
"Kaget tuh Divan. Kejan-kejan iyus. Divan geteteran, angis agi, Pah," cerita Divan malam itu. Seperti biasa kalau ia sedang serius bercerita lidah njelimet tak karuan. Dira mengangguk-angguk saja mendengarnya. Sementara Bia nampak lega. Ia takut Divan terkena trauma.
Divan setangah terbaring di tengah Dira dan Bia. "Kamu lucu, makanya mereka suka foto kamu. Papah juga suka foto Divan." Tangan Dira mengusap rambut coklat putranya. Pipi Divan menggelembung dan matanya menyipit. Sedang garis mulutnya melengkung ke atas.
"Gimana agensi kamu?" tanya Bia. Ia khawatir dengan kesepakatan Dira dengan agensinya.
Dira menggeleng. Ia menunjuk ponselnya di atas nakas. "Aku matikan. Lagipula tak ada yang tahu rumahku di mana kecuali staffku. Mereka juga tutup mulut akan keberadaan kita," jelas Dira. Bia mengangguk. Sementara dunianya hanya sebatas pagar rumah.
"Divan tidur ya?" Dira mengangkat selimut Divan.
Anak itu langsung menepisnya. "Tidul agi, tidul agi. Divan bangun mamah dak da, papa uga. Divan cendili. Main ja bedua," protesnya.
Dira dan Bia sampai tertawa. Tangan Divan melipat di depan dada. Hidungnya kembang kempis. "Main pa cih? Napa Divan dak ajak?" tegurnya.
Bia mengecup jidat putranya. "Mamah sama papah bukan main, tapi hitung uang. Buat Divan beli mainan," dustanya.
Divan mengangguk-angguk. "Ouh, uang papah banak. Diitung nati ilang," ucapnya mengerti. Dira mengangguk saja meski kasihan juga putranya diakali begitu.
Tangan Dira memeluk Divan. "Tapi sekarang Papah sama mamah gak hitung uang. Divan dipeluk Papah dan mamah biar gak takut."
Mendengar itu Divan merasa senang. Ia baringkan tubuhnya dalam pelukan kedua orangtuanya. Beberapa kali ia mengejapkan mata hingga menguap. "Keleta api tutut sapa ikut utut," nyanyinya sambil mengantuk. Dira sampai nyengir mendengar suara anaknya bernyanyi.
"Tidur, Nak," saran Dira sambil menepuk tubuh Divan lembut. Dalan hitungan sepuluh tepukan, Divan akhirnya tidur juga. Ia menutup mata sambil memegang tangan Dira. Wajahnya begitu damai dan betah untuk dipandang.
"Maaf," ucap Dira.
Bia menatap suaminya. "Untuk?" tanya Bia bingung.
"Marah dan ngatain kamu. Gak pulang tiga hari dan terlambat menolong kalian," jawab Dira.
__ADS_1
Bia mengangguk. "Asal gak pulang tiga harinya bukan ke rumah Cloena Parviz, masih aku ampuni," jawab Bia sedikit ketus.
Dira menggetok kepala istrinya. "Aku tinggal pindah-pindah hotel. Mau pulang juga bingung. Selesai konser jam dua malam. Nanti malah ganggu. Lagian aku memang ketemua Cloe, tapi sebelum kita berantem," celetuk Dira. Kali ini dia dapat cubitan keras di lengan.
"Pelan! Divan lagi tidur, tauk!" protes Dira.
"Salah siapa. Kamu ketemu mantan dan gak ngomong sama aku. Tega kamu Dira! Tahu gini aku gak mau maafin." Bia memalingkan pandangan.
"Ampun, lagian dia yang datangin aku. Gak ada yang aneh-aneh, kok. Cuman, dia ngancam." Dira selalu memikirkan hal ini hingga tak nyenyak tidur. Ia sempat meminta nasehat Aaron dan saran pria itu agar Dira membagi masalahnya dengan Bia.
"Aku tak tahu Cloena bisa dapat dari mana. Ia punya video kami sedang berhubungan," jujur Dira.
Bohong jika Bia tak kaget mendengarnya. Mulut Bia sampai terbuka dan tubuhnya mematung. "Ia mengancam akan menyebarkannya jika aku tak kembali padanya. Aku tak peduli. Hanya saja aku tak mau kamu melihat itu," tambah Dira sambil menunduk pasrah.
Ia sempat membuat rencana membayar orang melalukan hack pada ponsel Cloena. Sayangnya, itu ilegal dan jika ketahuan bisa berhubungan dengan hukum.
"Apa dia akan menyebarkannya?" tanya Bia.
Bia mengangguk. Perbuatan itu kriminal karena sama saja dengan menyebarkan pornografi. Bia mengusap pipi Dira.
"Dengar, aku ini istri kamu. Orang bilang, ketika menikah mereka harus menerima kekurangan dan kelebihan di masa lalu dan merubah menjadi kebaikan. Aku tahu apa yang kamu perbuat dengan Cloena salah. Itu masa lalu dan sekarang aku ingin merubah kamu jadi lebih baik lagi," ucap Bia.
Dira mengangguk. Ia raih tangan Bia dan menciumnya. "Bi, aku dulu selalu marah pada Tuhan. Ia selalu biarkan aku merasa kesepian dan tak punya tujuan. Hidupku membosankan. Sekarang aku percaya Tuhan sangat baik," ucapnya.
Bibir Bia melengkung. "Kenapa?" tanyanya.
"Karena Tuhan kembalikan aku padamu," jawab Dira.
"Gak semua orang baik harus bersama orang baik dan orang jahat bersama orang jahat. Kadang yang salah dan benar harus bersama agar bisa mengajari yang salah itu jadi benar," nasehat Bia.
__ADS_1
Dira mengangguk saja. Ia turun dari ranjang. Kemudian Dira berjalan memutar dan berbaring di samping Bia. Ia menyandarkan kepala di dada Bia sambil mengejapkan mata. Tidak ada rasa nyaman yang melebihi kenyamanan yang Bia ciptakan untuknya.
Livetown gempar dalam sehari. Video Dira yang menuntun Bia berjalan sambil menggendong Divan jadi bahan perbincangan. Hugo ikut jadi sasaran pewawancara. Pria itu hanya bisa menggeleng pura-pura tidak tahu.
"Itu Drabia. Setahuku mereka memang pacaran waktu SMA dulu. Katanya dia didrop out dari kampus karena hamil di luar nikah," bocor salah satu alumni SMA mereka
Wajah dan suaranya disamarkan di televisi.
"Dia memang punya anak, tapi gak ada suami. Kemarin tiba-tiba pindah. Tahu-tahu ada di televisi gini." Tetangga Bia yang rumahnya tak jauh dari rumah sewa Mrs. Carol juga memberi keterangan.
Televisi di dinding apartemen Cloena jatuh ke lantai akibat dihantam vas bunga. Napasnya naik turun tak karuan dan jantunganya berdebar. Ia memegang tengkuk yang terasa berat. "Si alan! Bagaimana bisa wanita itu sama Dira. Anak itu! Cari tahu siapa anak itu!" tegas Cloena pada Cynthia.
Tangan Cynthia sampai bergetar saat mencoba menghubungi beberapa orang yang bisa menjadi narasumbernya. Namun, tak satu pun staff Dira yang membantu. Sikap Cloena selama ini membuat jalannya tertutup sendiri.
Cloena menggigit kukunya. Ia mulai panik dan ketakutan sendiri. "Aku gak mau kalah. Dira itu milikku. Hanya milikku!" pekiknya.
Ia menarik taplak meja hingga vasnya jatuh ke lantai dan pecah. "Aarrrrgghh! Harusnya sejak dulu aku cari wanita itu dan mele nyapkannya! Kenapa aku malah membiarkan ia hidup! Sekarang apa yang aku takuti terjadi, Dira diambilnya begitu saja!"
"Cloe, tenang dulu. Ini bukan akhir segalanya," nasehat Cynthia.
Cloe meraih kerah asistennya itu dan memelototinya. "Tenang? Priaku dia ambil! Aku yang harusnya bisa hidup mewah dengan harta keluarga Kenan, malah kehilangan semuanya. Apanya yang bisa membuatku tenang! Kehilangan Dira sama saja kehilangan kesempatanku untuk balas dendam. Tidak! Aku tidak terima!" pekik Cloena.
Ia meraih ponselnya dan mencoba menelpon salah satu wartawan yang ia kenal. "Halo, aku ingin mengungkap sesuatu," ucapnya.
🍁🍁🍁
Maaf ya, tanganku keram. Kemarin sudah ke dokter dan hasilnya harus istirahat gak boleh ngetik selama dua minggu. Bahkan nulis pake pulpen juga gak boleh 😭. Mungkin karena kemarin terlalu semangat.
Novel ini tetap up hari, kok. hanya karena ku punya cadangan cuman 20 episode, jadi hanya bisa di up 1 chapter sehari.
__ADS_1
Mohon doanya mudah-mudahan bisa sembuh lagi kayak semula 😭🙏