
Wajah Dira bertekuk melihat istrinya berdandan di depan kaca juga mengenakan pakaian yang cantik. Bia bahkan mengenakan lipstick. Parfum disemprotkan hingga membuat ruangan turut wangi.
"Kalau mau ketemu orang saja cantik. Depan suami sendiri pasti alesannya sibuk ngurus Divan," dumel Dira dalam hati.
Bia selesai berdandan. Ia mengambil tas yang sudah ia sediakan di atas tempat tidur. "Ayo pergi!" ajak Bia pada suaminya yang tengah berdiri sambil melipat tangan di dada. Punggung Dira bersandar di jendela.
Jelas sekali hari ini Bia sangat senang. Kemarin-kemarin ia masih mengeluh akibat tak ingin ikut reuni. Tadi malam, tak tahu apa yang membuatnya mendadak semangat.
"Suamiku sayang yang gantengnya nanggung, ayo!" ajak Bia lagi sambil menahan pintu karena Dira tak jua bergerak.
Akhirnya Dira mengikuti saja. Sedang malas ia hari ini. Hanya kemeja putih bergaris abu berpadu celana jeans biru ia kenakan. Sepatunya juga hanya sepatu kets putih yang tingginya di bawah mata kaki. Untuk mencegah agar tak kedinginan, Dira mengenakan mantel coklat muda.
"Dira." Bia menarik tangan suaminya keluar rumah.
"Divan, ayo pergi," panggil Bia. Tak lama Divan menyusul berlari ke teras. Anak itu sudah Bia dandani sebelum Bia mandi. Syukur Divan tak macam-macam, jadi masih rapi seperti pertama Bia mendandaninya.
"Kamu kenapa, sih? Pagi-pagi sudah masam gitu mukanya?" tanya Bia yang baru peka jika suaminya sedang tidak mood.
"Kemarin bilangnya gak mau datang. Semalam ngobrol dengan Ana dan Sayu, kenapa malah mau datang? Ngobrolin apa?" tegur Dira.
Bia menggeleng-geleng. "Curigaan banget. Aku mau lihatin saja sama anak-anak kalau sekarang bukan beruang lagi," jawab Bia.
Dira mendengus. "Bukan sama Sunny?" tegurnya telak. Bia memutar bola matanya. "Kok diem?"
Lidah Bia menyentuh gigi seri atasnya. Ia mencari-cari alasan. "Kenapa Sunny? Memang dia siapa? Gantengan juga suamiku," jawabnya sambil mengacungkan jempol. Sayangnya Dira tak semudah itu percaya.
"Napa Divan dak da leuni?" tanya Divan dari kursi belakang.
"Kan Divan belum masuk sekolah," jelas Dira. Mendengar itu Divan mengangguk mengerti. Ia melirik ke luar jendela. Pemandangannya indah hingga Divan tak henti-hentinya berdecak kagum. Perumahan dengan desain klasik berpadu tanah yang mulai bersalju.
__ADS_1
"Nanti bikin olaf?" tanya Divan. Ia masih memiliki cita-cita membuat boneka salju ala film kartun Disn*y itu. Tahun lalu Divan masih setahun, ia belum mengerti betul pengalaman dengan salju. Sekarang anggap saja pengalaman pertama. Sejak lihat salju di film Divan paling cerewet menanyakan kapan musim dingin datang.
Cukup sepuluh menit, mereka tiba di gedung SMA di mana Dira dan Bia dulu sekolah. Acara diadakan di aula sekolah. Katanya sudah direncanakan jauh-jauh hari, tapi Dira baru mendapat undangan tiga hari lalu.
Mobil yang parkir ternyata sudah hampir memenuhi lapangan parkir. Dira sampai bingung mencari tempat parkir.
"Houh, banyak salaju!" seru Divan ketika membuka pintu mobil dan turun menapaki salju. Dira dan Bia menyusul. Sepatu boots hijau Divan sampai menimbulkan suara akibat anak itu melompat-lompat di atas salju.
"Di sini saljunya lebih tebal, ya?" tanya Dira sambil melihat-lihat sekelilingnya. Bia mengangguk-angguk. Padahal tidak jauh dari rumah, tapi intensitas saljunya turun lebih lebat.
Divan berjalan di tengah Bia dan Dira. Gedung sekolah itu masih saja seperti sebelumnya, bangun gaya Romawi karena zaman dulu konon pernah digunakan sebagai patheon.
Divan bahkan sampai mendongak akibat melihat pilar-pilar aula. "Atut, Mah!" Divan memeluk Bia karena takut melihat patung Singa di depan pintu.
Dira lekas menggendong putra kecilnya. "Jagoan. Itu cuman patung, kok. Ada papah di sini." Dira mengusap punggung Divan.
Ketika pasangan itu masuk ke dalam ruangan, jelas langsung mendapat perhatian. Orang-orang yang sedang mengobrol sampai diam dan mengalihkan pandangan pada Bia dan Dira.
"Lha, yang ngajak siapa?" Dira balas berbisik.
Mereka melihat ke sekeliling aula. Syukur, Bia bisa menemukan keberadaan Sayu dan Ana yang melambai dari kejauhan. Lekas Bia mengajak Dira menuju meja di mana sepupu-sepupunya berada.
"Kok telat?" tanya Sayu.
Bia nyengir. "Apalagi, suamiku ini paling jagoan urusan bangun siang." Mata Bia mendelik pada Dira. Balasannya, Dira menyikut lengan istrinya itu.
Pasangan itu duduk di meja terpisah. Bia duduk dengan Sayu dan Ana, sementara Dira dengan Kelvin dan Ezra. Satu meja memang hanya bisa diisi dengan empat orang.
Lagi, Bia merasa jadi bahan perhatian. Meski hanya sekilas, ia sudah beberapa kali melihat alumni lain menunjuk tempat ia dan Dira berada.
__ADS_1
"Acaranya apa saja, sih?" tanya Bia penasaran. Di undangan sama sekali tak dicantumkan susunan acara. Melihat ada panggung, sudah dipastikan ada live musik juga.
"Katanya ada penghargaan untuk guru-guru, makanya Bu Suli juga hadir. Terus makan-makan dan mungkin ngobrol dengan alumni lain," jawab Sayu.
Bia tertawa. "Reuniku sama kalian saja. Orang sama siswa lain gak ada akrab-akrabnya," kelakar Bia.
"Dira!" panggil beberapa pria yang sedang berjalan ke arah mereka. Bia mendelik. Sementara Dira melambai pada orang yang memanggilnya. Ternyata mereka teman satu klub Dira di tim basket dulu.
"Dia sih selalu seperti biasa, populer. Meski habis dihujat tetap memesona," keluh Bia.
Sayu dan Ana sampai tertawa mendengar keluhan Bia. "Mau bagaimana lagi? Sejak lahir Dira memang sudah cemerlang."
"Emang kamu gak ngerasain silaunya?" tanya Ana bercanda.
Bia tertawa. Tanpa ia sadari dari kejauhan beberapa orang wanita yang dulu sekelas dengannya sedang menjadikan Bia sebagai topik obrolan.
"Iyakan, tebakanku benar. Waktu aku sering mergokin dia sama Dira keluar motel, itu memang mereka. Kalian sih, gak percaya," ucap Mona. Meja keempat wanita itu memang jauh dari Bia sehingga mereka merasa aman membicarakan Bia dari jauh.
"Gak nyangka saja, sih. Padahal si Dira itu protek banget. Tahunya dia sendiri yang makan," Shalum ikut berkomentar.
"Waktu aku tahu Si Bia di DO dari kampus, aku sudah nebak kalo itu anaknya Dira. Terlalu mepet kalau dibilang anak orang. Soalnya pas wisuda mereka masih akur dan dia hamilnya sudah lima bulan, lho." Emily, alumni yang satu kampus dengan Bia dulu tak mau kalah.
"Terus kenapa gak kamu ramein saja di medsos?" tegur Shalum.
Emily menggeleng. "Yang benar saja, mana aku berani dengan keluarga Kenan."
"Masalah mereka juga makin runyam. Sekarang malah beruntun serangan pada Cloena Parviz. Gak aku pikir Cloena sekejam itu. Katanya ia malah dilaporkan ke polisi."
Shalum dan Emily bergidik membicarakan masalah Cloena yang semakin runyam semakin waktu berlalu. "Dira kelihatan biasa saja. Apa dia gak mikirin mantannya kena masalah?" tanya Mona penasaran.
__ADS_1
🍁🍁🍁
Pengen ngemis lagi, tapi takut ditampol 😍