Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Benang Kusut


__ADS_3

"Jadi maksud kamu, Gwen Alvonz melabrak Cloena?" tanya Dira. Semakin menemukan petunjuk yang harusnya jadi titik terang, justru jawabannya malah semakin kelam.


"Dia lebih galak dari Cloe. Bahkan aku saja serem sampai demam begini," keluh Bia. Dira menyentil jidat istrinya hingga Bia berteriak kesakitan. "Jangan kasar-kasar, donk!"


"Sudahlah, kalau dia bilang jangan sampai terlibat mungkin memang seharusnya begitu. Lagipula kenapa Cloe gak pernah kapok, sekarang yang dia goda suami orang. Jelas istrinya murka," komentar Dira. Meski dia seorang pria, jika sampai papahnya selingkuh dengan daun muda, tetap saja Dira gak terima.


"Sekarang atau dulu? Kalau perselingkuhannya sekarang, harusnya dulu bukan Haley Alvonz yang membantu Cloena," ralat Bia.


Dira menggeleng. "Tak tahulah, kita harus waspada. Namun, bukan artinya kita terlibat dengan urusan mereka. Besok-besok jangan keluar rumah lagi tanpa izin dariku!" tegas Dira. Ia sentuh kening Bia yang masih panas.


Tangan Dira menarik lengan Bia ke dalam pangkuannya. Di sana Bia berbaring dengan manja dan merasakan kenyamanan ketika Dira mengusap rambutnya. "Aku tadinya ingin marah sama kamu. Sayangnya kamu demam, jadi kedaluarsa marahnya."


Bia terkekeh. Ia tarik selimut hingga ke lehernya. "Kata dokter juga, aku cuman salah diet. Besok-besok janji makannya teratur, deh!" janji Bia yang tak tahu kenapa malas Dira percayai. Paling nanti pagi lihat timbangan naik, Bia langsung merengek dan sarapan hanya sebuah apel.


"Kamu cantik, kok ... mau bagaimanapun juga," ucap Dira. Ia memajukan bibirnya agar mengenai bibir Bia. Tinggal satu senti lagi hingga bersentuhan, kedua bibir itu harus belok karena suara ketukan di pintu.


"Ya ampun! Ini jam sepuluh malam, siapa yang ganggu suami-istri lagi ngamar, sih?" protes Dira. Ia turun dari ranjang dan berjalan menuju pintu.


Seorang pelayan berdiri di sana. Ia memberi tanda hormat. "Tuan, ada Tuan Matteo menunggu di ruang tamu," ucapnya. Dira mengangguk. Ia langsung keluar dari kamar dan berjalan ke lantai bawah.


Bia melihat dari tempat tidur. "Padahal Divan lagi nginep, malah ada Matteo. Kalau begini aku harus sabar lagi. Mana sudah empat hari gak," keluh Bia.


Ia melirik ke samping, ada bantal Dira di sana. Bia mengambil bantal itu lalu memeluk dan menghirup baunya. "Ya ampun, wangi hasrat yang terpendam," celetuknya. Dia bicara ngawur sendiri dan tertawa sendiri.


Tangannya semakin erat memeluk bantal itu. "Matteo, pekalah ... pulang sana. Besok lagi!" omel Bia dalam hati. Jika saja telponnya tak berbunyi, Bia sudah semakin tenggelam dalam kehaluannya.


"Kak Sora?" sapa Bia setelah mengangkat telpon. Bukan suara kakak iparnya, malah terdengar suara dua bocah di sana.

__ADS_1


"Mamah, woy! Cuala Divan dengel, dak?" tanya Divan. Bia mudah sekali mengenali suara putranya yang gaduh melebihi suara klakson kendaraan.


"Lho, Tante Sora mana?" tanya Bia.


"Dak ada, cama Oom Dalen. Itung uang sana-sana," jawab Divan.


Bia menggaruk kening. "Terus ini siapa yang telpon?" tanya Bia. Ia takut jika Divan menggunakan ponsel tantenya tanpa izin.


"Emelie!" sahut bocah perempuan lima tahun yang menjadi cucu pertama keluarga Kenan.


Bia menepuk jidat. "Emelie, ponsel mamah tolong disimpan saja. Emelie tahu bagaimana sikap anak baik terhadap barang milik orang tua?" tegur Bia.


"Jaga ja. Liat dali jauh-jauh. Pegang kalau dibolehin." Malah Divan yang menjawab.


"Terus kenapa malah kamu ikut megang?" tegur Bia pada putranya.


"Divan, mamah bilang sama papah saja, ya? Mungkin besok Divan bisa jelaskan sama papah. Emelie juga, lebih baik besok biar jelaskan sama Papah Daren," ancam Bia.


Emelie dan Divan saling tatap. Wajah mereka memucat. Ponsel itu mereka temukan di nakas kamar Emelie karena tertinggal. Hebatnya, Emelie menghafal kode ponsel akibat sering melihat ibunya waktu membuka ponsel itu.


"Sekarang waktunya apa, ya?" tanya Bia.


"Bobok gemes!" jawab kedua anak itu bersamaan. Kemudian mereka lekas mematikan ponsel dan tertidur.


Bia menggelengkan kepala. Ini memang harus diberi tahukan pada Dira. Takutnya Divan juga ikut-ikutan.


Pintu kamar terbuka, Dira muncul dari sana. Melihat suaminya, Bia lekas merapikan diri. Namun, wajah Dira menyiratkan kekhawatiran.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Bia penasaran.


Dira memperlihatkan sebuah foto. Fotonya memang sudah terlihat lawas dan sebagian bagian mulai pudar. Namun, Bia masih bisa melihat jelas ada Cloena di sana bersama Haley.


"Ini apa maksudnya?" Bia lagi-lagi mengeluarkan pertanyaan. "Ini seragam SMA asli apa kostum untuk acara?"


"Kalau itu kostum, kenapa Haley memakai kostum yang sama? Aku sudah bilang kalau mereka dari SMA yang sama, kan?"


Bia mengangguk. "Kenapa masalah ini semakin rumit saja, sih?" Sampai-sampai Bia memijiti kening.


"Menurut kamu, dari foto ini bagaimana?" tanya Dira meminta pendapat istrinya.


"Mereka lagi pacaran?" tebak Bia.


Kepala Dira mengangguk. Ia naikkan kaki ke atas tempat tidur. "Jadi mereka pacaran sejak SMA, lalu Cloena dimanfaatkan agar aku jauh dari keluarga Kenan. Ternyata rencananya gagal dan Haley memutuskan ekornya agar bertahan hidup," tebak Dira. Tak lama ia menenggelamkan kepala ke bantal.


"Ah, bikin pusing kepala saja," protes Dira.


"Cuman, foto ini dapat dari mana? Bisa saja ini editan, kan?"


Dira menggeleng. "Cynthia minta bantuan Matteo memeriksa apartemen Cloena karena ada beberapa benda yang hilang. Tanpa sengaja Matteo menemukan foto ini di bawah kolong nakas kamar Cloena," cerita Dira.


"Fix, ini asli. Hanya, kalau memang Cloe hanya dimanfaatkan apa gak terlalu kayak sinetron televisi malam?"


Dira terkekeh. "Nah itu, kalau dimanfaatkan sepertinya Cloe terlalu bodoh. Sudah jelas aku jauh lebih ganteng dan kaya. Buat apa dukung Haley Alvonz?"


Mendengar itu, Bia langsung terbatuk-batuk. Untung Dira beneran tampan, kalau gak ... sudah habis wajahnya diberi tamparan oleh Bia agar sadar.

__ADS_1


🍁🍁🍁


__ADS_2