Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Kado Untuk Papah Bukan Divan


__ADS_3

"Itu Papah?" tunjuk Divan pada layar televisi. Bia mengangguk. Dua bulan telah berlalu sejak Bia dan Dira resmi jadi sepasang suami istri. Kehidupan masih normal seperti biasanya, Dira masih menyembunyikan fakta pernikahan mereka dan keberadaan Divan belum diketahui publik.


Malam itu, acara penganugerahan musik sedang digelar. Dira masuk dalam enam kategori dan sejauh ini sudah empat penghargaan ia boyong. "Papah dapat piala, hole!" Divan berjingkrak di atas sofa. Ia senang melihat Dira diberi piala dan melakukan pidato kemangan untuk kesekian kalinya.


"Makanannya sudah siap, Bi?" tanya Sayu yang baru keluar dari kamar tamu. Bia mengangguk. Hari ini Hugo dan Aaron akan berkunjung untuk merayakan kemenangan mereka. Dira, Hugo dan Aaron masuk dalam tiga besar artis terpopuler di Livetown.


"Setidaknya ada teman Dira yang setuju dengan kamu." Ana duduk di samping Bia. Ada kacang di atas meja ruang keluarga. Itu camilan favorit Bia dari kecil.


Tak lama terdengar suara ponsel Bia. Ada nama Matteo muncul dari sana. Bia mengangkat telpon. "Iya Matteo?" tanya Bia.


"Nyonya Dira, jangan lupa hari ini kita ada pesta. Dira bilang kemungkinan akan tiba pukul sebelas malam," Matteo mengingatkan. Bia mengangguk. "Satu lagi, kata Dira Tuan kecil jangan disuruh tidur dulu. Dira ada kado," tambah Matteo.


Bia cekikikan sendiri. Matteo itu lucu banget, dia punya nama panggilan yang unik untuk Bia dan Divan, Nyonya Dira dan Tuan kecil.


Sementara itu, Kalvis - asisten Matteo datang dengan tangan yang dipenuhi banyak barang, dari tas kertas hingga kotak-kotak kado dan bunga.


"Ini apa, Kal?" tanya Bia.


Kalvis nyengir kuda. "Kado buat Dira dari fansnya," jawab Kalvis sambil menurunkan semua itu di samping televisi.


"Masih ada?" tanya Bia. Kalvis mengangguk. "Biar aku bantu." Bia mengikuti Kalvis ke luar begitu juga Sayu dan Ana.


Mata Divan terlihat berbinar melihat semua kado itu. "Wah, Divan ulang tayun!" serunya sambil mendekati kado dan mengangkatnya satu per satu untuk mendengarkan suara yang muncul saat kado itu ia guncangkan.


"Divan lagi apa?" tanya Bia saat ia kembali ke ruang keluarga membawa sebagian kado. Divan keluar dari tumpukan kado itu. Ia memperlihatkan wajah imutnya sambil mengenakan topi telinga Mickey Mouse dan memejamkan mata. "Divan senang dapat banak kado."


Sungguh Bia tak bisa membuatnya terluka dengan mengatakan jika kado itu milik Dira. "Iya, makanya malam ini pengecualian gak tidur lebih awal. Biar nanti buka kado sama Papah," ajak Bia. Divan mengangguk.


...🍁🍁🍁...


"Selamat, Dir!" ucap Ezra sambil memeluk Dira. Dira balas pelukan Ezra lalu giliran Kelvin yang memeluknya.


"Sampai jauh datang ke sini, kalian tumben jadi sepupu perhatian," kelakar Dira.

__ADS_1


"Perasaan setiap tahun kamu dapat penghargaan begini pasti aku dateng," protes Ezra.


Mereka berkumpul di teras belakang. Teras itu punya sofa dan sebuah meja yang berada di samping kolam renang.


Ezra membantu membuka botol sampanye. Mereka menikmati hidangan buatan Bia juga cup cake. Divan duduk di pangkuan Dira. "Pah, Divan da kado. Banak," laporannya pada Dira. Jelas Papahnya menatap Bia dengan heran.


"Kado dari fans," jawab Bia. Dira mencoba mengerti maksud perkataan Bia. Kemudian dia terkekeh.


"Wah, Divan hebat dapat kado banyak. Cuma sekarang waktunya kita sambut tamu. Ada Oom Hugo dan Oom Aaron. Sudah kenalan belum?" Dira menunjuk dua tamunya.


Divan menggeleng. Ia pikir anak itu akan malu melihat tamu, tapi Divan langsung mendekati mereka berdua sambil mengulurkan tangan. "Kenalan, Oom. Divan gateng," ucap Divan.


Baik Hugo dan Aaron tertawa melihat perilaku Divan. Hugo sampai menggendong anak itu. "Wah, beneran mirip Dira. Kayak hasil foto copy, loh."


Divan mengangguk-angguk seolah mengerti apa yang orang dewasa itu ucapkan. "Ada satu yang gak mirip, keponya," ledek Dira. Bia ikut tertawa. Divan kalau sudah kepo, akan bertanya sampai ada hal lain yang membuat perhatiannya berpaling.


Kegiatan makanan itu hangat karena obrolan mereka. Dari berbagi kenangan masa kecil, masa sekolah hingga pernikahan.


"Kayaknya cuman aku sama Hugo doank yang gak ngerti rasanya rumah tangga," ucap Aaron.


Aaron meneguk sampanyenya. "Inginnya begitu. Apalagi lihat Dira makin ceria habis nikah. Cuman, wanita di sekelilingku gak ada yang mau nikah muda. Mereka masih peduli dengan karir."


"Apalagi gerombolan Cloena. Perlu kaya seumur hidup buat nikahin mereka," kelakar Hugo.


Dira menyimpan gelas sampanye di atas meja. "Memang mereka bisa dinikahi?"


Aaron terkekeh. "Bukannya kamu dulu punya niatan begitu?" ledeknya membuat tawa semua orang di sana membahana.


"Anggap saja waktu itu kena sihir," Dira membela diri. Bia menepuk pundak Dira.


Divan berjingkrak di sisi kolam renang. "Van, mainnya di tempat aman, donk." Bia berdiri kemudian menuntun Divan ke tempat yang jauh dari kolam.


Malam semakin larut. Mereka banyak tertawa melihat tingkah Divan yang menari dan menyanyi sambil memegang gitar mainan. Tak jelas apa yang Divan nyanyikan, hanya terdengar nana, bla bla bla juga huhuhu.

__ADS_1


"Mana?" tanya Divan pada Hugo.


"Apa?" Hugo kebingungan sendiri dengan maksud Divan.


Anak itu menepuk keningnya. "Pemen. Oom janji!" tagihnya.


Hugo tertawa malu. Ia merogoh saku dan tak menemukan permen di sana. "Bayarnya nanti saja, ya?"


Divan manyun. Ia menggeleng. "Ekim?"


Dira terbatuk-batuk. Mendengar suara Papanya kontan Divan menunduk. "Kamu gak kapok sakit karena makan es krim kebanyakan?" tegur Dira.


Divan menggaruk belakang kepalanya. "Maaf, aku ilaf (khilaf)," ucapnya meniru gaya bicara Matteo.


Kontan Dira dan Bia tertawa juga Matteo. "Anakmu ini pintar sekali meniru orang," puji Matteo.


"Makanya kamu jangan seenak jidat berkata di depan anakku ini. Dengar tidak, bicaranya mulai aneh-aneh saja."


"Buah gak jatuh jauh dari pohon, Dir," ledek Matteo. Dira yang kesal mengambil bantal lalu melemparnya ke arah Matteo dengan keras.


"Hush! Papah! Jaat itu! Dak boleh!" omel Divan sambil menunjuk-nunjuk Dira.


"Tuh, apa kata anak kamu. Kamu itu jahat!" Matteo terlihat senang karena ada yang membelanya.


"Oom, juga nackal! Dak ledek Papah!" giliran Matteo yang kena omel.


Pukul satu malam, Divan tak mampu lagi menahan rasa kantuknya. Ia tertidur pulas di pangkuan Dira. Sesekali anak itu melantur. Ia menyebut kata es krim hingga berkali-kali.


Hugo dan Aaron memperhatikan Bia dan Dira yang sedang berbincang tentang sikap tidur Divan malam ini. "Mereka serasi banget, ya? Rasanya baru kemarin lihat Dira bucin sama Cloe tanpa tujuan. Sekarang dia sudah jadi ayah yang baik," puji Aaron. Hugo mengangguk.


"Mendadak jadi ingin nikah," celetuk Hugo.


🍁🍁🍁

__ADS_1


Jangan lupa follow wpku yak : elara_murako. aku ngiklan bukan karena pindah lapak, sayang saja ada novel di sana kagak ada yang baca. Bride Of The Heir nanti tayang di sini abis ADA tamat. 😄 Baca dulu episode awal-awalnya supaya nanti gak kejar2 pemilik spoker.


__ADS_2