Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Happiness


__ADS_3

Semilir angin musim semi membelai lembut dedaunan mungil yang baru saja bangun dari tidur panjang, selama musim dingin. Suara langkah mungil seorang gadis kecil, dengan sepatu warna merah muda yang beradu dengan lantai marmer meriuhkan mansion.


"Anne, berhenti!" teriak seorang wanita.


"Nggak mau, Anne nggak mau mandi!" Gadis kecil itu berlari semakin kencang.


Bruk.


Gadis kecil itu menabrak seorang anak laki-laki bertubuh tegap dan tampan, dia adalah Adam.


"Kak Adam jangan berdiri di sini, Anne kan jadi nubruk," keluh gadis berusia 4 tahun itu.


"Kak Adam salah apa? kau saja yang tidak hati-hati. Kau kabur lagi dari Aunty Helena kan," tebak Adam.


Anne menyengir memamerkan giginya yang sudah hilang dua. Adam menggeleng, dia


menangkap tangan Anne sebelum gadis itu hendak kabur lagi.


"Anne, ayo mandi," ucap Helena sambil ngos-ngosan.


Sungguh tenaganya terkuras habis untuk mengejar putri kecilnya itu. Ia merasa lega, melihat Adam sudah memegang tangan pemberontak kecil itu.


"Terima kasih Adam, Anne mandi sekarang!" titah Helena dengan mata yang menajam.


"Nggak mau, Anne nggak mau mandi Mom," rengek Anne Mata beningnya menatap Adam mencoba mencari perlindungan.


Adam dengan santai menaikkan kedua alisnya, Anne pun mengangguk dengan wajah yang ditekuk masam. Anne memang selalu seperti itu dengan Adam, hanya dengan Adam Anne menurut.


Gadis kecil itu pun akhirnya mengikuti sang Mommy, yang menariknya ke kamar, untuk mandi. Adam pun terpaksa ikut, karena Anne tidak mau melepaskan tangan dari Adam.


"Lihatlah, anakmu sudah pandai menjadi pawang wanita," bisik Aric pada sang istri.


"Pawang? kau pikir Anne itu binatang." ucap Lily sambil menyikut perut Aric.

__ADS_1


"Bukan seperti itu, Sayang. Hanya saja kadang aku heran, Anne begitu menurut dengan Adam. Bahkan Helena saja kewalahan dengan tingkah laku putrinya."


Lily, mengangkat bahunya. Hari ini Lily dan keluarga kecilnya mengunjungi mansion Marquis. Mereka sering saling mengunjungi tiap weekend, Aric sudah akan menjadi Ayah dari empat orang anak dan Marquis telah menjadi seorang Daddy dari pernikahannya dengan Helena.


"Halo Besan, apa yang kau bawa hari ini?" tanya Marquis tanpa malu. Ia menggosok kedua tangannya melihat kantong plastik yang ditenteng Aric.


"Nih, Wagyu." Aric melemparkan kantong plastik itu pada Marquis.


"Woah, sempurna. Kau memang besan terbaik!" Ujar Marquis sambil menunduk melihat isi kantong kresek yang penuh, berisi daging kualitas terbaik.


"Apa semuanya sudah siap?" tanya Aric sambil melingkarkan tangannya di pinggang Lily yang sudah melebar dua kali lipat.


"Sudah, aku menyiapkan semua di halaman belakang."


"Ayo Sayang, hati-hati jalannya." Aric memegangi tangan Lily, menuntunnya dengan sangat lembut.


"Aku bisa jalan sendiri, Aku hanya hamil bukan sakit," keluh Lily.


Tapi Aric sama sekali tidak menggubrisnya, ia tetap memegangi tangan Lily. Ia sangat protektif terhadap sang istri, apalagi sekarang ada dua nyawa yang bersemayam di rahim Lily.


"Bunda." Jason segera berlari menyongsong Ayah dan bundanya.


Aric memeluk erat tubuh putra kecilnya, lalu mengangkatnya tinggi.


Malam itu kedua keluarga berkumpul bersama, mengadakan barbeque dihalaman belakang mansion Marquis.


Aric dan Marquis sibuk membakar daging dan sayuran diatas pemanggang besar. Lily dan Helena bercengkrama sambil duduk santai menanti kedua koki merampungkan masakan mereka. Adam, sebagai anak paling tua menjaga adik-adiknya, Anne dan Jason yang bermain dengan anjing peliharaan Marquis.


"Perutmu sudah semakin besar," celetuk Helena.


"Ya, padahal baru lima bulan tapi sudah sebesar ini." Lily mengusap perut buncit sambil tersenyum.


"Tidak sia-sia Aric berkerja keras, selama lima tahun terakhir," sindir Helena, sambil menyesap kopi miliknya.

__ADS_1


Lily hanya tersenyum dengan sindiran temannya itu. Lily sudah menganggap Helena sebagai saudaranya sendiri.


"Makanan siap!" seru Aric sambil membawa dua piring yang berisi daging bakar pada dua ratu yang sedang bersantai.


Sementara itu Marquis membantu anak-anak untuk memotong dagingnya menjadi lebih kecil, agar mudah di makan. Aric memberikan satu piring untuk Helena.


"Terima kasih," ucap Helena. Ia kemudian berdiri dan berjalan mendekati suaminya, dia lebih baik menjauh dari Aric saat bersama Lily. Jika tidak ia bisa jadi obat nyamuk dadakan.


"Ayo Sayang, buka mulutnya." Aric menyuapkan sepotong daging bakar pada sang istri, Lily tersenyum ia pun membuka mulutnya.


Lily melihat sekitar, Anak-anak yang sehat dan bahagia, teman yang baik, suami yang sangat mencintainya, semuanya begitu sempurna walau tanpa keluarga. Tanpa terasa mata Lily basah dan melelahkan kristal bening.


"Sayang, kenapa menangis? Apa dagingnya tidak enak?" tanya Aric dengan cemas, ia segera mengusap air mata Lily.


Lily menggeleng pelan, ia menatap Aric penuh makna.


"Terima kasih, kau sudah membuat hidupku begitu sempurna," ucap Lily dengan lembut.


Aric meletakkan piring yang ia bawa di meja, ia mengecup kening Lily cukup lama.


"Kau yang membuatnya sempurna Sayang." Aric merengkuh sang istri dengan penuh kasih sayang.


Lily sangat amat bahagia dengan keluarga kecilnya, Adam dan Jason juga kedua bayi yang dikandungnya. Suami yang selalu siaga dan penuh kelembutan.


Sesuai dengan janji Aric, dia menyita harta Guntur tapi tidak membuat orang tua angkat Lily kekurangan. Aric menempatkan mereka di panti sosial yang di bangun Aric, mereka tinggal di sana sebagai pegawai.


Sementara itu Cindy bekerja di salah satu klub malam milo Aric, tanpa ia tahu klub itu milik kakak iparnya. Aric harus mengawasi Cindy, ia tidak ingin wanita itu menganggu istrinya lagi.


Terima kasih telah mengikuti cerita Aric dan Lily.


Ceritanya sampai sini ya.🙏🙏🙈🤗


Mak mau fokus sama Juminten. Jangan lupa mampir 😘😘😘😘😘 lope you All, see you again

__ADS_1



__ADS_2