Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Air Kemasan Kesayangan Kalian


__ADS_3

Malam itu, seperti biasa Bia membereskan meja-meja toko yang dipenuhi plastik bekas roti juga gelas kopi sekali pakai.


Para pelanggan ini memang sulit mengerti jika di cafe-cafe sepanjang jalan ini menggunakan self service, di mana pelanggan harus membuang sendiri sampah makanan juga mengambil sendiri dari kasir. Namun, mereka sering lupa dengan urusan buang sampah.


"Kalau begini, pekerjaan yang bukan tupoksi jadi harus dikerjakan juga," protes Melvi. Ia selalu ingin cepat pulang. Padahal yang punya anak kecil itu Bia.


"Sabar, namanya juga manusia. Gak semua bisa diatur. Kalau sama semua, bukannya gak rame?" Bia menepuk pundak Melvi.


Sementara Jared masih mengangkat beberapa bahan roti dari mobil ke gudang. Belakangan Emertown sedang kelam gara-gara kasus penjarahan. Kejamnya hidup di kota besar lain membuat pendatang menyerbu Emertown. Sayangnya beberapa diantara mereka memanfaatkan kondisi kota tua ini untuk melakukan kejahatan.


"Mau pulang kapan, Bi? Sebentar lagi jam tujuh, lho!" tanya Melvi. Bia membuang sampah terakhir yang ia temukan kemudian berbalik ke arah Melvi yang sedang bersandar pada rak roti.


"Sebentar lagi. Aku cuci tangan dulu dan ganti baju," jawab Bia.


Melvi mengangguk. Sementara Bia sudah bersiap membuka celemek sambil berjalan ke ruang ganti. Tiba-tiba lonceng pintu terdengar, pintu itu akan membunyikan bel setiap ada orang yang masuk memang. Jadilah Bia berbalik dulu untuk menyalami pelanggan.


Mata Bia terbelalak melihat sosok Cloe berdiri di depan pintu sambil melipat tangan di depan dada. Wanita itu melotot ke arah Bia seperti siap menerkam. Tak tahu dari mana Cloe tahu tempat ini. Melvi sama kagetnya. Dari situ, Cloe berjalan mendekati Bia.

__ADS_1


"Mana Dira?" tanya Cloe dengan suara tinggi hingga membuat tangan Bia terasa dingin.


Bia menggeleng. Ia memang tidak tahu Dira manggung di mana. "Jangan bohong!" bentak Cloe. Bia lagi-lagi menggeleng.


Tangan Cloe bergerak begitu cepat menjambak rambut Bia. Jelas Bia langsung berteriak kesakitan. "Kalau kamu gak kasih tahu di mana Dira, akan aku buat rontok rambut kamu ini!"


"Ampun! Kenapa kamu bersikap begini?" Bia mencoba melepaskan tangan Cloe dari rambutnya.


Melvi berlari menghampiri mereka. "Maaf, Nona! Bukannya gak sopan menyakiti orang seperti ini tanpa alasan?" Melvi mencoba melepaskan Bia dari Cloe. Syukur ia bisa melakukan itu. Dengan cepat Melvi langsung membuat pagar diantara Bia dan Cloe.


"Minggir!" titah Cloe sambil berusaha mendorong Melvi. Syukur Melvi sama kuatnya.


Bia menggeleng-geleng. Tangannya bergetar dan basah. Ia sama sekali tak menyangka jika Cleo seganas ini. An jing tetangga saja kalah galaknya. Melvi juga merasakan hal yang sama dengan Bia.


"Dengar ya perempuan miskin yang hina! Kalau sampai aku tahu kamu rebut Dira dariku! Aku janji gak bakalan biarin hidup kamu tenang! Dasar ja lang!" hina Cloe.


Mendengar itu jelas Bia tidak terima. Kenapa ia yang dianggap pelakor di sini? "Maaf ya Nona, bukannya kamu yang rebut Dira dari saya?" balas Bia meski tidak sama kerasnya dengan Cloe. Tak terima Cloe mengerahkan seluruh tenaganya. Ia dorong Melvi hingga gadis itu terjatuh. Kemudian mendekati Bia dan menamparnya dengan keras.

__ADS_1


Jared yang melihat hal itu diam saja. Ia pikir dengan sikap Cloe akan membuat Bia mundur dekat kembali dengan Dira.


"Ngaca dulu! Kamu pikir kamu pantas dapatkan Dira? Kamu itu jelek dan miskin! Dira lebih pantas denganku! Kalau kamu gak suka dia aku rebut, salahkan wajah kamu yang buruk rupa itu!" tekan Cloe. Ia mengendus tubuh Bia dan mengibaskan tangan di depan hidung. "Bau kamu gak enak," tambahnya.


Mata Cloe begitu mendominasi hingga Bia langsung berpaling ketika berpapasan dengan mata itu. Cloe mengibas rambutnya. "Ingat ini! Aku pasti akan ambil Dira kembali!"


Setelah berkata begitu, Cloe langsung meninggalkan toko. Melvi bangkit sambil mengusap sikutnya. "Gak nyangka! Di depan televisi sama media saja orangnya halus dan lembut. Aslinya kayak nenek sihir! Ngeri aku!" umpat Melvi. Ia menghadap ke arah Bia dan kaget karena melihat gadis itu menangis.


"Bi?" panggil Melvi.


Bia menatap Melvi dengan tatapan lirih. "Aku sampai kapanpun memang tak pantas untuk Dira. Aku ini hanya membuat Dira malu!" Air mata Bia mengalir ke pipi.


Jared tersenyum sinis. Ia berlari mendekati Bia dan menolong. "Kamu gak apa-apa kan, Bi. Aku sudah bilang, kamu hanya akan menderita kalau kembali pada pria itu," nasehat Jared.


Melvi memperlihatkan tinju di depannya. "Dasar gak punya adat kamu itu. Orang lagi rame bukannya nolongin malah nonton! Sekarang ngomporin!" omel Melvi.


Bia duduk bersila. Ia usap air matanya. Dulu dan sekarang sama saja. Dia tak pernah pantas untuk Dira. Jika kembali, dunia hanya akan menentang. Karena itu ia ingin putus, karena itu ia ingin lari meski Divan ada. Bukan karena hatinya tak bisa menerima Dira, tapi dia tak bisa diterima di sisi Dira oleh siapapun.

__ADS_1


🌿🌿🌿


__ADS_2