Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Kasih Komen Yang Banyak


__ADS_3

🍁🍁🍁


Suara pekikan rasa sakit Bia terdengar di seisi kamar. Baik selimut juga bantal sudah tak tertata rapi di atas ranjang. Goretan tanda di leher juga pipi menjadi saksi kekejaman Dira malam ini. Tawa dan pekik kesakitan menyatu ketika permainan mulai memanas di atas ranjang.


Dira memajukan tubuhnya. Pasangan itu saling berhadapan dengan jarak yang sangat dekat hingga terasa debaran di jantung Bia berdetak sangat cepat karena takut. Sementara itu, Dira sangat puas dan tak sabar melancarkan serangannya.


"Pelan-pelan, ya. Katanya kamu sayang aku. Jangan sampai luka," pinta Bia sambil sesekali mendesah khawatir.


"Gak akan luka, kok. Paling nyisain tanda merah dikit," timpal Dira. Posisinya semakin mendekat dengan Bia dan terasa embusan napas Dira begitu berat. Bia sudah siap menerima hukumannya malam itu. Dan beberapa detik kemudian ia kembali memekik kesakitan hingga berguling di atas tempat tidur.


"Sudah gak perlu berlebihan, mau lagi gak?" tawar Dira.


Bia yang menyimpan dendam kembali bangkit dan duduk. Ia berkacak pinggang dan siap mengambil posisi. Ia ambil dadu dan embernya. "Kali ini aku pasti yang menang," tekad Bia. Ia mengocok ember dadu lalu menumpahkannya. Muncul mata dadu empat. Bia mulai memajukan bidak dan lagi, ia jatuh di tanah milik Dira.


"Yes!" Dira berseru kegirangan. Ia meniup telunjuk dan jempolnya dan bersiap menyentil jidat Bia lagi kemudian menggoreskan cat air berwarna merah di wajah Bia.


"Sudah, ah! Main ini aku pasti kalah. Ganti saja pake yang lain!" protes Bia sambil melipat kertas monopoli dan memasukannya ke dalam dus beserta dadu dan uang mainan.

__ADS_1


"Apaan, sih! Curang! Bayar dulu hukumannya!" Dira tak mau mengalah. Dalam urusan game, tak ada hubungan rumah tangga.


"Ngalah kenapa, sih! Kayak Divan saja!" omel Bia sambil melipat tangan di dada.


"Kamu yang kayak Divan! Kalau kalah langsung ingin sudahan," ralat Dira.


Bia memunggunginya karena kesal. Ia menarik selimut yang jatuh ke lantai lalu berbaring dan menutup tubuh dengannya. "Aku mau tidur saja! Sebel!" keluh Bia. Tubuhnya ia tutupi hingga tak terlihat sama sekali.


Dira turun dari tempat tidur. Ia berjalan ke kulkas dan mengambil es krim lalu duduk di sofa. "Tidur yang nyenyak, sayang. Nanti bangun kalau es krimnya habis," pancing Dira.


Bia mengintip dengan membuka sedikit selimutnya. Melihat Dira menyimpan seember es krim di meja, wanita itu lekas berlari ke kamar mandi untuk membersihkan wajah. Kemudian Bia datang ke sofa dan merebut sendok Dira. "Kamu berdosa banget, ya! Suami lagi makan langsung main rebut saja!" protesnya.


Melihat wajah imut Bia saat menikmati es krim, Dira merasa gemas sendiri. Ia raih bagian belakang kepala Bia lalu ia renggut bibir istrinya itu. Ciuman pertama hanya beberapa detik. "Manis memang," komentar Dira.


Bia mematung menatap suaminya. Tatapan mereka masih bertabrakan hingga beberapa detik kemudian, Dira lagi-lagi merenggut bibir Bia.


Kali ini tak hanya hitungan detik. Hingga dua menit, posisi mereka masih belum terlepas. Malah semakin lama dan napas mereka semakin hangat. Bia merasa ada desiran kuat yang mengalir ke seluruh tubuh seperti panggilan batin.

__ADS_1


Dira menanggapi panggilan itu. Ia angkat tubuh Bia dalam pelukan dan mulai menyerbu ke lekukan leher hingga tulang belikat. Kali ini bukan kemerahan akibat sentilan, Dira membuat bekas itu dengan bibirnya.


"Ish," lenguh Bia yang masuk ke dalam panci panas dalam acara masak-masakan mereka malam itu. Dira masih tetap bergulat membawa Bia agar lebih rileks dan siap untuk dimasak.


Setelah kompor semakin panas. Dira menggendong Bia dan membawa wanita itu ke atas tempat tidur. Ia singkirkan selimut karena tahu permainan ini akan membuat keringat diperas hingga menganak sungai.


Satu per satu kotak kado dilepas. Dari pakaian luar hingga yang paling tersimpan di dalam. Kini, Bia hanya gelas kosong tanpa tutup yang siap dikocok dengan sendok. Sayangnya Dira tak punya sendok. Ia punya centong yang lebih besar dan kuat dalam urusan mengaduk gula di air hangat agar lebih larut.


"Kalau main ini bisa pelan, kan?" tanya Bia sambil menahan bahu Dira agar tak sembarangan memasukan sendok eh centong.


Dira mengangguk. Ia kecup kening Bia lalu siap memasukan centong ke dalam gelas yang sudah terbuka lebar ujungnya. Bia mengigit bagian bawah bibir begitu merasakan saat-saat ujung centong menyentuh sisi bibir gelasnya. Matanya memejam dan ketika terbuka, ia berusaha fokus pada enam kotak di perut Dira. Kotak-kotak coklat itu maju dan mundur dengan intonasi berbeda mengikuti masuk dan keluarnya centong di dalam gelas.


"Dira, aku gak nahan," keluh Bia. Dira meraih tubuh istrinya. Dari posisi berbaring, ia bawa Bia keposisi duduk saling berhadapan. Bibir Dira bermain semakin liar. Ia menjelajah hampir seluruh tubuh bagian depan Bia. Dari wajah hingga ke perut dan itu ia lakukan dalam posisi duduk.


Centong masih mengaduk di dalam gelas. Sementara gelas itu sendiri masih terus mengeluarkan bunyi tanda centong berkali-kali bertubrukan dengan dinding bagian dalam gelas. "Aku kangen kamu, Sayang," ucap Dira lembut.


Bulan menampakkan diri di balik halus awan yang berada di sekitarnya. Angin berembus pelan di luar sana. Kedua pasangan itu masih main masak-masakan di kamar. Seakan tahu jika orang tua mereka butuh waktu untuk mengakrabkan diri lagi, Divan dan Diandre tidur lelap di kamar tidur Divan.

__ADS_1


"Diande bobok, ya! Mamah sama papah lagi itung uang, loh! Banyak kali. Jangan ganggu nanti gak kasih jajan," nasehat Divan sebelum mereka tertidur.


🍁🍁🍁


__ADS_2