Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Amarah


__ADS_3

Dira berdiri menghadap ke jendela gedung kantornya. Pikirannya sedang tak dingin sekarang. Semua orang yang masih duduk di meja rapat bisa merasakan aura kemarahannya. Apalagi mendengar suara Dira yang menarik dan mengembuskan napas dengan berat.


Pria itu berbalik dan semua orang di meja rapat langsung menunduk. "Panggil dia! Aku ingin beri perhitungan." Suara Dira terdengar ketus. Pria itu duduk di kursi utama meja rapat. Ia melipat tangan di dada sambil menyandarkan punggung yang terasa tegang akibat amarah.


Ruangan itu sangat luas. Sekatnya dengan ruangan lain terbuat dari kaca tebal. Ada meja rapat panjang di tengahnya berwarna silver. Setiap sisi berbaris rapi kursi dengan permukaan kulit berwarna hitam. Kecuali sisi di mana Dira berada, hanya ada satu kursi di sana dan ukurannya lebih besar.


Tak lama remaja yang menjadi tokoh utama di video itu datang. Ia masih belum tahu masalah apa yang ia dapati sekarang.


"Duduk!" Suara Dira terdengar sinis sambil menunjuk sebuah kursi di sisi kanan meja. Perempuan itu mengangguk dan duduk di sana. Wajahnya sama sekali tak menunjukkan rasa takut. Malah merasa senang dipanggil ke sana. Pikirnya ia akan menjadi salah satu trainee debut.


"Tunggu sampai Mr. Ron datang," tekan Dira. Pria itu memijiti keningnya.


Mendengar nama Ron, mulai berdebar jantung Ceril. Ia melihat jajaran dewan direktur yang ada di meja itu dan tak ada Mr. Ron di sana.


Dira melihat jam tangan. Sekarang sudah sore dan masalahnya masih belum bisa diatasi akibat video itu mulai menyebar di internet. Ahli IT yang dibayar perusahaan Dira tengah berusaha menghentikan penyebarannya.


Pikiran Dira juga sedang kalut mengingat Bia yang menjemput Divan pulang. Ia khawatir dengan keberadaan Zayn. Teringat di masa lalu bagaiman Zayn selalu berusaha memonopoli Bia untuk dirinya sendiri. Meski Bia tetap selalu memilih Dira, keberadaan Zayn tetap terasa menganggu.

__ADS_1


Zayn selalu dimanja karena ia putra satu-satunya, sehingga apa yang ia inginkan harus selalu dituruti. Tentu sikap kekanak-kanakan seperti itu tak mudah berubah dan itu yang Dira takutkan jika Zayn menginginkan Bia.


Dari tembok kacanya, Dira bisa melihat Mr. Ron masuk ke dalam ruangan. Pria itu membuka pintu kaca ruangan. Ia menunduk tanda hormat pada Dira hingga terkaget melihat sosok wanita yang sering bermain dengannya duduk juga di ruang rapat.


Dira dan Mr. Pier sengaja tak memberi tahu keduanya agar mereka hadir dan tak kabur dari tanggung jawab. Dira melirik sekretarisnya, Ed. Ia memberi kode agar Ed memainkan video yang sudah dipindah ke dalam laptop kerja Dira.


Saat itu pula baik Mr. Ron dan Ceril terbelalak melihat adegan panas mereka di monitor. Hanya beberapa detik, Ed langsung mematikannya.


"Video ini sedang dalam proses penyebaran di internet. Aku masih berusaha menahannya," ucap Dira.


"Ekspektasiku sudah sangat tinggi tentang agensi ini, tapi harga dirinya ternoda akibat perbuatan direktur bejat dan trainee curang!" Tangan Dira sampai memukul meja saking emosinya.


Dira menatap Mr. Pier. "Aku sudah bilang dari awal, agar mencari trainee sendiri. Jangan pilih rekomendasi dari atasan lain. Ini yang aku takutkan, sebelum jadi rekomendasi mereka dipakai dulu di atas tempat tidur!" sindir Dira.


Dira menatap tajam Ceril. "Kamu sendiri apa gak mikir? Pria ini lebih tua tiga puluh tahun darimu. Anaknya saja sebesar kamu. Umur sembilan belas tahun, banyak hal yang bisa kamu capai. Kenapa harus menjual diri?"


Mendengar perkataan Dira, Ceril langsung histeris. Ia menangis sambil menutup wajahnya. Itu sama sekali tak membuat Dira iba. Apalagi wajah yang mirip Bia itu.

__ADS_1


"Bagaimana cara kalian bertanggung jawab dengan semua ini?" tanya Dira dengan tegas.


Tak ada jawaban dari Ron juga Ceril. "Mr. Ron jadi direktur di sini karena diangkat, bukan berdasarkan saham. Sebaiknya anda bertanggung jawab pada pemilik saham yang memilih anda. Saya tunggu pengunduran diri secepatnya," tegas Dira.


Kini giliran Ceril. "Kamu, mulai besok tak perlu datang latihan. Kamu resmi dikeluarkan dari agensi. Aku tak akan ...." Kalimat Dira terpotong karena Mr. Pier menyentuh lengannya untuk memberikan informasi.


"Videonya menyebar, media mencium," ucap Mr. Pier dan itu semakin membuat Dira murka.


"Si Alan!" pekik Dira. Ia bangkit dari tempat duduknya. Banyak orang yang terkaget-kaget melihat Dira menendang kursi sampai kursi itu terbentur ke tembok kaca.


Dira menarik napas lagi. Ia memijiti tengkuknya. Sungguh ini diluar ekspektasi. Ia berhasil dengan D-zone juga proyek di Kenan Grup dan semua itu terancam jatuh akibat skandal agensinya ini.


"Aku tuntut kalian berdua kalau sampai media membawa-bawa nama agensiku!" tegas Dira. Ia tahu emosinya tak bisa ia tahan lagi. Dira berjalan keluar ruang rapat dengan tergesa-gesa.


Sementara itu Mr. Pier melirik Mr. Ron sambil menggeleng. "Kamu itu sudah tua, harusnya banyak bertaubat. Usia orang tak ada yang tahu. Apalagi kalau sampai putrimu tahu. Dia akan menikah. Jangan sampai keluarga prianya mundur karena skandalmu," nasehat Mr. Pier.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2