
Matahari sudah mulai meninggi, sementara Aric masih bergulung dalam selimut. Lily pun membiarkannya, ia tidak tahu jam berapa suaminya itu baru terlelap.
Tengah malam Lily melihat Aric keluar kamar setelah menerima telepon, ia memutuskan untuk mengikuti Aric diam-diam dan ternyata pria itu masuk ke ruang kerja. Wajahnya terlihat sangat serius, seperti sesuatu yang tidak baik sedang terjadi.
Lily pun memutuskan untuk tidak menggangu dan kembali ke kamar. Lama ia menunggu Aric kembali hingga akhirnya Lily terlelap.
"Bunda, Ayah mana?" tanya Adam.
Pria kecil itu sedang menikmati roti bakar dengan selai strawberry kesukaannya.
"Ayah masih tidur, Sayang," jawab Lily.
"Yah ... padahal Adam pengen di anterin Ayah." Adam meletakkan kembali roti panggangnya kembali ke piring.
Pria kecil dengan seragam berwarna orange tertunduk lesu. Melihat wajah mungil Adam yang kecewa, Lily merasa tidak tega. Namun, ia juga tidak bisa membangunkan Aric sekarang. Suaminya pasti lelah, setelah begadang malam tadi.
"Sayang, Ayah sedang istirahat. Adam di antar sama Bunda saja ya," bujuk Lily.
__ADS_1
"Iya Bunda." Adam mengangguk kecil, Lily mengusap lembut rambut anaknya.
"Adam mau berangkat sama Ayah?" suara bariton milik Aric membuat Adam langsung mendongakkan kepalanya.
"Iya. Adam mau!" jawab Adam dengan penuh semangat, wajah yang tadinya redup seketika berbinar bahagia.
Lily mengerutkan keningnya, ia terkejut melihat Aric yang sudah rapi dengan setelan jas, pria itu tampak rapi dan segar.
"Bukannya kau masih tidur tadi?" tanya Lily dengan satu kerutan di keningnya.
Aric tersenyum, ia menarik kursi disamping Lily untuk dia duduk.
Lily memutar matanya jengah. Sepertinya dia salah karena mencemaskan Aric, laki-laki itu masih saja mesum seperti biasanya. Dia pasti baik-baik saja.
"Mana ada, jangan asal ngomong. Cepat habiskan sarapanmu, ini sudah siang."
Lily menyodorkan sepotong roti tawar yang sudah ia olesi dengan selai kacang, kemudian menuangkan segelas susu untuk suaminya.
__ADS_1
"Terima kasih, Sayang."
Aric mengambil roti tawar itu kemudian mulai menggigitnya. Setelah menyelesaikan sarapan, Aric segera berangkat ke kantor sekaligus mengantarkan Adam berangkat sekolah.
Sepanjang perjalanan, Adam terus berceloteh tentang keinginannya untuk memiliki seorang adik perempuan.
"Kenapa harus perempuan? Bagaimana kalau ternyata Bunda mengandung anak laki-laki?" tanya Aric dengan serius.
"Adam mau jadi pahlawan buat adik. Adik perempuan harus di lindungi, kalau adik laki-laki dia pasti kuat sama seperti Adam. Dia bisa jaga dirinya sendiri," jawab Adam polos.
Aric tersenyum mendengar jawaban anaknya.
"Adam memang hebat, tapi adik laki-laki ataupun perempuan mereka harus di lindungi dan di sayangi, karena mereka lebih muda dari kita. Kadang mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan berbahaya dan akan membahayakan orang lain, sebagai yang lebih tua kita harus menjaga mereka. Sekalipun mereka tidak menginginkannya," ujar Aric dengan serius.
Adam menatap sang Ayah dengan serius, dia mencoba mengerti apa yang disampaikan sang ayah.
"Jangan terlalu dipikirkan, intinya kita harus menyayangi keluarga kita. Mengerti."
__ADS_1
"Mengerti Ayah, tapi masih bolehkan Adam minta Adik perempuan? tangannya dengan wajah penuh harap.
"Iya, tentu saja. Ayah akan berusaha lebih keras sampai kau mendapatkan adik perempuan," jawab Aric dengan sungguh-sungguh.