Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Malam yang dingin


__ADS_3

Mendung bergelayut manja di langit malam ini. Semilir angin berhembus menambah hawa dingin suasana malam ini, sungguh sangat cocok untuk pasangan melakukan olahraga panas.


Sama seperti Aric, pria itu tidak patah arang untuk mengunjungi kecebong kesayangannya. Aric menyusupkan kedalam selimut, kedua tangan kokohnya melilit pinggang sang istri yang masih ramping. Bibirnya tak tinggal diam, ia mengecup leher belakang Lily dengan gencar.


Lily bukannya tidak merasakan hawa panas yang ada di belakangnya. tubuh Aric sangat panas, laki-laki itu sungguh butuh dirinya.


"Sayang, boleh ya. Aku akan pelan-pelan, melakukannya dengan lembut. Boleh ya?" tanya Aric merengek seperti anak kecil.


Ia bahkan dengan sengaja menempelkan junior, yang sudah berdiri tegak di balik celana piyamanya.


"Anakmu masih berusia 6 minggu, belum saatnya untukmu berkunjung," jawab Lily dengan tenang, atau lebih tepatnya berusaha tenang.


Bohong jika ia tidak tergoda dengan tingkah Aric. Jika boleh dia jujur, bagian bawah Lily juga sudah basah karena ulah Aric.


"Tapi aku menginginkanmu, aku akan melakukannya selembut mungkin," sahut Aric tak mau kalah.


Aric bukannya tidak tahu, tentang hal itu. Tetapi ia juga seorang laki-laki normal dengan hasrat yang besar.


"Baiklah, asalkan kau mau pake."


"Pake sarungkan!" potong Aric cepat.


Lily mengerutkan keningnya, ternyata suaminya itu sudah tahu. Aric melompat turun dari ranjang, ia segera melangkah mengambil sesuatu dari kaci meja yang ada di samping ranjang.


Lily memperhatikan Aric yang mengeluarkan beberapa kotak barang dari laci. Dengan senyum lebar Aric kembali naik ke ranjang.


"Mau pake yang mana, Sayang. Stroberi, pisang, polkadot, yang mana?"


Dengan antusias, Aric memperlihatkan persiapan tempurnya. Mata Lily melebar melihat kotak-kotak kecil yang di bawa Aric, meskipun sering melihat di minimarket tetapi Lily tidak pernah menyentuhnya.


"Apa saja terserah kamu!" pekik Lily, ia menarik selimut menutupi tubuh tubuhnya sampai kepala.


"Eh sayang, Kenapa di tutupi? Kau belum memilihnya, aku ingin kau pilih satu lalu bantu aku pasang."


"Pasang sendiri!" sahut Lily dalam gulungan selimut.


.


.


.


Rumah keluarga Wiguna.


Cindy tergopoh-gopoh turun dari mobilnya, dengan berlari ia masuk ke rumah.

__ADS_1


"Bu ...Ibu ...!" teriaknya kencang.


Cindy terus berteriak memanggil wanita yang telah melahirkannya 25 tahun yang lalu itu.


"Ada apa sih Cin, pulang-pulang teriak nggak jelas. Dari mana aja kamu, pergi dari pagi jam segini baru pulang," cerca Ana pada Cindy.


Cindy menarik tangan Ana. Ia mengajak sang Ibu ke dalam kamarnya.


"Kamu ini apa-apaan sih? masuk rumah teriak cari Ibu, sekarang ada Ibu. Malah kamu seret ke kamar."


"Sst, Bu jangan berisik dulu."


Setelah mereka sampai di kamar Cindy. wanita muda itu dengan cepat menutup pintunya.


"Ibu tahu nggak aku dari mana?" tanya Cindy dengan menggebu.


"Mana ibu tahu, kamu belum cerita," jawab Ana dengan heran.


"Aku habis ngikutin Lily Bu, wanita sialan itu."


"Apa Lily?"


Cindy mengangguk, senyum lebar masih menghiasi wajahnya.


"Ish .. Dengerin dulu makanya. Aki ketemu Lily pas dia beli buah sama cowok ganteng yang pernah aku ceritakan dulu Bu, trus tau nggak mereka pergi kemana?"


Ana menggelengkan kepalanya.


"Mereka pergi ke rumah keluarga Gulfaam, pemilik Gulfaam corporation. Perusahaan besar itu, Cindy nggak mungkin salah. Tadi aku lihat dengan jelas nama Gulfaam terpanggang di rumah itu," Cindy bercerita dengan mondar-mandir, sementara Ana duduk manis di tepi ranjang mendengar cerita anaknya.


"Laki-laki itu pasti seseorang dari keluarga Gulfaam, mereka masuk ke rumah itu pagi hari, dan baru pulang saat sore. Ibu tahu nggak, rumah laki-laki itu jiga gede banget Bu, aki semakin pengen gantiin Lily jadi sugar baby-nya.


"Dia pasti orang kaya raya dan terhormat. Punya hubungan dengan keluarga Gulfaam, aku harus mendapatkannya. Enak aja Lily bisa dapetin cowok tajir melintir kayak gitu. Sementara aku dapat bekasnya, nggak adil. Aku nggak terima!"


"Kalau begitu tunggu apa lagi, kau harus segera bergerak sebelum hubungan mereka lebih jauh," sahut sang Ibu.


"Bagaimana kalau kita dekati Lily dulu?" usul Ana.


"Ibu memang terbaik , tapi masalah ini jangan sampai Ayah tahu."


"Iya, Bu. Aku tahu, Ayah masih menyayangi wanita jal*lag itu."


Cindy menyeringai, ia membayangkan bagaimana hidup sebagai seorang ratu di masion besar itu. Fasilitas lengkap, dengan uang tanpa limit.


"Aku pasti akan mendapatkannya," Gumam Cindy.

__ADS_1


"Lalu bagaimana dengan Dion?" tanya Ana pada Cindy.


"Kenapa Dion bukan apa-apa di bandingkan dengan pria itu Bu."


"Cindy akan gunakan Dion sebagai ban serep, nggak apa-apa kan Bu?" tanya Cindy.


"Tentu dong, tapi kalau bisa. Kami harus mendapatkannya."


"Jangan khawatir Bu, tidak ada seorang laki-laki pun yang tahan dengan pesona Cindy!" Sahut Cindy dengan penuh percaya diri


.


.


.


.


Malam yang dingin menjadi panas di kamar Aric, peluh bercucuran dari keningnya. Laki-laki itu tak henti menaik turunkan tubuhnya dengan cepat. Berharap keringat ini bisa membawa pergi rasa inginnya.


"seratus empat puluh sembilan, seratus lima puluh. Huft ....!" Aric merebahkan dirinya yang penuh peluh diatas karpet.


Ia baru saja menyelesaikan push up sebanyak 150 kali. Lily tertidur dalam gulungan selimut, Aric tak tega untuk membangunkannya Akhirnya Aric memilih mengeluarkan keringat dengan berolahraga.


Nasib malang Aric, pria itu harus melanjutkan ritualnya dengan mandi air dingin. Agar otaknya waras dari hal-hal surga dunia yang begitu membahagiakan.


Aric bangkit dari langit dengan malas ia berjalan ke kamar mandi, tapi sebelum itu Aric sempat melihat kearah ranjang. Wanita itu tidur sangat lelap, sepertinya ia kelelahan.


Aric melangkah gontai ke kamar mandi, ia melepas semua kain yang melekat di tubuhnya. Aric menyalakan shower, ia biarkan rintikan air dingin membasahinya dari ujung kepala.


Ia melihat kebawah, Aric berdecak kesal karena junior tak bisa diajak kompromi.


"Kenapa kau masih tegak berdiri di sana. Apa kau y tahu kita gagal pulang malam ini," gumam Aric kecewa.


Setelah cukup lama di guyur air dingin. Aric pun kembali berbaring di samping istrinya.


Ciuman selamat malam ia berikan pada Lily.


"Selamat malam istriku, semoga mimpi indah."


Aric memeluk erat tubuh Lily. Memejamkan matanya agar bisa pergi mengikuti pulau kapuk.


Malam ini berlalu seperti malam sebelumnya. Aric gagal mendapatkan jatah, di malam yang dingin ini.


Aric sadar ia terlalu memasakkan kehendaknya pada Lily. Tetapi Aric juga pria biasa, punya keinginan yang harus ia tuntaskan.

__ADS_1


__ADS_2