
🍁🍁🍁
Bia berlari ke ruangan tengah karena suara benda pecah. Ia kaget melihat vas dari kristal tinggal pecahan-pecahan di lantai. Tadinya Bia pikir itu Diandre, ternyata ada kucing dari luar yang masuk dan memecahkannya.
"Kucing nakal!" bentak salah satu pelayan. Bia meraih kucing itu dan menggendongnya. "Nyonya, biar saya kasih pelajaran dulu kucingnya," tawar pelayan itu.
Bia menggeleng. "Dia mana tahu itu vas mahal. Ini cuman kucing yang akalnya gak setinggi manusia. Justru manusia yang tinggi akalnya harus lebih hati-hati. Salah kita biarkan pintunya terbuka, ia pasti masuk cari makan," nasehat Bia.
Pelayannya mengangguk. "Bersihkan saja, Miss. Tolong kucingnya kasih makan. Kasihan kurus begini," pinta Bia.
Pelayannya mengangguk. Beberapa lekas membersihkan pecahan kristal yang berserakan dan salah satu memberikan kucing makan. Sementara itu Bia berjalan ke ruang main anak-anak. Ada Divan tengah mengerjakan tugas rumah. Tugasnya bukan seperti anak SD. Hanya menata mainan seindah mungkin.
"Tugasnya dilakukan sekarang, kak?" tanya Bia. Divan mengangguk. "Biar selesai foto terus Divan main, deh," jawab Divan. Padahal ia menata mainan sudah hampir satu jam karena merasa belum membuatnya puas. Bia lihat di buku parenting jika itu baik agar anak lebih kreatif.
"Semangat, kak. Itu bagus, kok. Sepertinya kak Divan belum puas, nih?" tambah Bia. Divan mengangguk. Ia mengambil mobil dalam wadah mainan dan menyimpannya di samping rumah-rumahan.
"Mamah tinggal dulu, mau cek Diandre," pamit Bia. Ia berjalan ke lapang. Pengasuh Diandre tengah membereskan mainan putranya. Bia kebingungan begitu melihat lapangan dan teras tak ada Diandre di sana.
__ADS_1
"Kak, Diandre mana?" tanya Bia pada pengasuh putra keduanya itu.
Pengasuh itu tampak bingung. Ia melirik ke sekitar dan tak melihat Diandre di manapun. "Tadi di sini, Nyonya. Saya baru beresin mainan, kok. Tuan Diandre masih main tadi," jelas pengasuh itu.
Bia mendadak syok. Dibanding mengomel pada pengasuh Diandre, ia lebih memilih mencari putranya hingga ke semak-semak. Sayangnya, Diandre tak ada di luar. Bia juga memeriksa kolam renang di belakang takutnya Diandre tercebur. Syukur tak ada Diandre di sana.
"Kamu di mana, Nak?" tanya Bia khawatir hingga terdengar gemetar suaranya. Ia memanggil seluruh pelayan untuk mencari keberadaan Diandre.
"Duh, kalau tadi aku gak sibuk ngangkat telpon, Diandre gak akan hilang," keluhnya sambil memeriksa seluruh sudut rumah. Apalagi rumah itu punya banyak ruangan dan kamar.
Divan mendengar kegaduhan di luar. Ia penasaran dan mencari tahu. Dalam pandangannya banyak orang berlalu-lalang. Hanya satu yang bisa Divan tangkap, mereka semua memanggil-manggil Diandre.
Divan mengangguk dan masih berdiri di ruang tengah sambil melihat pelayan tadi pergi meninggalkannya. "Diande hilang?" tanyanya pada diri sendiri.
"Wah, Diande hilang? Gak!" Setelah sadar, ia baru histeris. Divan mulai ikut panik. Ia berpikir ke mana adiknya pergi. "Diande diculik alien?" pikirnya dengan polos.
Divan mulai bergerak. Ia ikut memeriksa sudut rumah. Dari di bawah meja, sofa sampai di bawah taplak. Hanya saja belum juga ia temukan keberadaan Diandre. "Adik Diande ke mana? Marah sama kakak ya gak ajakin main?" keluh Divan sambil duduk di atas lantai dapur.
__ADS_1
Saat itu, tanpa sengaja Divan menemukan sebuah petunjuk. Ada kepala action figure gundam milik Dira di lantai. Kalau bukan Diandre, siapa lagi Divan pikir. Tak ada yang berani menyentuh itu karena tahu itu mahal.
"Diande, nakal. Mainan papah dirusak. Papah juga beli mainan gak dimainin," protesnya.
Divan mengambil kepala benda itu. Ia memperkirakan ke mana adiknya pergi. Hanya pintu menuju halaman samping terbuka. Divan turun ke sana memakai sandal besar yang ada di rak. Menelusuri batu pijakan, ia berjalan sampai ke ruang cuci.
"Diande!" panggil Divan. Ada tiga mesin cuci di sana dan beberapa ember cucian belum dicuci. Divan bergidik. Sepinya ruangan itu membuatnya takut hingga terasa dingin di telapak tangan dan kaki.
"Diande!" panggil Divan lagi. Diantara sepi itu, ia mendengar suara tawa renyah yang sangat ia kenal. "Diande mana? Ini kakak, loh!" panggil Divan.
Kaki mungilnya memberanikan diri masuk ke dalam ruangan. Divan memeriksa setiap sudut, tapi tak didapati Diandre. "Adek mau heli, gak?" tawar Divan memancing Diandre keluar.
"Papan!" panggil sebuah suara. Divan tahu itu Diandre karena begitu adiknya memanggil. Divan mengikuti asal di mana suara ada. Ada satu mesin cuci berpintu samping, pintunya terbuka. Divan menengok ke dalamnya.
"Diandre!" panggil Divan sambil tertawa. Merasa persembunyiannya diketahui, Diandre menutup wajah dengan telapak tangan sambil cekikikan. "Keluar. Mamah cari loh. Diandre nanti marahin papah loh," ancamnya.
Namanya anak satu tahun, Diandre mana mengerti ancaman. Ia malah mengambil tumpukan pakaian di dalam mesin cuci lalu menutup wajahnya. Divan geleng-geleng kepala. Lekas ia lari ke pintu. "Mamah! Diande di sini!" teriaknya.
__ADS_1
🍁🍁🍁