
"Ada apa, Pah?" tanya Dira begitu ia dan Ernesto tengah duduk di ruang kerja Dira. Namun, begitu duduk di sofa hitam ruangan itu, Ernesto malah bingung sendiri.
Dia memang berencana datang ke Emertown untung melihat cucunya yang baru lahir. Sebelumnya rencana kedatangan Ernesto sudah ia beritahukan pada Bia dan Dira. Hanya saja tanggal kedatangannya masih belum pasti. Hingga Bia menceritakan tentang keadaan Dira pada Maria dan itu membuat Ernesto lekas ke Emertown.
"Itu gitar milikmu?" tanya Ernesto sambil menunjuk sebuah gitar yang bersandar di dinding. Dira mengangguk. Ia lupa menyimpan gitar itu dalam tas gitarnya.
Terjadi kekakuan di antara keduanya. Dira memang tidak mudah bicara dengan papahnya tanpa ada orang lain. Begitu juga Ernesto. Baginya, Dira anak yang paling sulit ia mengerti.
"Kamu masih suka main musik?" tanya Ernesto lagi.
"Aku sibuk di pabrik. Mana sempat main musik. Kalau pulang malam berisik, anak-anak bisa bangun," jelas Dira.
Lagi-lagi ada jeda diantara mereka. Ernesto ingin menyampaikan maksud. Namun, ia selalu bingung bagaimana merangkai kata untuk memulai. Intinya ia tahu, sumber dari beban batin Dira adalah dirinya.
"Papah lihat kinerjamu di pabrik. Sangat luar biasa. Kamu memang cerdas. Papah juga lihat Divan semakin banyak disukai orang dan membantu naiknya penjualan pakaian produksi pabrik kita. Kerja bagus!" puji Ernesto.
Bibir Dira melengkung. Ia senang bisa membuat papahnya kembali bangga padanya. "Kamu punya anak dua sekarang. Yang satu masih bayi, tentu belum kamu tahu bagaimana kepribadianya. Sementara papah punya tiga anak yang usianya tak jauh beda. Namun, karakternya sangat beda."
Pelayan datang membawakan dua cangkir kopi. Ernesto lagi-lagi harus bingung memikirkan bagaimana cara mengungkapkan perasaannya pada Dira. Begitu pelayan meninggalkan ruangan, Ernesto berdeham.
"Daren, kamu dan Dustin punya sifat yang berbeda. Aku tak pernah kesulitan saat mengurus Daren. Ia sangat apa adanya. Jika suka bilang dan tidak juga bilang. Namun begitu punya kamu, papah bingung. Kamu terlalu mandiri bahkan sejak kecil. Kamu menolak disuapi, menolak dipegang ketika belajar berjalan. Kadang aku pikir, kamu tidak butuh keberadaan kami." Bahkan di usia TK Dira belajar masak telur sendiri dan diam-diam belajar memakai sepatu tali hingga dasi sekolah.
Dira menunduk. "Aku tahu papah dan mamah lelah," batin Dira. Terutama saat papahnya diangkat menjadi Chairman Kenan Grouph. Dira sering melihat Ernesto pulang dan ketiduran di sofa. Itu membuatnya merasa takut membebani papahnya. Hanya Dira tak mau bilang. Ia takut membuat orang tuanya sedih.
"Meski begitu, aku ini tetap papahmu. Aku juga ingin memanjakanmu, mengasuhmu. Walau akhirnya kamu lebih memilih menolak dan tinggal dengan kakek juga nenek. Waktu itu, papah memang pernah marah padamu karena Dustin. Papah hanya kaget, bukan artinya benci padamu. Tentang musik, papah bukan tidak mau kamu main musik. Papah hanya ingin kamu mendapat masa depan yang baik. Jadi penyanyi, tentu kamu tidak akan populer selamanya, 'kan?" jelas Ernesto.
__ADS_1
Dira mengangguk. "Karena itu, aku menyesal selama tiga tahun ini meninggalkan keluarga Kenan danΒ hidup menjadi penyanyi. Sekarang aku ingin fokus pada bisnis. Aku tahu jika pekerjaan ini jauh lebih menjanjikan dan ...." Kalimat Dira terpotong.
"Bukan itu. Maksudku, memang kenapa kalau kamu nakal selama tiga tahun? Sampai usia delapan belas tahun, kamu selalu jadi anak yang patuh. Papah di sini yang salah. Papah marah hanya karena satu keinginanmu sementara banyak keinginanku yang kamu penuhi. Aku terlalu khawatir padamu dan itu justru mengekang dan membebanimu."
"Papah selalu khawatir. Padahal jika kamu sudah tidak populer lagi, kamu bisa kembali menggeluti dunia bisnis. Buktinya sekarang kamu sukses. Hanya aku terlalu khawatir. Padahal kamu masih muda, masih punya waktu mengejar cita-cita," tambah Ernesto.
Ernesto berdiri. Ia berjalan mengambil gitar yang bersandar di dinding. Gitar itu ia berikan pada Dira. "Jangan terlalu lelah kerja di pabrik. Sesekali menyanyilah seperti dulu. Menyanyi kapanpun kamu mau. Kamu berhak memilih jalan hidup kamu sendiri. Kamu juga punya hak untuk mengatakan kesulitanmu. Kamu anak yang baik," ucap Ernesto sambil mengusap rambut Dira - hal yang entah kapan ia pernah lakukan.
Seorang ayah, selalu terperangkap dalam masalah yang sama, antara harga dirinya sebagai laki-laki dan kasih sayang untuk anaknya. Tak semua pria mudah mengungkapkan perasaan lewat kata-kata, sementara tak semua anak mudah mengartikan sikap ayahnya sebagai kasih sayang.
"Pah, Dira selalu menuruti apa yang papah katakan karena Dira ingin papah punya waktu untuk sekadar bawa raportku, menanyakan perkembanganku di sekolah atau memberi selamat setiap aku menang kejuaraan. Papah tak pernah bilang, tapi Dira tahu papah akan bangga," ungkap Dira.
Tidak ada ukuran dewasa bagi seorang anak di depan mata ayahnya. Begitu juga Dira, di depan mata Ernesto, dia tetap anak kecil yang selalu ingin mencari perhatian karena papahnya sering sibuk.
"Mungkin benar kata ibumu. Kamu paling mirip denganku. Selama ini aku selalu mengurus perusahaan, selalu takut jika perusahaan mengalami guncangan. Aku takut mengecewakan ayahku. Sampai aku lupa, aku punya anak yang juga butuh perhatian. Karena ambisi, aku lebih banyak menuntutnya agar tak mengecewakan orang tuaku dibanding memberinya kasih sayang."
Bagaimanapun ayah hanya manusia. Dia bukan makhluk sempurna. Ia juga punya dirinya sendiri yang harus bahagia selain terus memenuhi tuntutan orang lain. Jiwa yang bertentangan akhirnya menjadi salah persepsi dan ada yang dikorbankan.
Dalam kasus Ernesto, korbannya adalah Dira. Ia terlalu sibuk memikirkan nasib karyawan di Kenan Grouph hingga tak ada waktu untuk sekadar tahu jika keadaan psikologis anaknya bermasalah.
"Harusnya aku sadar. Mana ada anak lima tahun menolak ikut orang tuanya kecuali dia memiliki trauma mendalam. Jika saja aku lebih perhatian dan membawamu ke psikolog dulu, hubungan kita berdua tidak akan sekaku ini," ungkap Ernesto.
"Pah, Dira sayang papah juga mamah. Walau tak pernah bilang. Dira kabur hanya karena takut tak bisa membuat papah bangga, takut tak bisa melakukan hal terbaik untuk perusahaan. Dira tak sepintar yang papah pikir."
Ernesto menepuk pundak anaknya. "Aku juga tak pernah bilang ini, tapi aku bangga melihatmu maju tanpa sepeser pun uang dariku dulu. Aku tahu, putraku pria yang hebat. Membuatku bangga tak perlu dengan menjadi juara kelas, memperbaiki pabrik atau juga perusahaan. Cukuplah jadi pria baik dan bertanggung jawab," ucap Ernesto.
__ADS_1
Dira tersenyum. "Jadi Dira harus apa?" tanyanya bingung maksud Ernesto harus mengatakan semua kerumitan ini.
"Menyanyi, untuk papahmu. Lakukan apa yang sukai selama itu positif dan membuat kamu bahagia," saran Ernesto.
Dira tahu kenapa ia suka menyanyi. Meski mulutnya sering asal bicara, ia bukan orang yang mudah mengungkap apa yang terkubur dalam hatinya. Menyanyi adalah cara dia mengungkapkan perasaannya yang terkubur. Karena itu, lagu Dira tak melulu tentang cinta antara pasangan, tapi juga keluarga dan persahabatan.
πππ
"Lama, ih!" keluh Divan sambil bolak-balik di depan nenek dan ibunya.
"Kenapa?" tanya Bia bingung karena sejak tadi Divan kelihatan resah.
"Kakek sama papah lama. Kalo lama uangnya banyak. Awas kakek kalau kasih Divan uang dak lama," jelasnya sambil cemberut.
"Kakek mau bicara sama papah karena urusan pekerjaan, bukan bagi-bagi uang. Papah sudah kerja, masa masih dikasih uang sama kakek," nasehat Bia.
Divan mendelik. Ia tak percaya dengan ucapan ibunya. Buktinya ia pernah lihat kakeknya memberikan Dira cek. Divan tahu itu lebih banyak dari uang - akibat Dira menjelaskan selembar benda itu.
"Lagian Divan mau punya uang banyak buat apa?" tanya Maria penasaran.
"Beli pesawat. Papah dak beliin saja," keluhnya. Ia sudah pernah memberikan celengannya pada Dira untuk dibelikan pesawat, tapi Dira bilang butuh satu ruangan celengan untuk beli pesawat. Celengan Divan hanya punya sepuluh dan itu belum penuh semuanya.
πππ
Kasih Vote buat Divan ya? Besok masih up kok sampai akhir tahun
__ADS_1
Jangan Lupa baca "istri Sang pewaris Tahta besok" bantu share juga supaya temannya ikutan baca. Makasih banyak π love you kalian semua.