Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Maju uyus pantang mudul


__ADS_3

"Ini ke cini, kan. Telus ... gini ja," Divan berucap sendiri sambil berusaha memasang sepatu.


"Itu sudah benar, kok," timpal Bia memberi semangat.


Namun, saat Divan berusaha memasukan tumit itu ke dalam sepatu hijau itu, kakinya tak lekas masuk jua. "Tuh, Divan kata apa, Ma. Ini patunya kecin, kaki Divan besal. Dak masuk!" keluhnya.


"Masukannya coba pakai tenaga sedikit dan sabar. Pasti bisa. Hitung sampai sepuluh kali," saran Bia.


Divan mengangguk. Ia masih mencoba memasukan tumit ke dalam sepatu. "Satu ... dua ... tiga ... lima ... tujuh ... sepuluh ... Dak bisa uga!" kali ini bahkan Divan mengeluarkan rengekan.


"Sepertinya Divan harus mulai hitung lagi. Tadi ada angka yang terlewat. Mau mamah pandu?" tawar Bia.


Divan menggeleng. Ia simpan sepatunya lalu lari ke pelukan Bia. "Divan dak mau, capek. Divan dak bisa, Divan pulustaci," keluh Divan. Wajahnya ia tenggelamkan di pelukan Bia.


Bia mengusap punggung putranya, sambil memeluk Divan dengan erat. "Gak apa, Divan bisa istirahat nanti kita coba lagi. Kalau sudah kekuatannya kumpul lagi, kita coba. Divan pinter, loh. Ingat waktu Divan coba pakai celana sendiri? Divan sekali coba bisa," Bia memberi motivasi.


Divan hanya mengangguk tanpa melepaskan pelukan juga tidak mendongakkan kepala. Ia masih menyembunyikan wajahnya. Nafas Divan naik turun, Bia tahu dalam hitungan lima pasti Divan menangis. Prediksinya benar. Divan mulai sesegukan dan terasa hangat dan basah perut Bia akibat air mata Divan menembus pakaian Bia.


Kecupan hangat Bia layangkan di kepala putranya. "Gak apa-apa, nangis saja sebentar. Hanya nangisnya pelan saja, mamah tahu Divan kecewa karena gak bisa lalu merasa sedih," ucap Bia.


Anak menangis memang wajar, hanya orang tua tak seharusnya selalu mengalah. Tangisan anak adalah kunci mereka memenangkan pertarungan agar tidak perlu melakukan kewajiban. Karena itu, Bia tak pernah mau kalah dengan tangisan anaknya. Ia hanya membiarkan Divan menangis dalam pelukan dan jika sudah membaik kembali memotivasi agar Divan mau mencoba lagi.


"Anakku kenapa?" tanya Dira yang baru datang dari kantor sore itu. Ia menyimpan tas di nakas lalu datang menghampiri keluarga kecilnya.

__ADS_1


"Divan sedang mencoba memakai sepatu sendiri. Tadi sudah bisa, tapi capek. Makanya sekarang istirahat, kan?" tanya Bia sambil memegang pipi Divan.


Anak itu mendadak berhenti menangis mendengar suara papahnya. Lekas Divan beralih memeluk Dira sambil menyembunyikan wajahnya di bahu pria itu.


"Wah, hebat anak papah sudah belajar pakai sepatu sendiri. Kalau berhasil, papah nanti kasih Divan jalan-jalan ke pekan raya musim dingin. Di sana olafnya banyak loh," tawar Dira.


Divan tetap menggeleng. Tak seperti biasanya di mana anak ini senang setiap kali diberi hadiah, kali ini Divan masih saja murung.


"Biarin dia cobanya setelah tiga tahun saja. Kasian loh," saran Dira.


Bia menggeleng. "Tadi malam kita sudah sepakat. Jangan labil, nanti Divan ikut labil juga," protes Bia.


Dira mengangguk. "Begini saja, Divan coba dulu sambil papah sedikit pegangin sepatunya. Biar papah kasih Divan kekuatan papah," tawar Dira.


Bia memberikan sepatu hijau bergambar keropi yang Divan gunakan untuk latihan. Itu sepatu favorit Divan karena ia membeli sendiri dengan nenek dan kakeknya.


Divan memasukan bagian depan kakinya dalam sepatu. Sekarang masuk bagian paling sulit, memasukan tumit. Dira memegang bagian belakang sepatu Divan. "Satu ... dua ... tiga," hitung Dira dan dalam hitungan tiga, Divan berhasil.


"Tuh, kan! Papah kuat jadi Divan bisa dikasih kukuatan," seru Divan sambil menunjukan sepatu yang berhasil ia kenakan.


"Kekuatan, loh," ralat Bia.


Dira pura-pura terlihat kaget. "Padahal papah belum kasih kekuatan apa-apa, loh. Divan kok bisa sendiri?" tanyanya pura-pura tergemap.

__ADS_1


Tangan Divan berkacak pinggang. Anak itu melirik ke arah sepatu kemudian ke arah papahnya. "Jadi ini kukuatan Divan sendili?" tanyanya.


Dira dan Bia mengangguk lalu memberikan tepukan tangan yang meriah. Wajah Divan merona karena malu dipuji kedua orang tuanya.


"Sekarang coba yang bagian kiri," saran Bia.


Divan menyetujuinya langsung. Ia ambil sepatu satunya lagi kemudian mencoba dengan cara yang sama. "Tarik bagian ekornya, ya?" saran Bia.


Kali ini, Divan kembali berhasil. Ia berjingkrak, berputar lalu membuat pose dengan menyimpan kedua telapak tangan di dagu. Matanya berkedip-kedip manja.


"Divan mau papah jalan-jalan ke pukuan laya?" tanya Divan seperti biasanya salah jika harus mengucapkan kata dengan empat suku.


"Minggu depan pekan raya baru buka. Divan menunggu sebentar saja, ya? Sambil Divan belajar bikin olaf di halaman," jawab Dira.


Divan mengangguk. Ia melihat ke luar jendela dan salju lumayan lebat untuk membuat olaf. "Kalang Divan dak ke kakak Memeli. Ujan salaju banak banget. Putih-putih semua, papah," cerita Divan tentang hujan salju tadi siang yang lebat hingga di luar daya pandang menjadi sempit.


Dira mengangguk. Terlihat jelas lebatnya salju di jendela gedung kantor. "Divan bikin olaf kecil. Mamah bikin besal-besal. Idungna dari wotol," ceritanya lagi.


"Wortel?" tanya Dira memastikan. Divan mengangguk karena jawaban Dira sangat tepat.


"Divan senang hali ni. Divan bikin olaf sendili, sepatu sendili. Divan hebat sangat!" pujinya pada diri sendiri.


🍁🍁🍁

__ADS_1


__ADS_2