
Bia masih berjalan bolak-balik. Perasaanya tidak enak. Sudah tidak bisa bertemu Divan, di televisi sangat ribut karena pengakuan Cloe. Kelvin juga menunjukan hujatan-hujatan yang tertuju pada Dira di forum. Meski masih banyak yang membelanya. Bia membaca beberapa komentar di salah satu website yang khusus membahas dunia selebriti
Aristi Tantri : Dira emang perlu dihadzar. Enak sj mainin hati Cloena. Pdhl Cloena slalu dukung karir dia. Gtw diri!
Joyce : Cloe tralu bnyk bacod. Gak panteslha hub pribadi diumbar2 di tv
Sulfita Nia : Jahad bgt itu cowok. Cuman numpang pansos sm Cloe doank dia dlu. Sdh populer maen ditinggal
Menuju kebebasan : Cloe klo dicampakin nikah sm abang sj. Abang mw trima Cloe apa adanya ko
Membaca komentar itu membuat Bia merinding sendiri. Bahkan beberapa fans Cloe ada yang mengancam akan mencelakai Dira. "Artis itu juga manusia. Kenapa mereka setega itu dengan perasaan orang," keluh Bia.
Ia duduk di sofa. Pandangannya lurus ke arah jendela kaca yang bisa digeser. Masalah putus saja bisa serumit ini. Apalagi jika dia dan Dira menikah. Pasti Bia akan membiarkan ponselnya hibernasi.
"Apa Dira akan terpengaruh?" tanya Bia. Kakinya bergerak-gerak di atas karpet abu-abu.
"Dira akan baik-baik saja karena sikap diamnya. Lagipula dia pintar, masalah begini pasti dia bisa atasi," Ana menenangkan Bia.
"Apa di Heren ia bertemu Cloena?" tanya Bia takut. Kalau sampai mereka bertemu dan perasaan Dira goyah, masa depan Divan dan Bia juga ikut hancur. Malah Bia terancam tidak akan bertemu anaknya lagi.
Cloena juga mahir mengambil hati. Ia menangis hingga sesegukan ketika diwawancara, menjual kesedihan untuk mendapat simpati orang lain. Tangan Bia mengepal. Padahal ia yang menderita di sini.
__ADS_1
Tiba-tiba ponsel Bia berbunyi. Telpon dari Dira yang langsung ia angkat. "Di mana? Kenapa lama?" tanya Bia. Padahal ia tahu perjalanan Heren ke Emertown bisa sampai lima jam. Pulang pergi sudah sepuluh jam. Belum peliknya urusan Dira.
"Kamu pikir aku ini hantu apa? Butuh waktu lama. Kemarin pulang dari agensi terlalu malam jadi tidur di hotel. Sekarang baru pulang habis sarapan. Sabar." Dira lama-lama gemas juga.
"Sekarang di mana?" tanya Bia.
"Ini di Emertown. Mobilku mogok. Bisa ke sini naik taksi? Temani ke bengkel, ya?" pintanya.
Bia memutar bola matanya. "Dasar manja!" umpatnya. Terdengar tawa Dira membahana. Biasanya Dira yang mengatakan itu pada Bia.
"Kenapa?" tanya Sayu melihat Bia tiba-tiba berdiri dan berlari ke kamar.
"Biar sama Ezra saja," saran Ana.
Bia menggeleng. "Gak, dia nyuruh aku. Kalau sama Ezra atau Kelvin, bukannya malah ketahuan? Mereka kan sepupu. Dira harus sembunyi," jelas Bia yang sudah keluar kamar dan berjinjit untuk memakai sepatu.
Ana mengangguk. Apa yang dikatakan Bia ada benarnya. Dira harus pergi dengan orang yang tak dikenali publik.
Perempuan itu menurut saja. Ia naik taksi menuju tempat yang ditunjukan Dira. Kelvin dan Ezra juga memberikan tawaran ketika tanpa sengaja berpapasan dengan Bia di pintu, tetap saja wanita itu menolak.
Perjalanan lumayan panjang. Kira-kira sampai tiga puluh menit dari rumah Bu Suli. Bia mencoba melihat-lihat keberadaan mobil Dira. Tentu mobil itu akan terlihat lebih kontras karena merah dan mahal. Hingga tiba di jalan yang Dira maksud, Bia benar melihat mobil merah terparkir di sisi jalan depan sebuah rumah tiga lantai.
__ADS_1
"Stop, Pak!" Taksi berhenti tepat di belakang mobil Dira. Bia membayar jasa taksi lalu turun dan berlari menuju mobil itu.
Bia sempat melirik kanan dan kiri, memastikan tidak ada yang mengikuti. Ia mengetuk kaca mobil yang menghadap trotoar, kacanya terbuka dan terlihat Dira di kursi kemudi.
"Lama," keluh Dira sambil membuka kunci mobil. Tak menunggu lama, Bia masuk ke dalam dan menutup pintunya lagi. "Kita pergi sekarang saja," ucap Dira.
"Ke mana? Pakai apa?" tanya Bia bingung.
"Naik mobil, lah!" jawab Dira terdengar janggal.
Alis Bia terangkat sebelah. "Bukannya mobil mogok dan mau diderek ke bengkel?"
Pertanyaan yang membuat Dira tertawa geli. Ia sama sekali tidak menyangka perempuan itu akan memercayainya.Β Dengan gemas Dira mencubit pipi Bia. "Mobil mahal gini mogok, bikin malu!" kelakarnya.
Jelas Bia terlihat kesal. Ia langsung mendengkus lalu berpaling dari Dira. Sikap Bia sama sekali tidak dipedulikan Dira. Pria itu langsung memacu mobilnya meninggalkan tempat itu. Hanya lima menit, mereka tiba di sebuah peternakan. Bia bingung sendiri.
Begitu kaki Bia berjalan di atas rumput, ia melihat pemandangan sapi-sapi juga ilalang yang tertiup angin. Di tengahnya ada sebuah rumah kecil dari bata putih dan memiliki perapian. "Ngapain ke sini?" tanya Bia sambil berteriak. Suaranya kalah dengan tiupan angin yang kencang. Dira menuntun sampai di rumah kecil tua itu.
πππ
Jangan-jangan Bia mau dibunuh π
__ADS_1