
"Aku pergi kerja dulu, sayang." Dira mengecup kening Bia ketika berangkat pagi itu. Dia ada jadwal manggung di acara musik pagi dan siang shooting iklan minuman soda. Malamnya manggung off air. Mungkin karena kena omel Bia, akhirnya Dira mau mengabsen kegiatannya.
Bia masih bermain dengan Divan. Anak itu sedang senang mengotak-atik lego dan membuat bangunan. Usianya sudah hampir tiga tahun sehingga motoriknya harus sering dilatih dengan permainan ini.
Tiba-tiba ketika bermain di ruang keluarga, pelayan datang memberitahunya jika Mamah dan Papah Dira datang berkunjung. Lekas Bia bangun dan menghampiri mertuanya yang telah tiba di depan pintu.
Ernesto melihat ke ruangan keluarga. Ia tersenyum melihat cucu laki-laki pertamanya sedang bicara sendiri memainkan mobil-mobilan dan lego.
"Kakek! Nenek!" panggil Divan. Ia baru sadar kakek dan neneknya datang. Anak itu bangkit dan berlari menghampiri keduanya.
"Mamah dan Papah pasti lelah perjalanan jauh. Dira bilang rumah kalian sekitar tiga puluh menit dari sini," ucap Bia ketika mereka tiba di sofa ruang keluarga.
Divan bermain mobil-mobilan di pangkuan Ernesto. "Begini, Bi. Mamah sama Papah ada rencana main ke peternakan. Biasa, Papahmu ini ingin beli kuda dan ingin mengajak cucunya sekalian," jelas Maria.
Bia mengedip-ngedipkan mata. "Apa gak merepotkan? Divan rewel lho, Mah."
"Dia tinggal sama Mamah dan Papah dua minggu santai saja. Malah betah. Anakmu ini seperti papahnya, mandiri dan cuek." Ernesto mengusap rambut Divan.
Bia tak membantah, terlihat sekali Divan mudah akrab dengan anggota keluarga Dira meski baru bertemu. Anak itu memang pintar menyesuaikan diri.
"Mungkin kami pergi seminggu, Bi. Tak apa, kan?" tanya Maria.
"Iya, Mah. Rencananya akan pergi kapan? Biar Bia siapkan pakaian Divan dulu."
"Mau hari ini, Bi. Rencananya juga dadakan." Maria mencubit gemas pipi Divan.
Bia mengangguk. Lekas Bia berjalan ke kamar Divan. Ia siapkan koper dinosaurus putranya dan diisi dengan berbagai pakaian dan juga perlengkapan Divan selama satu minggu. Paling penting adalah boneka pororonya. Boneka pemberian Dira itu masih menjadi mainan favorit Divan.
__ADS_1
"Selama kami pergi, suruh Dira jangan terlalu sibuk. Pasti kamu kesepian," pesan Maria.
Tak ada ibu yang mau tinggal jauh dari putranya, tapi saat ini Bia menyimpan sedikit kebahagiaan. Seminggu ini, ia punya waktu bersama Dira. Tanpa sadar Bia nyengir kuda.
"Kalau perlu kalian juga pergi jalan-jalan. Anggap saja bulan madu." Ernesto tak mau kalah memberi saran.
Bia mengaitkan rambut ke belakang daun telinga. Inginnya juga begitu, tapi ia malu mengatakan pada Dira. Biar saja pria itu belajar peka sendiri.
"Bye, Mamah! Kacian dak ajak!" Divan melambai dari mobil. Kalau bukan anak sendiri sudah Bia getok dia.
...🍁🍁🍁...
Kesepian di rumah sendiri membuat Bia uring-uringan. Ponselnya tak berbunyi, Dira tak menghubungi dan ia gengsi menelpon duluan. Sayu dan Ana juga ada di Emertown. Tahu begini Bia lebih baik kerja saja.
Akhirnya ia mengambil keputusan. Sejak datang ke Heren, Bia tak keluar rumah. Sengaja ia panggil taksi dan pergi jalan-jalan ke tengah kota.
Bia melihat cerminan dirinya di kaca, benar-benar tidak Heren. Ia hanya mengandalkan google maps untuk melihat jalan. Dibandingkan ke mall dan melihat barang-barang mewah, Bia lebih suka main ke taman melihat air mancur. Heren ternyata punya daerah hijau sendiri meski tak seluas Emertown.
"Es krim!" pekik Bia ketika melihat penjual es krim cone. Selama ini ia tak mau makan es krim akibat harga diri. Sekarang lain, tak ada Divan juga Dira. Ini adalah hari khusus untuknya.
Bia memakan es krim dan menikmati pertunjukan dari seniman jalanan yang memainkan orchestra juga suara soprano. Namun, Bia sempat salah fokus akibat beberapa pasangan begitu terang-terangan berciuman di tempat umum.
Heren memang sangat bebas. Tinggal bersama tanpa pernikahan di sini dianggap legal. Bahkan Bia sempat beberapa kali melihat orang hanya mengenakan bikini duduk di sisi pantainya.
"Aku memang bukan perempuan suci, tapi di sini ada anak-anak dan mereka begitu bebas. Benar-benar tak punya etika!" gerutu Bia.
Karena merasa tak nyaman, Bia berpindah ke bagian taman bunga. Ia takjub melihat gelembung-gelembung sabun bermunculan dari sisi jalan akibat mesin peniup gelembung ada di bawahnya. Gelembung itu hasil pemurnian air sabun dari laundry-laundry di kota ini.
__ADS_1
Bia mulai berjalan di trotoar pertokoan. Tiba-tiba perutnya berbunyi. Ia melihat jam di tangannya. Ini sudah pukul empat sore dan Bia lupa tidak makan siang. Lekas Bia mencari tempat makan terdekat.
Ada restoran sederhana yang menjual mie. Sudah lama Bia tak makan mie. Meski ketika ia masuk, ia kaget karena hampir yang datang adalah ibu-ibu paruh baya. "Tak apa, aku juga ibu-ibu," batin Bia.
Restoran itu terlihat seperti kedai di Emertown. Dindingnya dari batu bata dicat putih dan mejanya dari kayu dibuat pendek hingga pelanggan harus duduk di lantai yang dialasi karpet.
Ia memesan semangkuk mie dengan pedas sedang. Setelah menunggu beberapa lama akhirnya ia dapatkan juga satu mangkuk mie yang masih panas.
Bia menggunakan sumpit untuk makan. Baru beberapa suap, napsu makannya hilang begitu mendengar obrolan ibu-ibu yang duduk di meja sebelahnya.
"Apa Dira gak rugi ninggalin Cloena? Perempuan cantik dan baik begitu," ucap seorang ibu berambut keriting sebahu dan memakai baju abu-abu.
"Paling putusnya pura-pura. Nanti juga balik lagi. Mereka itu terlalu serasi. Tak mungkin Dira melupakan Cloena begitu saja."
Cloena artis drama seri. Tentu fansnya kebanyakan ibu-ibu. Bia menyimpan sumpitnya di meja dengan kasar. "Kalau berantem sesekali wajar. Namun, aku gak setuju mereka pisah. Pokoknya harus balik lagi. Titik!" Ibu dengan jaket hijau nampak bersemangat.
"Aku juga, Bu. Kalau sampai ada cewek lain atau cowok lain di antara mereka, aku mau protes saja. Gak suka aku!"
"Iyalah, Dira mau nemuin perempuan kayak Cloena di mana? Sudah cantik juga baik. Dia juga sering menyumbang untuk kegiatan sosial. Bodoh banget Dira kalau sampai putus beneran!"
Mendengar itu semua membuat emosi Bia naik. Ia bangkit sambil berkacak pinggang. "Eh, Bu! Daripada ngurusin masalah artis lebih baik urus anak sama suami yang benar. Lagipula Dira mau sama siapa, itu hak dia. Memangnya kalian Tuhan bisa menentukan jodoh orang. Tahu darimana kalau Cloena baik. Jangan lihat orang cuman dari televisi. Kalau memang mereka cocok mana mungkin putus," omel Bia.
Ibu-ibu yang ia marahi kaget. Bagaimanapun meski sudah punya anak, Bia tetap terlihat masih seusia anak mereka. "Putus settingan? Dira itu penyanyi populer. Buat naik daun buat apa pakai settingan segala. Kurang kerjaan," tambahnya.
Suara tinggi Bia berhasil membuat ibu-ibu itu tak berkutik. Matanya juga begitu tajam melirik mereka satu per satu. Setelah itu Bia mengambil tasnya lalu pergi. "Bikin nafsu makan orang hilang saja. Padahal aku lagi mau makan mie!"
Ia berlari keluar dan berjalan hingga halte untuk mencari taksi. Tanpa sengaja Bia melihat L.E.D billboard yang dipasang di badan sebuah gedung. Hatinya tersayat melihat foto Cloe dan Dira di sana sebagai model iklan sebuah merk fashion dari Heren.
__ADS_1
"Yang punya merk itu apa gak liat internet! Sudah tahu orang putus masih saja dipasangan foto mereka barengan. Mau cari perhatian kayaknya," gerutu Bia sampai membuat beberapa orang di halte menjaga jarak darinya.