Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Dua Orang Tak Normal Di Halte Bus


__ADS_3

Emertown saat itu memang sedang mengalami masalah politik. Walikota yang baru, dianggap semena-mena. Ia menandatangani kesepakatan pembangunan dengan pengembang gedung bertingkat.


"Semua tahu kalau Emertown masih tua begini karena dilindungi sebagai cagar budaya. Ia malah salah paham dan bilang Emertown tidak maju dan harus dibangun. Padahal tujuannya ingin menjadikan Emertown memiliki penghasilan sebesar kota lain seperti Heren dan Scuziech." Karena terlalu banyak membaca berita, Dira begitu kritis akan isu-isu kenegaraan.


"Kamu sebenarnya mau jadi artis apa pejabat?" tanya Bia sambil terkekeh.


Dira tak mau kalah. Ia ikut tertawa. "Mau jadi suami kamu," jawabnya membuat Bia mematung dan wajahnya merona.


Dira memberikan keresek makanan pada Bia kemudian duduk di samping gadis itu. "Makan, nunggu taksinya masih lama."


Bia mengangguk. Ia melihat berbagai macam camilan di dalam keresek dan memilih chiki keju. Sementara Dira menyetel gitarnya.


"Dir," panggil Bia sambil memberikan kemasan chiki pada pacarnya itu. Dira mengambil kemasan dari tangan Bia. Tanpa meminta, Dira tahu sendiri Bia tak bisa membuka kemasan makanan.


"Ini makan, nanti sakit," tawar Dira memberikan kemasan yang sudah terbuka pada Bia. Gadis itu langsung menerimanya.


Sebelum Bia mengambil makanan dari dalam kemasan, Dira lekas melipat tangan kemeja seragam Bia agar tak kotor. Ia juga mengambil tissue dan menyimpannya di pangkuan Bia.


"Makasih," ucap Bia.


Setelah itu, Dira kembali menyetel gitar barunya. Ia sangat suka musik, seperti kakeknya dulu. Sayang, kakeknya tak pernah bisa mewujudkan impian menjadi penyanyi. Karena itu Dira sangat keras dengan impiannya.


Ketika hening diantara mereka, angin berhembus dan membawa awan yang menurunkan hujan. Bia menatap ke langit. Syukur air hujan tidak sampai ke tempat mereka duduk. Suhu dingin terasa hingga ke kulit. Cuaca seperti ini membuatnya sangat lapar. Begitu lapar hingga dua bungkus chiki ia habiskan sendiri.

__ADS_1


"Aku lebih suka Emertown seperti ini. Ada bangunan tua, peternakan dan pantai. Rasanya damai." Bia mulai kembali lagi membuka topik. Matanya melirik pada orang-orang di seberang sana yang berjalan mengenakan payung di sisi pertokoan kecil yang menjual sepatu hingga makanan.


Dira masih memetik gitar, berusaha menemukan nada yang pas di setiap senarnya. "Aku suka Emertown ketika ada kamu," timpal Dira sambil bernyanyi.


Bia tertawa. "Nyanyinya yang romantis. Masa gitu doank!" protesnya.


Dira melihat ke sisi kanan dan kiri meski tahu di halte itu hanya ada mereka yang terjebak karena hujan. "Untung gak ada orang. Kalau ada mereka harus bayar," kelakar Dira.


"Dengar, ya? Aku baru nulis lagu ini." Dira langsung merubah posisinya menghadap Bia. Ia mulai kembali memetik gitar dan masuk ke bagian intro lagu.


Reff :


Bolehkah nanti


Maukah kau jadi milikku


Kamu jawab iya


Bolehkan nanti


Jika ku ingin


Kau tetap di sampingku

__ADS_1


Kau bilang mau


"Itu lagu?" tanya Bia.


Dira mengangguk dengan yakin. Ia bahkan beberapa kali meminta Ezra dan Kelvin mendengarkannya. Kedua sepupunya itu bilang lagunya bagus.


"Kok kayak pemaksaan!" komentar Bia.


Dira menggetok kepala Bia karena kesal. "Pas sih, kamu juga suka maksa aku jadi pacar kamu," komentar Bia.


"Maksudnya memaksa dengan ketampananku?" kelakar Dira. Bia yang sebal balas menggetok kepala pacarnya.


Dari situ mereka mulai peperangan. Dira menoyor kepala Bia dan langsung di balas. Kemudian mulai saling injak kaki. Tak puas, sampai saling jambak. "Cowok macam apa yang gak ngalah!" omel Bia.


"Cewek macam apa maen KDRT!" timpal Dira. Suara hujan bahkan kalah dengan suara mereka. Meski datang berkelompok, hujan sepertinya kalah eksis. Mendadak mereka berhenti dan awan bergeser. Mentari muncul mengintip, takut karena Bia dan Dira masih saling serang.


Beberapa orang yang ingin menunggu bus batal ke halte. Mereka lebih senang menunggu di trotoar akibat berpikir jika pasangan itu sedikit sakit jiwa.


"Sudah ah capek!" keluh Dira yang kalah di ronde delapan. Rambut mereka sampai berantakan. Ketika sadar dan melihat ada banyak orang memperhatikan mereka dengan heran, Dira langsung menggendong tasnya dan berlari. Bia yang ditinggalkan kontan ikut berlari menyusul. Namun, karena badannya yang sedikit gendut ia kesulitan.


Bia membuka sebelah sepatunya lalu ia lempar ke arah Dira. Satu lemparan langsung kena. Dira berbalik dan baru sadar pacarnya tertinggal jauh.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2