Bantu Aku Merubah Takdirku

Bantu Aku Merubah Takdirku
Bab 102


__ADS_3

Setelah bergumam seperti itu dengan wajah sedih dia bertanya 'Apa hari ini juga ada operasi?'


Menghilang wajah sedih kemudian dia mengeluh dengan wajah cemberut "Oh ayolah ibu ini tidak seperti aku setiap hari makan mie instan diam diam jika iya"


"Kalau aku hari ini juga makan mie, aku pasti akan muntah" Arin mengeluh padahal terakhir kali dia makan mie dua minggu yang lalu itu pun ketahuan


Arin a setelah pulang sekolah biasanya jika tidak ada orang di rumah dia hanya makan mie sambil melihat sesuatu di HP


Dia mengendus lengan bajunya untuk memastikan sesuatu yang sudah pasti tapi dengan sedikit harapan


'Hah... terpaksa deh aku mandi dulu sebelum pergi keluar, aku malas banget mandi' dia berkata dengan sedikit mengerang dan bergegas pergi mandi


Hanya dalam hitungan beberapa detik Arin sekarang duduk di depan sambil menyisir rambutnya 'Nggak apa apa deh mandi bebek yang penting selesai'


Dengan pemikiran seperti itu dia mulai memikirkan sambil membayangkan makanan yang akan dia pilih


'Corndog atau ayam goreng aja ya?'


'Hm, aku juga uda lama enggak makan


pizza tapi enggak seru kalau cuman satu


orang'


Dengan suara pelan dia bergumam "Pasti seru kalau Mama sama Lili ada di sini, kami makan sambil lihat film"


Plak! suara tamparan terdengar dari Arin yang tanpa alasan menampar dirinya sendiri 'Arin kamu semangat dong! besok kalau jadi kalian pasti ketemu'


Pada saat bingung memikirkan banyak pilihan yang muncul, Arin teringat hari ini ada diskon burger


'Kalau corndog atau pizza aku bisa beli di lain waktu tapi diskon kan enggak setiap hari ada kayak kata orang 'potongan harga adalah yang terbaik'


'Tapi kalau nggak salah tadi aku lihat kalau beli dua paket gratis satu paket lagi, enggak ada salahnya kalau aku ajak Lilian sama Mama'


Tapi saat hendak mengambil HP di meja


belajarnya, dia berhenti dengan mempertimbangkan perasaan mereka

__ADS_1


'Sekarang kan Lili lagi sama kak Erin lagi di rumah kalau Mama jauh dari sini, pasti dia lagi istirahat'


Jika dia mengajak mereka untuk ikut, Arin percaya mereka berkata iya tanpa berpikir panjang tapi terkadang dia berpikir 'Apa ini akan baik baik saja?'


Pada saat yang sama di rumah keluarga


Juvelian, suasana terlihat tenang tidak


peduli di lihat dari sisi mana pun


Para pelayan sedang sibuk dengan pekerjaan mereka tapi terkadang juga terdengar suara orang orang, ini membuat rumah yang sunyi terasa lebih hidup


Oh iya! sesuai janji mereka, Allen dan Luxia pulang ke rumah hari ini tepat ketika Juvelian dan Alan sampai rumah


Meski sangat di sayangkan orang tua belum pulang jadi tidak ada waktu untuk memperbaiki hubungan Luxia dan papanya


'Aku harap ini segera berakhir'


Tentu saja, harapan Juvelian akan segera terkabul seiring waktu dan anehnya begitu sampai di rumah mereka langsung pergi ke kamar masing masing


Meski mereka orangnya nggak banyak bicara tapi hari ini aura mereka suram seolah mereka baru saja melewati anggota badai bahkan kedua adik mereka saja tidak dapat mendekati mereka


Kita kembali lagi ke Arin yang hampir sampai, wah raut wajahnya benar benar bahagia yang seakan tertulis 'Diskon diskon~' dia juga sedikit melompat lompat


apa dia sesuka itu dengan potongan harga? segera dia berhenti di kedepan satu toko


Padahal saat dalam perjalanan ke sekolah, tempat itu di penuhi orang sampai ke pintu masuk tapi sekarang hanya ada beberapa saja


Dia bisa melihatnya dari kaca transparan di depannya, Arin ke sini cuman dengan satu tujuan


Pertama begitu berada di dalam, aku akan langsung menuju tempat pemesanan dan memilih burger yang pertama aku lihat di daftar menu di depannya


Karena burger yang dapat potongan harga itu pasti di tulis sangat besar sampai pecinta potongan harga bisa merasakan keberadaannya


Ini membuatku takut bagaimana kalau sudah habis, kemudian saat aku sudah pesan kasir biasanya akan bertanya pada dengan sopan mau makan di makan atau di bungkus


Setelah memikirkannya dengan baik aku akan segera menjawab di bungkus aja, tidak

__ADS_1


sampai lima menit aku berdiri pemasanannya sudah siap


Ketika berbalik Arin melihat ke sekeliling, di sepanjang kakinya melangkah dia melihat cukup banyak kursi yang kosong


'Apa aku makan di sini aja?'


Dia memutar matanya memikirkannya lagi tapi dengan bibir cemberut dia hanya


berjalan ke luar


Dia berjalan dengan tatapan bahagia sambil memegang dengan kuat bungkusan tadi dengan putar putaran di jarinya seolah sedang memainkannya


Mengangkat kedua tangannya dan sedikit melakukan peredarannya tangan, dia juga berlari kecil di teman dan berkata 'Apa aku ke taman aja?'


'Menghirup udara segar di luar memang yang terbaik' dia menghirup lagi tapi tidak sampai sedetik dia berpikir begitu salah satu kenderaan yang terparkir


Menyembur asap saat dia akan lewat, asap yang masuk ke hidung membuatnya batuk, jangan khawatir itu masih imajinasi Arin ketika dia mau menghirup udara sebanyak mungkin


Di atas trotoar yang di hiasi berbagai batu dengan berbagai ukuran yang di siram cahaya matahari dia bisa melihat bayangan di bawah kakinya


Bayangan itu terlalu besar untuk ukuran satu orang jadi berpikir itu adalah bayangan beberapa orang yang berjalan di belakangnya


Dia mengabaikan nya karena berpikir itu hal yang normal jika ada orang lain selain dia di sana habisnya akan aneh kalau mendadak tidak ada orang


Saat itu dia merasakan adanya kejanggalan kenapa mereka terus mengikuti langkah kaki Arin, dia hanya berpikir itu hal yang wajar karena itu jalan satu arah


Dengan natural dia membungkuk untuk mengikat ulang tali sepatunya dan yang dia lihat saat mengintip ke belakang adalah tingkah laku mereka yang aneh


Mereka terus mengikuti alur yang Arin ciptakan untuk menguji mereka, berhenti, berjalan, berhenti


Mereka terus melakukan itu sampai Arin merasa yakin mereka punya jahat


'Apa apaan ini? jadi ayah ibu benar benar punya musuh?'


Setelah melihat kejadian setelah pulang dari pantai Arin mulai merasakan keanehan, itu adalah hal aneh pertama yang menimbulkan kecurigaan pada kedua orang tuanya


'Ngomong ngomong kenapa mereka malah mengirim anak yang keliatan seumuran denganku, supaya identitasnya nggak ketahuan kalau mereka tertangkap?'

__ADS_1


'Dan terlihat seperti pertengkaran antar siswa yang biasa terjadi, orang di balik semua ini pasti sudah membungkam mulut mereka jika di tanya, buktinya dia tidak punya rasa takut untuk menangkap di tengah kota yang ramai ini'


__ADS_2