. Kerjaan banyak hari ini. Bye," ucapnya lalu berbalik dan berjalan sambil menyeret tas. Ia hampir terjungkal, kakinya tersandung dasi dan celana yang kebesaran.


Setelah yakin Divan pergi, Dira tertawa sambil menepuk tangan. "Lucu, kan? Anak kamu itu," ledek Dira.

__ADS_1


Bia mengambil bantal sofa yang lekas ia lempar ke arah Bia. "Anak kamu juga! Kamu yang bikin, aku cuman bantu ngoven!" Bia tak mau kalah.


Perdebatan suami istri itu harus berakhir karena mendengar Diandre menangis. Anak itu diungsikan ke kamar orang tuanya akibat Divan sedang sibuk dengan Davina.


"Manggil papahnya?" tanya Davina. Divan mengangguk. Kaca matanya turun hingga ke atas bibir. Lekas Divan naikan lagi dengan jari telunjuknya.


"Papah Divan baik, ya?" Davina penasaran. Mereka sedang video call, tentu dengan sepengetahuan orang tua. Ada CCTV di kamar Divan.


"No, papah nakal. Pernah gak pulang. Divan ditinggal, katanya cari mamah baru," cerita Divan.


Davina ber-oh. "Sekarang gak nakal lagi. Sayang Divan sama Diandre juga. Sama mamah bertantem saja. Dikit-dikit cubit, pukul, ledek-ledek. Divan sampai pusing ini." Anak itu memegang kepalanya. Ia berakting seolah begitu keras memikirkan sikap kedua orang tuanya.


Davina mengangguk-angguk. "Papahku jarang di rumah. Papahnya ka Silvi sama Vina beda. Mamah ka Silvi sama Vina juga beda," cerita Davina.


Orangtuanya menikah lagi saat Davina tiga tahun. Ayah tirinya membawa anak perempuan yang usianya beda dua tahun dengan Davina, namanya Silvina. Ayah Davina kini ada di luar negeri. Ia juga sudah menikah lagi dengan seorang pramugari.


"Kok bisa beda-beda? Gak beli merk sama?" tanya Divan.


Davina mengangkat bahunya. "Gak tahu merk Vina. Tahu itu kasih mamah itu saja. Papah baru juga mamah yang bawa," ceritanya.


"Ouh. Gak tahu beli toko mana papahnya?" tanya Divan lagi.

__ADS_1


Dira yang mengintip pembicaraan itu hanya bisa mengerutkan kening. "Mereka ngobrol apaan, sih? Apa hubunganya orang tua tiri sama merk dan toko? Mereka pikir nyari jodoh kayak barang obralan?"


🍁🍁🍁


__ADS_2