Ayah Dari Anakku

Ayah Dari Anakku
Haley dan Cloena


__ADS_3

Cloena Parviz diberikan lima puluh pertanyaan oleh penyidik seputar kasus yang menjeratnya. Sampai saat ini, mantan kekasih Dira Kenan itu masih berstatus sebagai saksi.


"Keadaannya semakin pelik saja, sampai dilaporkan segala," komentar Bia saat ia dan Dira telah tiba di Heren. Karena lelah, keduanya beristirahat dengan rebahan di atas sofa sambil menonton televisi.


"Bahkan mereka berhenti membicarakan masalah kita," timpal Dira.


Bia mengangguk. "Kalau lihat begini, kasian sekali dia. Kau memang gak mau bantu dia?" tanya Bia.


"Kalau dibantu mana akan sadar dia," jawab Dira dengan santainya. Dia melirik ke arah Bia. "Kau tidak ingat dia menipuku selama tiga tahun. Sekarang yang ada dalam pikiranku adalah Haley Alvonz. Benar-benar membuat stress."


Benar, misteri keberadaan pria itu di apartemen Cloena masih belum terpecahkan selain dugaan bahwa Haley yang membantu Cloena mendapatkan nomor Bia yang dulu.


"Kalau kita laporkan masalah itu bisa, gak? Bagaimanapun itu melanggar hukum, 'kan?" saran Bia.


Dira mengangguk. "Aku juga hendak begitu. Kalau menghancurkan Cloena tanpa orang di belakangnya, sama saja bohong. Karena itu, aku harus menemukan bukti dulu. Masalahnya, itu terjadi tiga tahun lalu dan aku yakin riwayat chatnya pasti sudah Cloena hapus."


Pintu kamar diketuk. Lekas Bia berjalan untuk membuka pintu. Seorang pelayan berdiri di sana. "Tuan Daren datang. Beliau ingin bertemu dengan Tuan Dira, Nyonya," ucapnya.


Bia memalingkan pandangan ke arah Dira. Pria itu terlihat mengangguk, lalu turun dari sofa dan berjalan keluar kamar. Bia lebih memilih kembali mengikuti perkembangan Cloena di televisi. Ia tak mengerti kalau harus berurusan dengan masalah bisnis.


"Kau datang?" tanya Dira begitu melihat Daren, kakaknya datang. Dira memang tak pernah sopan dengan kakaknya sendiri. Sejak kecil, mulutnya tak pernah memanggil Daren dengan sebutan kakak.


Daren melihat ke arah Dira datang. "Menunggu kau datang malah membuatku mati penasaran," keluhnya. Dira duduk berhadapan dengan Daren. "Kenapa dengan Haley?" tanyanya.

__ADS_1


"Apa kau punya masalah dengan pria itu? Maksudku kalian satu SMA yang sama," tanya Dira.


Daren terlihat berpikir. Bahkan ia tak ingat pernah duduk di SMA yang sama dengan Haley. "Benarkah? Kok aku tidak tahu, ya?"


Dira menepuk jidat. "Apa sih yang bisa aku harapkan darimu?" ledeknya.


"Mungkin masalahku adalah tidak mengenalinya waktu SMA dulu," kelakar Daren.


"Ayolah! Aku serius." Lama kelamaan Dira kesal juga. Daren tak pernah menganggap serius sesuatu.


Dira mulai menegakkan bahunya. "Tiga tahun yang lalu, alasan aku putus dengan Bia karena ia mengirim aku pesan agar berhenti mengganggunya. Aku pernah mengirim Bia pesan lagi dan dia balas dengan hal yang sama. Tak lama, nomornya tak aktif. Anehnya dia tak pernah menerima telpon dariku," jelas Dira.


Daren tertawa. "Salah siapa kau hamili dia lalu kau tinggalkan," komentar Daren.


"Memang aku tidak malu punya adik penuh kontroversi sepertikau? Banyak yang bertanya kenapa aku tidak mendidikmu dengan baik. Aku hanya jawab, karena tak sanggup. Makanya kaudibuang papah dan mamah ke Emertown!" ledek Daren.


Dira mengambil bantal sofa kemudian melemparnya ke arah Daren. "Aku serius. Otakmu bisa tidak ikut membantuku?" protes Dira. Daren mengangguk.


"Sekarang aku tahu kalau nomor Bia itu ternyata sempat dinonaktifkan dan Cloena yang menggunakannya. Jadi, orang yang bertukar pesan denganku bukan Bia, tapi Cloena," jelas Dira.


Daren menarik napas. "Dia hanya artis, tapi kenapa bisa melakukan hal itu. Maksudku, itu perbuatan melanggar hukum. Jika dia masih selamat, itu tidak mungkin. Dia harus punya kekuatan yang cukup untuk itu." Daren mendapatkan benang merahnya.


"Nomor Bia, orang yang memiliki perusahaan seluler itu adalah Haley Alvonz. Sebelum kami ke Emertown, Bia melihatnya keluar dari lift di lantai apartemen Cloena."

__ADS_1


Daren melipat tangan di dada. "Menurutmu kemungkinan mereka bekerjasama?"


Dira mengangguk. "Kupikir, kenapa dia harus membantu Cloena. Apa mungkin Haley memiliki dendam pada keluarga kita? Lebih dari itu, aku tak tahu kenapa, hanya saja aku pikir dia membidikmu."


Daren menggeleng. "Salah. Dia membidikmu sejak awal."


"Kenapa?"


"Semua orang tahu sejak awal papah ingin kau yang menjadi penerusnya. Sejak SMA kau sudah memecahkan banyak masalah perusahaan. Karena itu, mereka takut kau kembali pada keluarga Kenan. Kedua, dia tahu jika kau kembali ke Emertown dan meninggalkan dunia ke artisan, papah akan lebih mudah mendapatkanmu kembali. Karena itu, mereka berusaha menjegalmu dengan Cloena Parviz sebagai kunci."


"Ingat, kebangkitan pabrik milik Kenan di Emertown juga akan merugikan Haley Alvonz. Ayahnya pernah berencana membeli pabrik itu sebagai pabrik penyedia chip. Hanya saja papah tak pernah memberikan pabrik Kenan," Daren mempertegas penjelasannya. Ini semakin masuk akal untuk Dira.


"Aku hanya anak berusia delapan belas tahun, apa yang mereka takuti?"


Kali ini tangan Daren mengusap dagu. "Umurmu memang delapan belas tahun, tapi isi otakmu yang mereka takuti. Mereka sudah lelah berada di bawah kekuasaan Kenan Grouph, termasuk Haley," jelas Daren.


"Lalu kenapa dia membantuku tentang video itu?" tanya Dira. Ia mengusap wajah. Kemudian mata Dira menatap Daren. "Memotong ekor?" tanya Dira mencoba meyakinkan jika jawabannya salah.


"Itu kau tahu sendiri. Kasus yang terjadi pada Cloena belakangan ini terlalu mendadak. Kaupikir siapa yang bisa menyutradarai hal seperti itu selain orang dengan kekuasaan besar. Jika tak lama kasus ini hilang, artinya mulut Cloena sudah ditutup rapat-rapat."


🍁🍁🍁


Apa kalian yakin urusannya tentang perusahaan?

__ADS_1


__ADS_2