
Dira kembali pada kehidupan sebelum pernikahan. Ada banyak jadwal manggung, shooting hingga pemotretan yang harus ia selesaikan sebelum kontraknya berakhir. Malam itu, festival musik terbesar di Heren dilaksanakan dengan meriah. Masih banyak teriakan memanggil nama Dira dengan penuh cinta meski Cloena sempat mengeluarkam statement yang menjatuhkan. Bijaknya fans Dira, mereka tidak mencampuri urusan pribadi artisnya dengan karya.
Dengan gitar di tangan, Dira menyanyikan lagu pop andalannya yang berjudul "illusion". Lagu itu menaiki posisi satu chart musik berbagai negara hanya dalam waktu satu minggu. Dalam karirnya, Dira belum merasakan popularitasnya jatuh. Sejak tampil di acara audisi yang tayang di televisi, ia sudah mencuri perhatian karena ketampanannya.
Jauh di rumah yang dindingnya dihiasi cat berwarna putih, Bia masih menunggu kepulangan suaminya. Jarum panjang dan pendek bertemu di tempat yang sama. "Apa itu wajar jam segini belum pulang?" batin Bia. Ia tinggal di kota yang memiliki jam malam. Sehingga tengah malam belum pulang dianggap aneh.
Bia juga tidak pernah menonton konser musik. Sepulang kerja dan mengurus Divan, ia sering lelah dan memilih tertidur. Pagi tadi Dira pergi tak mengatakan akan melakukan apa saja. Ia hanya pamit kerja, mencium kening Bia lalu pergi tanpa menunggu Divan bangun.
"Bahkan dia gak nelpon sama sekali," Bia semakin gusar. Hatinya terus memaksa untuk mencari tahu, tapi pikirannya masih menyimpan harga diri.
Masih terdengar detakan jam di dinding. Sudah beberapa kali Bia pindah posisi duduk. Dari sofa coklat, pindah ke sofa hijau dan dari melamun hingga membuka tutup kunci ponselnya.
"Apa aku perlu cek Divan?" Bia bangkit dari sofa. Ia berjalan menaiki tangga ke kamar Divan. Putra kecilnya itu masih tidur dengan nyenyak. Tiba-tiba muncul rasa tidak enak. Bagaimana jika Dira bertemu Cloe dan mereka kembali? Bia menghela napas dan mencoba menyeimbangkan pikirannya.
Ia menutup pintu kamar Divan lalu kembali turun ke bagian entrance rumah. Para pelayan sudah tertidur. Tanganya membuka pintu rumah. Bahkan dari kejauhan terlihat gerbang masih sepi, tak terlihat ciri-ciri mobil Dira akan tiba.
"Kenapa suamiku belum pulang, sih? Tidak menelpon lagi?" Bia berbicara sendiri. Semakin dipikirkan ia semakin tidak tenang.
Angin bertiup menyetuh rambut juga kulit wajahnya. Diam di luar sendirian membuat Bia merinding. Lekas ia kembali masuk dan menutup pintu rumah yang memiliki dua daun pintu. Ia berjalan di atas lantai yang memiliki pola kayu berwarna coklat tua.
"Aku jadi lapar," keluh Bia sambil mengusap perutnya. Ia pergi ke dapur dan membawa buah dari kulkas. Ia ingat menyuapi Divan, tapi lupa makan malam.
__ADS_1
Bia duduk di kursi bundar di tengah ruangan dapur. "Aku pikir bisa makan malam dengan Dira, jadi aku menunggu. Tahunya sampai sekarang belum pulang juga. Masa tidak ada waktu sedikit pun untuk menghubungi jika pulang telat," omel Bia.
Matanya menatap langit-langit dapur yang berwarna putih. "Rasanya aneh tinggal di rumah besar lagi setelah sekian lama."
Rumahnya yang dulu tidak sebesar ini, tapi cukup besar hingga ia memiliki kamar dan kamar mandi sendiri. Sayang karena biaya hidup saat itu, rumahnya terpaksa dijual karena harus membayar cicilan utang untuk membayar biaya sekolah Bia hingga lulus SMA. Tante Rubi tak bekerja dan sehari-hari saja mereka mengandalkan dari pinjaman.
...🍁🍁🍁...
Acara sudah sampai di bagian penutupan. Selesai sudah konser bersama yang lumayan menyita energi. Belum lagi karena masalah kemarin, Dira harus bekerja dua kali lipat sebagai kompensasi atas perbuatannya.
Kaki Dira menatapi tangga dari atas panggung ke bagian belakang. Matteo menunggu di sana. Begitu melihat Dira, ia langsung menyampirkan jas di tubuh pria itu.
"Apa kau lelah?" tanya Matteo.
Matteo terkekeh. "Makanya jangan macam-macam kau!"
Mereka memasuki ruangan ganti. Khusus bagi Dira, ia punya ruangan sendiri yang disediakan sesuai permintaannya. Ia ingin langsung pulang, tapi harus membersihkan riasan dulu.
"Kau mau menginap di hotel mana?" tanya Matteo.
Dira menggeleng. "Aku ingin pulang, Bia pasti menunggu. Aku juga lupa menghubunginya. Belum terbiasa. Kupikir masih hidup sendiri," jawab Dira.
__ADS_1
"Bia siapa?" Matteo kelihatannya lupa dengan nama itu. Alami sekali, bodohnya.
"Istriku!" tegas Dira. Staffnya di ruangan itu tahu jika Dira sudah menikah. Karena perlakuan Dira selama ini, mereka begitu setia pada pria itu.
"Pasti menunggu ingin dipeluk istrimu, Dir," timpal Amelie, hairdresser pribadi Dira.
"Iya donk, Mbak! Kalau sampai dipeluk orang, rugi aku!" kelakar Dira. Ia melihat ponselnya yang masih terlihat tenang. Sepertinya Bia tidak menghubungi Dira sama sekali, apa sudah tidur? "Apa ia gak khawatir sama sekali meski aku pulang malam?" batin Dira.
Selesai membersihkan diri, Dira menyetir mobilnya sendiri menuju rumah. Mungkin karena sudah keburu mengantuk, ia sempat salah jalan. Fokusnya masih tinggal di apartemen yang dulu. Syukur hanya sampai setengah jalan, ia langsung sadar.
Akhirnya Dira tiba di rumah. Ia memijiti tengkuknya yang terasa pegal. Ketika membuka pintu rumah, ia tertegun melihat rumah yang terlihat tenang. "Bia mana mungkin menunggu, ia pasti tidur menunggui Divan," ucap Dira sedikit kecewa. Dira berjalan memasuki entrance rumah.
Ketika hendak naik ke atas, ia mendengar suara gumaman di ruang tamu. Penasaran, Dira memasuki ruangan yang disekat setengah dinding dari entrance. Mata Dira terbelalak melihat Bia tertidur di sofa sambil terduduk dan kepalanya terbaring di sandaran tangan sofa.
Dira menghampiri istrinya sambil tersenyum. Ia menunduk lalu mengusap rambut Bia dengan lembut. "Kamu nunggu aku pulang?" tanya Dira sambil berbisik. Bia tak menjawab, perempuan itu hanya sedikit bergerak karena pegal.
Dira mengecup kening Bia. Ia angkat tubuh istrinya kemudian menggendong Bia naik ke lantai atas. Ia baringkan Bia di atas tempat tidur Divan. Dira mengusap pipi Bia.
"Jagain anak kita dulu, ya? Nanti kalau dia sudah berani tidur sendiri, giliran aku yang kamu temani," ucap Dira. Ia kecup bibir Bia. Kemudian tangannya berpindah mengusap rambut Divan.
"Maafkan Papah sibuk kerja sampai gak ada waktu main sama kamu. Semua ini Papah lakukan agar kamu gak kekurangan seperti kemarin-kemarin. Apapun Papah lakukan asal hidup kamu berkecukupan," ucap Dira. Ia menghela napas.
__ADS_1
Melihat Bia dan Divan tertidur, rasanya Dira menemukan impiannya kembali. Ia berdiri lalu berjalan memutar. Karena lelah, Dira tak memiliki kekuatan untuk berjalan ke kamarnya sendiri. Ia terbaring di samping Divan sambil memegang tangan Bia.
...🍁🍁🍁...