
Maafkan aku
Pernah menyakitimu
Melukai batin
Menyiksa hati
Meski kau bilang tak apa
Hatiku memanggilmu
Anganku mengingatmu
Karena ku inginkau
Merindumu
Meski mungkin saja kau lupakanku
Sentuhanmu itu
di wajahku begitu hangat
Membuatku terlena
Bahkan tiada yang menyaingi
Kita terbawa cinta
Seperti orang bodoh
Yang bahagia meski jadi gila
__ADS_1
Reff :
Kamu miliki setiap garis keindahan
Aku bermimpi lelap
Setiap ciuman dan pelukan yang tercipta jadi kenanganmu dari tatapan mata indahmu
Cinta semakin dalam
Penyanyi : Dira Kenan
Petikan gitar dan suara bass lembut berpadu dengan lirik penuh cinta. Lagu yang dibuat dalam dua hari tapi mampu melarutkan hati yang mendengarnya. Bia tersenyum dengan wajah merona tatkala Dira mengajaknya ke atas panggung. Mereka duduk berhadapan dan Dira menyanyikan lagu cinta itu untuk Bia.
Tepuk tangan membahana ketika musik tiba dalam akhirnya. Bahkan sedari awal hingga akhir mata Dira tidak berpindah dari wajah Bia.
"Terima kasih," ucap Dira pada penonton yang memberikan apresiasi melalui tepukan tangan. Bia juga tak mau kalah, tepukannya paling keras.
Ini seperti terulang kembali. Empat tahun lalu ketika mereka masih duduk di kelas tiga SMA, Dira menyanyikan sebuah lagu untuk Bia dengan diiringi petikan gitar akustik. Hanya saja bukan di atas panggung, tapi halte bis menunggu hujan reda. Tak peduli meski bukan mereka berdua saja di sana.
"Tiga tahun yang lalu aku berhenti menulis lagu. Tak tahu kenapa, hanya setiap kali menuliskan liriknya tak pernah merasa pas. Sejak itu, aku hanya menyanyikan lagu ciptaan orang lain," ucap Dira sambil menggendong gitar di pangkuan dan menatap ke arah penonton. Mata Bia mengejap beberapa kali.
Dira berpaling pada Bia. "Aku sempat bertanya pada diriku sendiri apa alasannya. Sampai dua malam ini aku pegang gitar dan menulis lagu sebagai hadiah pernikahan. Dalam dua malam aku menulis lagu ini tanpa hambatan, hanya karena mengingat wanita di hadapanku ini."
Sudah, Bia melambung tinggi hingga lupa caranya berpijak. Tubuhnya gemetar dan terasa ringan.
"Jadi, hanya dia yang menginspirasiku selama ini. Karena semua irama dan harmonisasi nada di hatiku, ada padanya," lanjut Dira.
Penghujung acara, Dira dan Bia mengucapkan terima kasih dan salam perpisahan pada para tamu. Ucapan selamat terucap dari mulut para tamu malam itu. Dira menggendong Divan yang sudah beberapa kali mengucek mata dengan punggung tangan. Sepertinya Divan mengantuk.
Satu per satu tamu meninggalkan aula. Dira dan Bia mendekati orangtuanya. Mereka meminta restu pada Nenek Dira juga.
"Nek, Dira dan Bia minta restu, ya?" ucap Dira. Nenek Benedith menyentuh pipi Divan. "Dia mirip Dira, ya?" tanya Dira.
__ADS_1
"Mirip sekali, sampai tak ada seperti Bia," jawabnya.
Divan menggeleng. "Takep Divan," celetuknya meski matanya sudah setengah terbuka.
Bia tertawa. "Maafin Divan ya, Nek. Dia sama seperti Dira."
Nenek Benedith menggeleng. "Dira, Ernesto dan anak ini sama semua, sudah dari kakek kalian begitunya," celetuk Nenek Benedith meski harus duduk di kursi rodanya. Ia tak bisa ikut acara sejak awal karena kesehatan. Sehingga setelah acara berakhir, Nenek Benedith baru datang.
"Berbahagialah," restunya.
Maria dan Ernesto datang diantara mereka. Maria mengusap rambut Divan. Anak itu sudah terlihat lemas menyandarkan kepala di lekukan leher ayahnya.
"Divan biar tidur dengan Mamah dan Papah saja. Kalian sana nikmati saat-saat berdua," saran Maria.
Bia menggeleng. "Nanti Mamah kerepotan. Kemarin-kemarin Divan dijaga kalian terus. Biar giliran Bia hari ini," tolak Bia lembut.
Divan memegang perutnya sambil meracau mengeluarkan lenguhan. Dira yang menggendongnya mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres. "Jagoan Papah kenapa?" tanya Dira.
"Akit pelut Divan. Akit Papah," rengek Divan. Dira mengusap perut anak itu sementara Bia yang mendengarnya langsung panik dan mengusap rambut Divan. Ketika menyentuh kening, Bia kaget karena suhu tubuh Divan sangat panas.
"Kok dia bisa panas gini?" tanya Bia bingung karena tadi Divan terlihat aktif seperti biasa. Dira menggeleng. Tadi siang juga putranya masih baik-baik saja. Malah Divan masih bermain basket dengan Dira.
"Kamu makan apa tadi?" tanya Dira curiga. Sejak tadi Divan terlihat berkeliling di bagian makanan.
"Jelly, kue, ekim," jawab Divan disela rasa sakitnya.
Bia mendengus. "Mana yang banyak? Berapa banyak es krim?" tanya Bia.
Divan malah menyembunyikan wajahnya di leher Dira. Melihat anak itu tak bisa menjawab, Bia yakin Divan diam-diam makan banyak es krim.
"Kita bawa Divan ke kamar. Biar aku panggil dokter," saran Dira. Bia mengangguk.
Maria menggeleng dan memegang tangan cucunya. "Tak apa, biar sama Mamah saja," saran Maria.
__ADS_1
Dengan mantap Dira menolak. "Gak apa, Mah. Dira malah gak tenang kalau dia sakit dan jauh dari Dira. Biar Divan sama kami saja."