
Arin memberi anggukkan pada jawaban Mina jadi dia tidak perlu memikirkan bagaimana dia akan ke sana dan di mana tempatnya
Apa lagi rasa gugup saat berada di tempat yang di penuhi orang yang tak dia kenal, segera dia bertanya lagi
"Em, baiklah tapi apa yang harus aku kenakan di sana?"
"Hm? Maksudnya?"
"Mungkin kau tidak tahu tapi ini kali pertama aku bertemu dengan banyak orang seumur di suatu acara selain di pesta ulang tahun atau pernikahan"
Setelah menjelaskan dia kembali ke pertanyaan
"Haruskah aku memakai gaun atau pakaian biasa untuk jalan jalan?"
"Oh, terserah tapi jangan pakai piyama, kita kan mau nongkrong bukan mau pesta piyama" jawab Mina yang sedikit
bercanda
Keheningan terjadi karena Arin yang agak bingung di awal segera tertawa yang di susul Mina
Ketika sampai di dalam rumah Arin yang
berjalan melewati dapur merasakan ada yang lengket di telapak kaki, itu adalah kertas dengan tulis tangan ibunya
[Nak, ada makan siang untuk mu di slow cooker jangan lupa di makan ya. Arin setelah makan kamu beres beres rumah terutama kamar mu. Ibu akan marah besar jika kau tidak melakukannya.
Untuk Arin putri ibu]
'....?' Arin tercengang, jelas tertulis ibunya menyuruhnya beli makanan di luar
Segera seseorang terlintas di kepalanya 'Itu pasti ayah! Pantas saja tulisannya berbeda' pikirnya sambil meremas kertas dengan wajah kesal
Dia pun berlari ke meja tempat dia menaruh kertas itu, tapi di atas meja kaca tidak ada apa apa bahkan gelas yang tadi di letakkan juga menghilang
'Bagaimana mungkin kertas dan gelas itu lenyap...'
Arin merinding dengan wajah pucat yang dipenuhi pikiran kacau, ketika dia masuk dia tidak menemukan keberadaan seseorang
Seolah dia memasuki alam lain dan para gadis itu hanyalah bagian dari mimpi, pembicaraannya dengan Mina hanyalah sebuah kebohongan
Selangkah demi langkah Arin mundur, dia dipenuhi rasa takut tak jelas dan berlari menuju pintu, dia buru buru menekan tombol di atas gagang pintu
Yang dia pikiran adalah meminta bantuan pada Lilian dan Erin, meski yang dia alami tidak masuk akal tapi dia butuh seseorang untuk menenangkan dan membuatnya merasa aman
Begitu pintu mengeluarkan suara, Arin terdiam sambil memegang gagang pintu dengan tangan berkeringat dingin
'... Kenapa aku berdiri di sini?'
__ADS_1
Dia merasa bingung seakan dia melupakan hal yang baru saja dia alami, tanda tanya terus bermunculan di kepalanya seperti...
'Apa yang mau aku lakukan? Kenapa aku membuka pintu apa mungkin aku ingin pergi ke suatu tempat? Tapi aku tidak bisa mengingatnya...'
'Hmmm, benar. Tadi habis di antar Mina! Terus ibu suruh aku beres rumah'
Dengan perasaan janggal dia membereskan ruang tamu sampai ke dapur, sambil mengelap meja dia menemukan catatan untuknya
'Sekarang aku memikirkannya kalau ibu sudah memasak makanan di slow cooker kenapa aku pergi ke luar?'
'Eh!' kepalanya terasa sakit seakan di tusuk tusuk, dia menggeretakkan gigi setelah beberapa saat rasa itu hilang
Menggelengkan kepala sambil memejamkan mata, berkata pada dirinya 'Lupakan lupakan itu Arin, anggaplah kamu cuman kebanyakan melamun'
Dia menuju ke kamar sambil menyeret langkahnya dari punggungnya terlihat dia sangat lelah
Saat sampai di kamar dia segera melempar dirinya ke kasur "Karena sakin lelahnya Aku jadi enggak selera makan"
Menutup matanya dengan tangan, dalam beberapa menit dia merasa sesuatu, itu adalah angin yang sepoi seakan angin membawa kembali memorinya
Dia teringat membicaraannya dengan Mina di luar apartmen tapi dia heran kenapa dia mau membantu Mina padahal dia sudah menolaknya
Meraih HP di sebelahnya, dia segera mengirim pesan pada Mina untuk memastikan tapi juga berhati hati untuk tidak melukai hatinya
Untuk Mina: [ Mina ]
Dari Mina: [Apa kau butuh bantu untuk memilih pakaian untuk nanti?]
'Nanti? Jadi aku benar benar ikut grup nongkrong?'
Untuk memastikan lagi dia mengirim pesan
Untuk Mina: [bukan itu, aku mau tanya kita ke grup nongkrong mungkin kira kira 07.30 kan?]
Dari Mina: [Ya, aku sudah tanya sama kenalan ku jadi sebisa mungkin kita pergi sebelum itu]
Untuk Mina: [oh begitu, baikkah]
Mina hanya membaca tanpa membalasnya lagi
Meski Arin bilang dia tidak selera makan tadi tapi dia segera bangkit dan memakannya di dapur sampai habis sambil beralasan
Sayang kalau di buang, apa lagi habis ini aku harus membereskan kamarku atau kena mengomelan lagi
Kalau ibu melihat kamar ku masih berantakan pasti akan bilang begini
'Ini kamar anak gadis atau kandang babi?'
__ADS_1
Jika itu terjadi Arin akan menatap ibunya yang menciptakan badai dengan berpikir 'Emangnya ibu pernah lihat kandang babi bisa bisanya ibu bilang begitu pada satu satunya anak perempuannya'
Begitulah Arin menggerutu sambil mengerang, dia terus menghela napas panjang dan mendengus sambil terpaksa membereskan kamarnya bersama ibunya yang masih mengomelinya
Itu sudah jadi hal biasa di rumahnya jadi meski malas dia tetap akan membereskan kamarnya atau mendapatkan badai di kamarnya
'Astaga, padahal ukuran kamar ini tidak terlalu besar tapi aku rasanya mau mati'
Melirik ke arah lemari bajunya yang paling malas dia rapikan, begitu dia membuka pintu lemari tumpukan baju menguburnya
'Lemari aku mengutuk mu'
Melompat keluar dari sana, dia perlahan lahan mengeluarkan pakaiannya yang tersisa di lemari dan menumpuk di atas tempat tidur
Setelah mengosongkan lemarinya dia segera duduk melipat kembali bajunya satu persatu dengan perasaan terpaksa
Padahal dia merasa sudah melipat banyak baju selama tapi dia bisa melihat baju baju itu masih menumpuk tinggi seperti gunung melebihi dokumen Luxia
'Cuman perasaan ku aja atau dari tadi enggak berkurang kurang, pasti cuman perasaan ku'
Pada saat itu dia tidak sengaja melihat gaun hitam yang dia pakai di acara sekolah waktu SMP
"Aku pikir uda di buang"
Semakin dia perhatikan semakin banyak dia melihat baju dan gaun lamanya
'Ah, aku jadi sadar betapa malasnya aku selama ini tapi apa sekalian aja aku cari yang mau aku pakai nanti'
Dia memisahkan pakaian yang bisa di kenakan dan tidak, sekalian mencari kandidat pakaian yang akan dia kenakan
Pada saat yang sama di rumah Juvelian, mereka membahas tentang menghabiskan waktu bersama
Mereka pun memutuskan untuk pergi bersama ke pasar malam Juvelian hanya diam karena tidak mau menghancurkan
suasana hangat yang sangat jarang terjadi
Di akhir pembicaraan mereka bertanya pada Juvelian "apa sebaiknya kita pergi
malam ini?"
Dia masih mempertimbangkannya sampai sekarang, mereka memang bilang jangan memaksakan diri kalau enggak mau pergi tapi di satu sisi dia sudah berjanji akan pergi dengan Rudan malam ini
Juvelian menghela napas panjang sambil menatap ke luar jendela
'Apa lagi karena pekerjaan mereka, sangat jarang bisa menghabiskan waktu dengan mereka tapi melanggar janji bukanlah hal yang baik'
'Ini memang membingungkan...'
__ADS_1