
INI KHUSUS KISAHNYA DIVAN. KENAPA MIRIP BIA EMANG SENGAJA KUBIKIN. DIVAN SAYANG SAMA BIA, CINTA PERTAMA ANAK LAKI-LAKI ITU IBUNYA. NAH, ALESAN AKU BIKIN SILVINA MIRIP BIA PAS KECIL SUPAYA ... KISAHNYA DIVAN LANJUT AJA. TERUS KENAPA GAK DAVINA DIBUAT MIRIP BIA? NANTIKAN SAJA NANTI MKS 😎
🍁🍁🍁
Kedua anak itu berjalan berdampingan. Davina memperbaiki bandonya yang sempat bergeser akibat tadi berlari lumayan cepat. "Divan, jalan saja ya? Vina capek," keluh Vina.
Divan mengangguk. "Iya, oke."
Sekolah itu cukup luas dengan gedung satu lantai berbentuk letter O. Ada pohon-pohon yang tumbuh di sisi lapangan tempat anak bermain. Lapangan itu adalah pusat gedung. Lapangannya sendiri terbagi menjadi area pasir, permainan outdoor dan lapang sepak bola kecil.
Divan dan Davina berjalan menyeberangi lapang. Kedua bocah ini berniat pergi ke sisi gedung satunya tempat sekolah KS 1 berada. KS satu itu setara SD.
Sampai dekat pintu, Davina menurunkan kecepatan langkahnya. Ia melihat seorang anak perempuan dengan rok seragam coklat duduk di bangku sisi kelas. Anak perempuan itu tengah mengobrol dengan anak perempuan lainnya.
"Kak Emelie!" panggil Divan. Lain dengan Davina yang terpaku pada anak perempuan dengan rambut panjang sesikut, Divan malah terpaku pada Emelie yang mengenakan bando kelinci.
Emelie melirik ke samping. Ia kaget melihat Divan ada di sana. "Divan? Kenapa ke sini. Kalau ibu guru tahu nanti marah. Lapor deh sama Oom Dira," nasehat Emelie.
Divan menggeleng. "Bu Guru tahu, lihat dari situ!" tunjuk Divan pada gurunya yang tengah berjaga di tengah lapangan. Emelie melirik ke arah yang Divan tunjuk dan benar di sana ada guru TK yang berseragam hijau.
"Kenapa ke sini?" tanya Emelie.
Divan menunjuk Davina di sisinya. "Teman Divan ini loh, mau kenalin kakaknya. Sekolah sini juga," jawab Divan.
"Vina? Nanti kakak kasih tahu mamah, loh!" ancam anak perempuan yang sejak tadi Davina lihat. Dengan wajah takut, Davina memegang tangan Divan.
__ADS_1
Silvina, anak perempuan yang tadi tengah duduk berjalan mendekati Divan. "Kamu siapa?" tanya Silvi.
Divan membuka matanya lebar. "Wah, mirip mamah Bia," celetuknya. Ia sangat terpukau dengan wajah Silvi yang memang sangat mirip dengan ibunya saat kecil dulu.
"Siapa?" tanya Silvi sambil menunduk akibat Divan sedikit lebih pendek darinya. Divan menggeleng. "Kamu jagain Vina. Jangan ajak nakal-nakal," pesan Silvi.
Divan mengangguk. Ia dekati Davina dan memegang tangan anak itu. "Iya, ini Divan jaga."
Emelie terkekeh. "Divan sepupu aku, loh. Oom aku itu papah Divan," cerita Emelie.
Silvi melihat wajah Divan lekat-lekat. "Kamu suka ada di TV, ya?" Kelihatannya Silvi baru sadar siapa anak laki-laki yang ia temui.
Divan mengangguk dengan bangga. "Iya, Divan suka diundang TV. Tanya-tanya saja. Nyanyi juga," timpal Divan.
"Kamu main sama Davina, suka?" tanya Silvi. Divan mengangguk. Silvi berlari ke kelasnya. Tak lama ia kembali sambil membawa sebuah buku dan pulpen. "Sini, kasih tanda tangan," pinta Silvi. Ia sering menemani ibunya keliling minta tanda tangan artis ke agensi-agensi di Heren.
Dengan polosnya Divan menyimpan lembaran uang itu di atas buku Silvina. Emelie membawa uang itu dan memasukan lagi ke saku Divan.
"Bukan ini. Nanti Divan belajar tanda tangan sama papah Dira. Kan papah Dira artis. Pasti punya," jelas Emelie.
Divan menunduk sedih. Ia merasa bersalah akibat tak bisa memberikan apa yang Silvina mau. Padahal Divan yakin Silvina juga ibu berdasternya.
Sore itu, Dira turun dari mobil. Ia melewati parkiran menuju teras depan gedung sekolah. Dira melambai pada Divan yang berdiri sambil bersandar ke tiang. Anak itu tak membalas lambaiannya. Divan langsung berlari ke arah papahnya.
"Pulang saja, Pah. Divan unmood," keluhnya sambil berjalan ke parkiran.
__ADS_1
Jelas Dira aneh dengan sikap putranya yang hari ini terlihat mendung. "Ada apa jagoan? Kalau anak papah manyun, gimana mau nitipin mamah yang sedih?"
Divan menendang-nendang pelan kakinya ke dashboard mobil. Dira menyalakan mesin mobilnya. "Divan unmood. Bilang tadi," tegas anak itu.
"Kamu tahu istilah unmood dari mana?" tanya Dira sambil terkekeh.
"Kakak Emelie kalau ngambek bilang gitu ke mamahnya," jawab Divan.
Dira mencoba menelaah maksud putranya. "Kamu marah? Sama papah?" tanya Dira.
Divan mengembuskan napas dengan berat. Iya mengangguk. "Papah gak ajarin bikin tatakan tangan," keluhnya.
"Hah?" Sama sekali ia tak mengerti apa yang dimaksud bujang kecilnya itu. "Benda apa itu?" tanya Dira sambil menggaruk kening. Ia tetap harus berkonsentrasi pada kemudi.
Divan menggaruk kepala. Ia juga bingung tentang bentuk benda yang dimaksud Silvi. "Kata kakak cantik, Divan harus kasih di kertas," jelasnya.
"Tatakan tangan sama kertas ... apa?" Seumur-umur memecahkan soal matematika, bahasa anaknya jauh lebih memusingkan.
Divan melipat tangan. Wajahnya semakin menekuk kesal. "Papah gak tahu, sih. Kakak Emelie bilang papah punya juga."
Dira menggeleng. "Gimana mau punya, Kak. Papah saja gak tahu benda macam apa yang kakak bilang."
Kalau begini, Divan malu jika besok harus berhadapan dengan Silvina. "Divan sudah janji sama kakak cantik. Malu Divan tuh."
🍁🍁🍁
__ADS_1
Yang Nanyain Papan. Sehari ini ku kasih episodenya Kakak Papan, ya. 😉