
Lily hanya mengaduk nasi yang ada di piring tanpa berniat memakannya. Ia sama sekali tidak memiliki nafsu makan, pikirannya masih melalang buana. Tentang hubungan Aric dan Veronica.
Jika memang mereka pernah bersama, sejauh mana keduanya menjalin hubungan itu. Berapa lama mereka menjalani kasih? Apa mereka hubungan mereka sudah sampai tahap itu?
Lily berdecak kesal, ia membanting sendoknya dengan keras, hingga benda logam itu jatuh ke lantai. Lily bangkit dari duduknya, ia berjalan ke arah balkon untuk menjernihkan pikiran.
Masa lalu Aric, Lily tidak tahu apa-apa tentang itu. Jangankan masa lalu, suaminya yang sekarang saja Lily belum begitu mengenalnya.
"Masuk," sahut Lily setelah mendengar seseorang mengetuk pintu kamar.
"Nyonya, apa sudah selesai makan?" tanya Bi Asih.
Lily memang meminta makan siang dikamar, dengan alasan tidak enak badan. Lily hanya menjawab pertanyaan Bi Asih dengan helaan nafas dalam.
Wanita paruh baya itu melangkah ke arah meja untuk membereskan makan siang Lily. Ia terkejut saat melihat tidak satupun makanan yang disentuh oleh Lily. Bahkan sendoknya juga ada di lantai.
"Apa masakan saya tidak sesuai selera Nyonya?"tanya Bi Asih, wanita itu merunduk untuk memungut sendok yang jatuh.
Lily menggeleng pelan.
"Tidak Bi, bukan seperti itu. Saya hanya sedang tidak ingin makan," kilah Lily, ia berjalan kemudian merebahkan tubuhnya di sofa.
"Tapi kasihan yang ada di perut Nyonya, dia butuh nutrisi agar bisa tumbuh dengan baik."
Lily menunduk, ia membelai lembut perutnya yang masih belum begitu terlihat buncit itu. Bi Asih benar, Lily tidak boleh membuat calon anaknya itu kelaparan, bagaimanapun keadaannya.
"Iya Bi, Nanti saya akan makan." Raut wajahnya terlihat sendu, Bi asih bisa yang melihat itu merasa tidak tega.
Ia tahu pasti ada sesuatu yang menganggu pikiran Lily, terlebih wanita hamil itu mengurung diri di kamar setelah pergi ke taman belakang bersama Veronica tadi.
"Nyonya maaf jika saya lancang mengatakan ini, tapi jika ada ada sesuatu yang menganggu pikiran Nyonya. Lebih baik tanyakan saja, jangan disimpan sendiri," tutur Bi Asih.
Lily menoleh, melihat wanita paruh baya yang sedang sibuk menata piring bekas makan Lily di nampan. Baru dua kali Lily bertemu dengannya, tetapi ia bisa merasa kalau Bi Asih begitu perduli padanya.
"Bi, bisa temani saya ngobrol nggak sebentar?" tanya Lily sambil menepuk sofa disampingnya.
"Bi Asih duduk sini, biar enak ngobrolnya." Wanita itu pun mengangguk, ia meletakkan kembali piring yang hendak di angkatnya. Dengan sungkan wanita itu duduk di sebelah Lily.
__ADS_1
"Bibi duduk dibawah aja ya," pinta Bi Asih, ia merasa tidak nyaman duduk diatas bersama majikannya seperti ini.
"Udah Bi, di sini aja," tukas Lily cepat. Dengan terpaksa Bi Asih menuruti keinginan Lily.
"Bi Asih udah lama ya kerja di sini?" tanya Lily.
"Sudah lama Nyonya, sejak saya masih remaja," jawab Bi Asih, ia menatap kedepan, mengingat masa lalunya.
"Sejak remaja? Bi Asih nggak nikah?" Bi Asih menggeleng, sebuah senyum tersungging di bibirnya. Sebuah senyum yang sangat sulit untuk diartikan.
"Saya mengabdikan seluruh hidup saya untuk rumah ini, Nyonya. Saya tidak pernah berpikir untuk menikah," jawabnya dengan tenang, tak ada keraguan sama sekali di wajahnya.
Lily menatap heran pada wanita yang duduk di sampingnya itu, sebegitu setianya wanita itu mengabdi pada keluarga ini, keluarga yang notabene hanya orang asing. Kenapa? Apa karena gaji yang besar? Rasanya tidak mungkin, uang saja tidak cukup untuk membuat seseorang setia sampai ke tahap itu.
"Nyonya kenapa diam? Apa ngobrolnya sudah selesai?" tanya Bi Asih, sebuah pertanyaan yang membuat Lily tersadar akan tujuan dia sebenarnya.
"Maaf Bi, saya jadi melamun saking kagetnya." Bi Asih hanya tersenyum mendengar jawaban Lily, wajahnya begitu tenang dan teduh.
"Bi Asih, Apa Bibi tau hubungan Aric dan Veronica?"
Lily memberengut kesal, belum juga Lily mendapatkan informasi dari Bi Asih.
"Sayang, Aku minta maaf karena tidak mengangkat telepon darimu, aku tidak sengaja melakukannya. Ponselku aku mode hening, aku sedang rapat saat itu." Aric meraih tangan Lily. Namun, wanita itu segera menarik kembali tangannya.
Rasa marahnya karena panggilan tak terjawab, sekarang rasa kesal itu berganti dengan rasa penasaran dan setitik cemburu, yang mulai menggerogoti hatinya.
"Nyonya sebaiknya, Anda tanyakan sendiri pertanyaan tadi pada Tuan muda, Saya . permisi dulu." Bi Asih bangkit dari duduknya, ia dengan cepat mengangkat nampan kemudian keluar dari ruangan itu.
Lily hanya bisa menghela nafasnya panjang, ia menatap punggung wanita paruh baya itu dengan tidak rela.
"Sayang, katakan sesuatu. Jangan diam seperti ini." Aric merusak kembali meraih tangan Lily, sekarang ia menggenggam tangan itu dengan erat.
Lily berusaha melepaskan, tetapi tenaga Lily kalah kuat. Ia pun akhirnya hanya bisa membiarkan laki-laki itu menggenggam tangannya sembari duduk bersimpuh di hadapannya.
Aric menatap sendu wajah sang istri, ia tidak bisa melihat Lily marah padanya seperti itu.
"Apa kau marah Sayang?"
__ADS_1
Lily hanya menggeleng, marah tentu saja tidak. Kesal lebih tepatnya, kesal karena dia tidak tahu apa-apa tentang suaminya sendiri. Lily merasa seperti seorang istri yang tidak berguna.
"Kalau tidak marah kenapa diam? Katakan sesuatu, aku tidak bisa menebak apa yang kau pikirkan jika diam seperti ini."
Tak sepatah katapun keluar dari mulut wanita cantik itu, entahlah dia sangat malas. Ia bahkan tidak menatap Aric yang bersimpuh didepannya.
Lily malah menatap arah luar jendela kamar yang terbuka, melihat hijaunya dedaunan yang melambai tertiup angin. Ia benar-benar mengacuhkan Aric.
Laki-laki itu hanya bisa menghela nafas dalam, perlahan ia merebahkan kepalanya di pangkuan Lily.
"Kau tahu Sayang, aku sangat takut kalau diam seperti ini. Aku tidak bisa menyelami mu lebih dalam lagi. Aku tahu aku salah, tapi bisakah kau berbelas kasih dan bicara padaku."
Lily sebenarnya juga tidak tega dia seperti ini pada Aric. Namun, hatinya masih merasa kesal.
"Apa kau juga sering bermanja seperti ini dengannya?" tanya Lily dengan wajah yang dingin.
Aric segera mendongakkan kepalanya, menatap Lily yang juga sedang menatapnya dengan tajam.
"Dia siapa?" tanya Aric bingung.
"Dia, mantan kekasihmu..Siapa lagi," ujar Lily dengan wajah nyalang. Ia tidak bisa lagi menyembunyikan rasa marahnya.
"Mantan? siapa yang kau maksud kan?"
"Veronica! siapa lagi memangnya? Berapa banyak mantanmu sebenarnya, heh? hingga kau bertanya siapa yang aku maksud!"
Lily menatap wajah sang istri yang enggan melihat ke arahnya. Wanita itu melipat kedua tangannya sambil membuang muka kearah lain.
"Apa kamu cemburu?" tanya Aric dengan wajah bahagia.
"Nggak!"
"Iya, kamu cemburu Sayang." Aric dengan serta merta memeluk erat tubuh Lily.
"Aku bilang nggak ya nggak! lepasin!" pekik Lily meronta.
Berbeda dengan Lily yang sedang kesal marah, Aric justru tersenyum dengan raut wajah yang begitu bahagia.
__ADS_1