
Mengangkat kedua bahunya lux menjawab [sejak awal anak kucing itu tidak bisa melihatku dan hanya dapat merasa keberadaanku.] kata lux sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
Setelah berhenti menggeleng gelengkan kepalanya, lux menyambungkan perkataannya [aku memanjat pohon dan menunggu sayapku kering sampai aku melihatmu dari jendela dan terbang ke arahmu]
Bel istirahat makan kedua.
[juvelian, kita harus pergi ke tempat yang ada bunganya] kata lux dengan wajah gembira dan mengangkat kedua tangannya, menurunkannya pelan pelan.
[baiklah...] kata juvelian dengan tersenyum tipis di wajahnya.
"juvelian! Tunggu!" kata yeri yang mengejar dari belakang.
'mau apa lagi dia?!' pikir juvelian dan lux disaat bersamaan dengan wajah kesal.
Juvelian membalikkan badannya dan melihat ke yeri yang berlari ke arahnya.
"ini soal yang tadi, mau kah kau berbicara denganku sebentar saja" kata yeri.
'arrghh!! Rasanya aku seperti mau lompat dari jendela yang ada di sampingku, biarpun ada di lantai empat sekarang!' kata juvelian dalam hatinya dan mengepalkan tinju di salah satu tangannya.
Setelah juvelian dan yeri berdiri berhadapan,
Yeri bertanya "apa kau bisa memberikan nomor telepon rudan? " dengan wajah malu malu.
'aku tau dia akan bilang begitu' kata juvelian dalam hatinya dengan wajah jengkel
Sebelum kembali ke masa lalu, juvelian sudah banyak menghadapi anak anak yang meminta nomor lima sekawan dan lilian.
Tapi juvelian terus menerus menolak mereka karena itu benar benar mengganggu lima sekawan atau pun lilian.
Tapi gosip yang menyebar dalam waktu sebentar membuat seseorang datang karena hanya mendengar gosip.
__ADS_1
'menyebalkan, kalau saja jendela ini bisa di buka dan tidak di kunci aku pasti akan lompat'
juvelian melihat ke arah jendela yang ada di sebelah dan terkejut melihat rudan yang berkontak mata dengan.
'kyakk! barusan dia melihatku kan?'.
'tidak, tidak, itu tidak mungkin karena sekarang aku ada di lantai tiga!' kata juvelian yang menggelengkan kepalanya.
"juvelian, jadi apa kau bisa memberikan nomor telepon rudan?" tanya yeri.
juvelian tersadar dan melihat ke arah yeri.
'tapi aku tidak mau punya musuh dalam waktu singkat. Aku akan menolaknya secara halus'kata juvelian dengan hatinya dengan ekspresi kesal.
"kayaknya enggak bisa deh, soalnya rudan tidak terlalu suka jika ada orang lain yang mengetahui nomor telepon nya" kata juvelian dengan tenang.
"aku enggak akan sering sering meneleponnya kok" kata yeri dengan wajah berharap.
'bisa gila aku!' teriak juvelian dalam hatinya.
Padalah aku bilang rudan tidak akan suka jika yang tahu nomornya'.
'bukannya enggak akan menghubungi tapi malah enggak akan sering sering menghubunginya' kata juvelian yang kesabarannya sudah hampir habis.
"boleh ya... Kasih dong nomornya" kata yeri dengan tatapan berharap.
Mendengar hal itu tali kesabaran yang sudah di jaga baik baik yang ada di dalam hatinya sudah putus.
"enggak... " kata juvelian yang mengepal tinju di tangannya dengan erat.
"juju~" suara rudan yang memanggil juvelian di antara juvelian dan yeri.
__ADS_1
"ada apa ini?" tanya rudan yang melihat sinis ke arah yeri.
Melihat rudan, yeri langsung ceria dan berkata "rudan! Apa aku boleh minta nomor mu? ". Rudan menghela napas dan berkata dengan dingin "tidak bisa, karena hanya pacarku yang boleh mengganggu waktuku dengan meneleponku".
"hah? Pacar? Siapa?" kata yeri dengan pupil mata yang bergetar.
Menarik tangan kiri juvelian dan berjalan menjauh rudan berhenti sesaat dan berkata
"aku dan juju sudah berpacaran karena itu berhenti bertanya tentang nomor HPku"
Juvelian dan rudan berjalan ke arah kelas mereka yang kosong.
[wah~ kerennya! Anak ini pacarmu juvelian?.
Juju? Apa itu nama sayangmu?] tanya lux dengan wajah kagum.
[l.u.x berhentilah bertanya, karena ada yang harus kami bicarakan sekarang] kata juvelian dengan nada dingin.
Mendengar hal itu pupil mata lux bergetar dan terbang dengan cepat sambil berteriak
"aku benci juvelian!".
Juvelian dan rudan duduk di kursi mereka.
Rudan menundukkan kepalanya dan berkata dengan nada menyesal "maaf... Aku mendiamkanmu untuk waktu yang lama..."
Mengangkat sedikit kepala rudan melihat ke arah lain. "jadi sebenarnya... Aku itu tidak pernah pacaran jadi... aku tidak tahu bagaimana menghadapimu" kata rudan dengan wajah malu.
"aku juga tidak pernah pacaran karena itu mari kita belajar bagaimana orang lain biasanya pacaran atau jalani saja" kata juvelian.
Rudan menyentuh salah satu tangannya juvelian yang ada di atas meja.
__ADS_1
"baiklah" kata rudan yang tersenyum cerah.
~Bersambung~