
"Apa itu harus?" tanya juvelian.
Memegang kedua tangan juvelian "tentu saja, dengan begitu orang akan percaya bahwa kita pacaran" jawab dengan tersenyum.
"baiklah, tapi seperti butuh beberapa waktu ya" ucap juvelian. Melihat ke arah es serut yang ada di meja, juvelian Melepaskan genggam tangan rudan.
'karena tadi rudan menyuapi ku es serut sekarang gantian aku' pikir juvelian.
Melihat ke arah es serut yang ada di meja, Juvelian Melepaskan genggam tangan Rudan dan bergeser menghadap meja.
'Karena Tadi Rudan Uda Suapin Aku Es Serut , Sekarang Gantian Aku' kata Juvelian dalam hatinya dengan semangat.
Juvelian menggenggam sendok es yang ada di atas es serut dan menariknya pelan pelan.
'Meskipun Kami Hanya Pura- Pura Pacaran Tapi Rudan Tetap Lah Sahabat Ku Baik Itu Sebelum Kembali Ke Masa Lalu Atau Pun Sekarang' kata Juvelian dalam hatinya yang mengambil es serut dengan sendok.
Rudan menggigit sedikit bibirnya dan berkata dalam hatinya.
'Sebenarnya Aku Yang Meminta Pura- Pura Pacaran Karena Keserakahan Ku Sendiri Dan Berfikir Aku Tidak Boleh Menjadi Serakah, Cukup Sampai Di Sini'
'Siapa Yang Menyangka Aku Malah Menjadi Ingin Lebih Serakah Sampai Meminta Nya Memanggil Ku Dengan Nama Panggilan Sayang'
'Tapi Aku Yang Menyukai Nya Bukan Lah Kebohongan Bahkan Bisa d Bilang aku Mencintai Nya, Meskipun Aku Tau Hanya Aku Yang Akan Menyesal Pada Akhirnya'.
Berbalik melihat ke arah Rudan, Juvelian memegang sendok dengan tangan kanan dan tangan kiri yang berada di bawah sendok untuk menampung jika jatuh, dengan senyum ceria meminta Rudan untuk membuka mulutnya.
Memajukan kepalanya Rudan membuka mulutnya.
'apa aku boleh menjadi lebih serakah?' pikir Rudan yang memakan es serut itu
'Manis... Aku Tidak Terlalu Suka sesuatu yang manis karena rasanya aku seperti mau muntah tapi saat bersamanya rasa manis itu menghilangkan begitu saja' pikir rudan.
"mau lagi?" tanya juvelian dengan tersenyum
Rudan mengangguk seperti anak kecil yang di beri coklat.
'imutnya! Kalau di pikir- pikir aku tidak pernah menjahili Rudan' kata Juvelian dalam hatinya yang tersenyum nakal.
'sebenarnya Juvelian ada di mana... Kenapa dari tadi ku cari tidak ketemu' kata arin dalam hatinya yang berlari melewati kafetaria sekolah yang dekat dengan taman tempat di mana Juvelian dan Rudan berada.
Berlari melihat ke kanan ke kiri arin menghentikan langkah kaki nya tiba tiba karena melihat orang yang mirip dengan Juvelian dari kejauhan.
'Itu Juvelian!' kata Arin dalam hatinya yang gembira telah menemukan juvelian.
Juvelian mengangkat sendok yang berisi es serut dan mengarahkan nya pada rudan katakan a...
Begitu Rudan membuka mulutnya, Juvelian membalikkan sendok ke arah dirinya sendiri. 'aku berhasil mengerjainya!' kata Juvelian dalam hatinya yang menahan tawa.
Di sisi Rudan memasang tatapan tajam yang membuat juvelian terkejut.
'ada apa dengannya apa ada sesuatu di belakang ku' pikir juvelian.
Dari arah belakang Arin berjalan dengan suasana hati yang bahagia dan memeluk Juvelian dari belakang dengan kedua tangannya.
Arin berkata a... mendekatkan kepala ke arah es serut dan memakannya.
Melepaskan pelukan tangan, Arin memegang kedua pipinya dan berpikir bahwa es adalah hal yang di perlukan saat hari panas.
Rudan yang masih menatap tajam dengan wajah kesal 'situasi macam apa ini? Aku tidak akan kesal jika Juvelian yang memakannya tapi ke gadis yang entah datang dari mana!' kata rudan dalam hatinya.
"Arin..." ucap Juvelian yang terkejut melihat Arin. "Arin?" gumam Rudan.
Begitu namanya di sebut Arin memasang wajah gembira.
"kau mengingat ku?" tanya Arin. juvelian mengangguk tanda ia mengingat Arin.
Melihat Juvelian yang mengangguk, Arin hampir menangis karena terharu juvelian mengingatnya.
'sudah ku duga, anak itu hanya ingin aku membenci juvelian tapi bagaimana aku bisa membenci orang yang tidak melupakan ku'
Kata arin dalam hatinya yang melihat ke juvelian.
"juju, siapa anak ini?" tanya rudan yang menatap tajam ke arah arin.
__ADS_1
Juvelian bangkit dari tempat duduknya dan melihat ke arah rudan.
"Rudan, perkenalkan namanya Arin" kata Juvelian yang tersenyum.
Memalingkan wajahnya melihat ke arah arin yang penasaran hubungan apa yang di miliki juvelian dan rudan.
"Arin, perkenalkan namanya Rudan"
"dia satu kelas dengan ku" ucap Juvelian.
Arin berjalan melewati Juvelian dan mengalirkan tangan pada Rudan "namaku Arin" ucap ariArinn.
Rudan menjabat tangan arin dan tersenyum sinis tapi terlihat tulus "namaku Rudan pagarnya Juju".
"Juju?" tanya Arin. Dari arah belakang juvelian mengangkat tangan kanannya "itu nama panggilan sayang aku" ucapan Juvelian dengan wajah malu.
Mendengar hal itu Arin menarik tangannya dan berlari ke arah juvelian "itu nama panggilan sayangmu, manis" kata Arin yang berdiri di depan juvelian.
"tentu saja, karena aku yang memberi nama itu" kata Rudan yang tersenyum sombong.
'ku pikir nama itu di berikan oleh orang tuanya ternyata anak aneh itu' kata Arin dalam hatinya yang berubah menjadi tatapan tidak peduli.
'bagaimana kalau...' setelah mendapatkan ide di kepalanya arin dengan tersenyum bertanya pada juvelian apa dia boleh membuat nama panggilan sayang untuk juvelian.
Juvelian sedikit memiringkan kepala berpikir sebentar 'meskipun aku akan sedikit kebingungan karena nama panggilan ini tapi sepertinya tidak buruk'. Juvelian
mengangguk.
"Bagaimna dengan lian?" tanya Arin.
Dari arah belakang terdengar suara Rudan yang menahan tawa "itu nama panggilan sayang yang hanya boleh di gunakan oleh keluarganya"
Menahan rasa kesalnya, Arin memutar kepalanya melihat ke arah rudan.
'kau mau cari masalah ya?' tanya arin.
'Emang nya kenapa kalau ya' kata rudan dalam hatinya yang tersenyum.
Mengepal tinju di tangan kanan 'tahan dirimu arin, orang yang marah adalah yang kalah' kata arin dalam hatinya dengan senyuman tipis. Arin berbalik lagi ke arah juvelian dan bertanya lagi.
Tidak bisa menahan rasa kesalnya arin memiringkan kepalanya dan melihat ke arah rudan "sebenarnya apa masalah mu sih? " tanya arin nada menakutkan.
"a, arin, kau kenapa?" tanya juvelian yang terkejut dengan ekspresi arin.
"kenapa kau mau pacaran sama orang kayak dia..." teriak arin yang berjalan ke arah juvelian dan menunjuk wajah juvelian.
Terkejut dengan ekspresi juvelian, arin menundukkan kepalanya "aku takut lagi lagi ada orang yang berpura pura menjadi temanku" kata arin yang menetes kan air mata.
Menyentuh kedua pipi arin dan mengangkat kepala arin melihat ke arah juvelian.
"emangnya aku orang yang seperti itu?" tanya juvelian yang tersenyum sedih.
"tidak, kau bukan orang yang seperti itu juvelian adalah orang yang baik" kata arin yang menahan tangis.
Menghela nafasnya, juvelian memeluk arin yang menangis dan menepuk punggung arin dengan pelan.
"keluarkan lah, kau bisa menangis sepuasmu" Kata juvelian dengan nada hangat.
Kembali ke waktu sekarang
'setelah mendengar kata kataku pada hari itu, dia menangis untuk waktu yang cukup lama bahkan kami hampir terlambat masuk kelas karena terlalu sulit menenangkan nya'.
'Tapi aku bersyukur karena Rudan dan Arin mulai akur, meskipun butuh waktu yang lama sih'.
Melihat ke arah arin yang tersenyum bahagia, 'aku harap dia selalu bahagia'.
Di dapur.
Membuka bungkusan plastik, erin menuang ikan kembung ke dalam air dingin dan mencucinya.
"kalian bisa mengeluarkan insang ikan?" tanya erin.
"bisa" jawab juvelian dan arin secara bersamaan.
__ADS_1
"biasanya orang akan membela perut ikan untuk mengeluarkan isinya atau menggunakan tangan tapi... Ada cara lain loh".
Mengambil satu pasang bambu dan memegang satu ikan, erin membalikkan badan.
melihat ke arah juvelian dan arin, erin berkata dengan "dengan sumpit".
"Sebelum sirip ikan pada bagian dada, perut, punggung dan ekor ikan di potong"
"dan membersihkan sisiknya, kita harus mengeluarkan insang dan isi perutnya".
Pertama masuk sumpit dari mulut ikan
Setelah itu putar putar, lalu di tarik deh.
Insang dan isi perut yang lain akan terlilit di sumpit.
Begitu insang ikan keluar, juvelian dan arin memasang wajah kagum.
"mau coba? " tanya erin yang tersenyum.
"iya!" jawab juvelian dan arin yang mengangkat tangan kanannya.
'di putar putar lalu tarik'.
"berhasil" gumam juvelian dengan arin yang menyusulnya. 'oek... Kenapa mereka bisa begitu berani'.
Melihat lilian yang berdiri di sudut dinding dengan wajah pucat dan menundukkan kepala, erin mendekati lilian dan bertanya apa dia sakit. Mengangkat kepala dan melihat ke arah erin.
Lilian menggelengkan kepala dua kali dan berjalan ke arah juvelian dan arin.
'lilian, kau harus berani! Itu hanyalah salah satu ikan yang biasa kau makan'.
Memegang ikan di tangan kanannya, wajah lilian kembali pucat.
Mata ikan itu melihat ke arah lilian dan membuka mulutnya.
"ada apa denganmu, lilian?" tanya ikan itu.
"apalah kau sangat menyukai ikan tapi tidak berani mengeluarkan insang nya pengecut" kata ikan itu dengan ujung bibir yang terangkat.
Kata pengecut mulai bergema di telinga lilian
"aku bukan pengecut tau, aku pasti bisa melakukannya lihat saja"
"hah, bukti kan lah" kata ikan yang mulai lemas.
'apa tadi aku sedang menghayal?' pikir lilian.
'ayo lah lilian, kau hanya perlu memutarnya dan di tarik. Itu sih mudah'.
Lilian memasukkan sumpit, memutarnya dan
Di tarik dengan pelan.
"berhasil!" gumam lilian.
Begitu isi perut keluar, wajah lilian menjadi pucat. 'ini bahkan lebih melakukan dari yang ada di buku atau Internet' kata lilian yang mau muntah.
Dengan cepat lilian membuang insang nya Ke dalam plastik dan mencuci ikan.
"kak Erin, Apa aku boleh membersih kan Cumi Cuminya Aja?" tanya erin dengan Tatapan berharap.
Erin tersenyum dan mengizinkan nya.
'Meskipun Aku Tidak Bisa Membersihkan Ikan Tapi Jika Cumi, Pasti Bisa'.
Setelah menyiapkan semuanya, mereka Memilih untuk tidur beberapa jam sampai Sore datang.
"kyakk, Sekarang Uda Jam Enam Sore" teriak Juvelian yang kaget melihat jam di HP Nya.
Erin dan yang lainnya bangun dengan cepat
Dan pergi ke kamar mandi dengan tergesa Gesa.
__ADS_1
~Bersambung~