
"Divan, bangun. Yuk, bangun dulu," ajak Bia. Ia mengusap rambut Divan. Dira tak mau angkat tangan, ia kecup berkali-kali pipi Divan hingga putranya itu bergerak-gerak karena geli.
"Jagoan! Bangun cepat! Ada kembang api, loh!" seru Dira. Dia dengan gemas mencubit gemas pipi tembem putranya itu.
"Dak! Dak mau tipu-tipu," omel Divan sambil masih menutup matanya. Kedua orang tuanya tak menyerah. Dira meraih tubuh Divan lalu mendudukannya di pangkuan.
Divan mengusap-ngusap mata. Ia sempat membuka mata, melihat Bia di depannya lalu terkulai ke kiri sambil menutup mata. Dira dan Bia sambil tertawa-tawa melihat usaha putranya itu untuk tetap tertidur.
"Divan, ada Kakak Emelie, loh. Jauh-jauh datang dari luar kota buat Divan," ungkap Bia.
Divan menggerak-gerakan tangannya. "Di isi basi sipiden klim up de walaten sopot," Divan menyanyikan laguΒ Itsy Bitsy Spider versinya sambil menggerak-gerakkan telapak tangan meniru gerakan laba-laba. Hanya matanya tetap tertutup.
"Lah, anak ini malah nyanyi," protes Dira.
Bia terkekeh. "Iya gimana lagi. Ayahnya 'kan penyanyi. Pasti dia senang nyanyi. Coba kalau ayahnya petinju," jelas Bia.
Dira tertawa. "Habis sudah orang-orang dia tonjokin sambil melantur," celetuknya.
Karena tahu akan percuma membangunkan Divan di kamar, Dira terpaksa menggendong Divan ke ruang tamu. Kepala Divan bersandar di bahu Dira. Tangannya masih saja bergerak-gerak menirukan gerakan laba-laba.
"Happy birthday Divan ... happy birthday Divan .... Panjang umur selalu. Happy birthday Divan." Semua orang di sana menyanyikan lagu ulang tahun. Divan sampai kaget dan langsung bangun. Ia melirik ke sekitar ruangan di mana orang-orang sudah memakai topi kerucut khas untuk acara ulang tahun.
__ADS_1
Begitu sadar apa yang terjadi, Divan baru tertawa. "Yeay, Divan ulang tayun lagi!" serunya. Ia bergerak-gerak minta diturunkan. Begitu melihat banyaknya kado di dekat kue ulang tahun yang lebih tinggi darinya, Divan lekas berlari menuju kado-kado itu dan menenggelamkan diri di sana.
"Kado banak na! Divan senang! Divan kaya!" serunya lagi sambil memegang pipinya dan bergerak-gerak lucu ke kanan dan kiri. Melihat kelakukannya, semua orang di sana tertawa senang. Divan keluar diantar kado-kado itu. Ia lihat lilin di atas kue yang masih belum menyala.
"Dak ada apinya. Ke mana loh!" Divan melihat ke samping kanan kiri sampai ke belakang tubuhnya. "Kolek mana kolek!" serunya.
Dira meraih Divan dengan cepat. "Ganti baju dulu sama cuci muka. Habis itu baru tiup lilin," saran Dira. Divan mengangguk.
Setelah lama menanti artis dari acara ini, akhirnya pesta bisa dimulai. Divan mengenakan baju pororo yang sudah sejak lama ia idam-idamkan. Baju itu berbentuk kostum sehingga dari kejauhan Divan terlihat seperti pinguin kartun itu.
Setelah menyanyi lagu tiup lilin, Divan langsung meniup lilin berangka tiga di atas kuenya. Sayang, berusaha semaksimal mungkin belum membuahkan hasil. Lilinnya tidak mati sama sekali.
Tak terima ditertawakan, Divan melirik ke arah papahnya. "Papah jangan tawa telus. Bantu, donk. Susah ini nih!" protesnya. Dira mengangguk-angguk saja sambil menahan tawa. Setelah menghitung sampai tiga, akhirnya Divan meniup lilin ulang tahun dibantu Dira.
"Divan harapannya apa di tahun ini?" tanya Sayu sambil mengambil rekamab video.
Tepat jam 12 malam di mana langit Emertown terhias kembang api, Divan bertambah usianya 1 tahun. "Divan mau kaya telus, banak uang, telus kata papah tuh idup mewah," absennya membuat semua orang tertawa lagi.
"Dia tahu semua definisi anak sultan memang," komentar Dustin.
"Itu yang ajarin papahnya semua," ungkap Bia.
__ADS_1
"Pantas, Dira memang petunjuk menuju jalan kesesatan!" ledek Dustin. Jelas pria yang baru berusia delapan belas tahun itu mendapat lemparan piring plastik dari kakak keduanya.
Mata Divan terbelalak melihat kembang api di halaman belakang. Ia terus berteriak senang di pangkuan Dira. Semua orang sibuk merayakan dengan acara baberque party.
Tawa dan canda menghiasi halaman belakang rumah itu. Bia melihat ke arah kursi di teras. Ia seakan melihat bayangan Nenek Benedith di sana sambil tersenyum melihat keluarganya lengkap terkumpul.
Bia mengusap lengannya. Matanya berpindah ke arah Divan dan Dira yang sedang menyalakan kembang api. Tawa Divan terlihat begitu renyah. Rasanya baru tahun lalu, Bia merayakan ulang tahun Divan hanya bertiga dengan Mrs. Carol.
"Bi, ayok makan dulu," ajak Mrs. Carol sambil menepuk lengan Bia. Wanita itu hanya mengangguk dan masih berdiri di sana mengawasi suami dan putra kecilnya.
Bia menarik napas panjang lalu ia embuskan pelan. Ia masih ingat tirai-tirai hijau, sorotan lampu ruang bersalin juga dokter dan perawat berpakaian biru.
Ia ingat dengan air matanya, rasa kesepian, rasa sakit dan juga kerinduan di malam ini. Rasa takut yang berubah menjadi keberanian begitu terdengar suara bayi memecah kesunyian ruangan itu. Bayi mungil yang kaki dan tangannya bergerak-gerak mencari-cari Bia.
Bayi itu kini bisa berdiri di kakinya sendiri. Ia bisa memegang batang kembang api dan menggerak-gerakannya. Bayi yang dulu hanya mengeluarkan tangisan dan mulai belajar memanggil kata 'papah' sambil menatap kosong ke jendela tanpa adanya balasan dari orang yang ia panggil. Kini ...
"Papah!" Setiap Divan memanggil nama itu. Pasti ada suara Dira yang membalasnya, "Iya, jagoanku!"
Bia tidak akan lagi berpegangan pada ranjang rumah sakit untuk mencari kekuatan. Karena kini, setiap kali dia takut dan sakit. "Ayok makan dulu," ajak Dira sambil menuntun Bia menuju meja makan di tengah halaman. Tangan Dira akan selalu memegang tangannya ...
πππ
__ADS_1