
"Mina, apa kau bisa berakting?"
Mina memutar matanya dan diam beberapa saat untuk berpikir.
Melihat Mina yang hanya diam, Juvelian berkata dalam hatinya dengan tersenyum pasrah 'Tamat sudah'.
"Mungkin sedikit?" kata Mina.
'Kenapa kau malah bertanya balik'
"Aktingku tidak bisa di bilang bagus tapi tidak buruk" kata Mina yang mengangkat sedikit kedua bahunya dengan sedikit ragu ragu.
"Bagus lah, karena itu sudah cukup" kata Juvelian yang tersenyum setelah memikirkan sandiwara pendek yang akan mereka mainkan.
Melipat tangan dengan tersenyum licik, Juvelian mulai berbicara tanpa henti
"Pertama, kita akan terlihat seperti teman masa kecil yang sudah lama tidak bertemu"
"Aku akan mengatakan dialogku kira kira dua sampai empat kalimat, Aku akan membawa kak Alan untuk ikut juga. Ja-"
"Tunggu"
Juvelian yang belum selesai bicara di sambung dengan Mina yang bingung kenapa nama 'Alan' di sebut, karena Luxia hanya membahas tentang Juvelian dengan singkat.
"Siapa orang yang Juvel maksud dengan 'Kak Alan'?"
Juvelian yang kaget hanya bisa berbicara dalam hatinya.
'Kak Luxia, kau pasti hanya mengatakan sesuatu secara singkat, padat, dan tidak jelas pada Mina seperti yang biasa kakak lakukan...'
"Mina, apa saja yang kakak katakan padamu?".
"Nona Luxia tidak mengatakan apa pun. Hanya memberikan beberapa halaman kertas"
Juvelian yang merasa ragu dengan kalimat 'Beberapa halaman kertas', menyipitkan matanya karena curiga dan bertanya
"Lebih tepatnya berapa?"
"Tidak banyak, hanya tujuh kertas yang berisi informasi tentang anda"
'Sudah ku duga' pikir Juvelian yang hanya tersenyum tidak bisa berkata kata.
Mengesampingkan dirinya yang sudah terbiasa dengan cara bicara Luxia, Juvelian bertanya lagi "Apa warna kesukaanku?"
"Hitam, biru dan putih. Tapi, yang paling Juvel sukai adalah warna aquamarin"
Juvelian berpikir itu adalah sebuah kebetulan, bertanya lagi.
"Berapa umurku sekarang?" katanya sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Lima belas, tapi seharusnya tahun ini adalah enam belas karena Juvel lahir di akhir tahun"
"Dengan kata lain nona Juvelian adalah yang termuda di kelas"
Tidak percaya dengan jawaban yang di jawaban dengan sangat tepat itu, Juvelian mengajukan beberapa pertanyaan lagi.
Dengan mudah Mina menjawab seakan ada suatu mesin di kepalanya yang menjawabnya semuanya.
Menyerah mengajukan pertanyaan Juvelian mulai kembali mengatakan tentang skenario.
"Baiklah, Kak itu adalah kakak laki- laki ke dua ku. Kakak akan langsung mengerti dengan kita yang sedang berakting, jadi kau
Hanya berkata 'Hahaha, aku ingin membuat kalian kaget'. Mengerti?"
Mina mengangguk dan membuka mulutnya
"Ha-ha-ha, aku akan"
"berhenti" kata Juvelian dengan tegas.
" Yang benar, 'Hahaha, aku ingin'"
Mengatur suara beberapa saat dan mulai mengatakan dialognya
"Hahaha, aku ingin membuat kalian kaget" kata Mina dengan wajah super darat dan nada dingin tanpa perasaan.
'Apa ini akan baik baik saja?' tanya Juvelian pada dirinya sendiri.
Memegang tangan kanan Mina dan berjalan kembali ke bangku dan meja di bawah pohon dengan Mina yang berjalan di sampingnya yang masih memasang ekspresi datar.
__ADS_1
"Mina, bukannya kau sedikit keterlaluan. bagaimana bisa kau sekolah di tempat yang sama dengan ku tapi tidak memberi tahuku?"
Juvelian diam beberapa saat dan melanjutkan perkataannya.
"Padahal kita sudah lama tidak bertemu, bukan begitu kak Alan?" kata Juvelian yang tersenyum cerah.
Alan melihat ke belakang dan berkata sambil mengangguk
"Iya" kata Alan dengan tatapan bingung.
Melihat reaksi dan tatapan Alan, Arin dan Nine berpikir hal yang sama dengan ekspresi datar 'Ternyata dia juga tidak mengenal orang itu'.
Alan yang tidak mengerti dengan apa yang terjadi dan apa yang Juvelian, padahal dia baru pertama kali bertemu dengan Mina
hanya bisa mengangguk dan berkata iya.
"Hahaha, aku ingin membuat kalian kaget" kata Mina dengan kaku.
'Ini lebih baik dari yang tadi' pikir Juvelian yang berjalan ke arah tempat kosong di antara Rudan dan Alan.
"Teman teman, ini Mina"
"Mina, ini teman temanku. Perempuan dengan rambut hitam yang duduk di sana namanya Arin, yang sebelahnya namanya Nine".
Arin melambaikan tangan dengan berkata "Hai" dan Nine memberikan salam dengan tersenyum menyegarkan.
Mina membalasnya dengan melambaikan tangan.
Juvelian melihat ke arah Ian yang tertidur dengan tatapan kosong.
"Orang yang tertidur dengan melipat tangan di atas meja di situ adalah Ian, yang duduk di ujung itu adalah Daniel"
Mina mengangguk tanda dia mengerti, apa yang Juvelian katakan.
Juvelian menyentuh bahu Rudan, membuka mulutnya dengan lembut dan berkata
"Seperti yang pernah aku katakan, ini pacarku, Rudan"
Dengan ekspresi datar, Rudan memberikan salam dengan tangannya.
Menyadari Mina yang tidak duduk tapi, malah berdiri tegak di belakangnya, Juvelian menyuruhnya duduk dengan menatap tajam ke arahnya.
Juvelian yang hampir menyerah, menatap tajam ke arah Mina yang ada di belakangnya dan membuka bibirnya.
"Duduk" kata Juvelian dengan nada dingin sambil tersenyum menakutkan dan wajah ceria.
Dengan langkah kaki yang cepat, Mina duduk di bangku ujung meja yang berhadapan dengan Daniel yang duduk di seberangnya.
Posisi bangku di taman atau di depan kafetaria, mengelilingi meja dengan pohon yang tidak terlalu tinggi sekitar 3 atau 4 meter lebih di sebelah kiri.
Melihat beberapa makan ringan, es krim dan minuman kaleng yang ada di tengah meja, Mina bertanya apa dia boleh memakan es krim chocolate almond yang tinggal satu.
Alan diam beberapa saat dan mengizinkannya dengan mengangguk.
Arin mendekatkan kepalanya ke arah Mina dan membisikkan sesuatu.
"Apa kau ini benar benar pengawal pribadi Mama?" tanya Arin dengan tatapan penasaran.
Mina yang bingung dengan kata 'Mama' yang Arin sebut, bertanya balik "Siapa 'Mama' yang kau maksud?".
"Juvel. Mulai dari dua hari lalu, aku panggil Juvel dengan sebutan 'Mama'" kata Arin dengan tersenyum ceria.
Seseorang kemudian berjalan ke arah mereka dengan langkah kaki terhuyung seperti akan pingsan sambil terengah- engah.
Ketika mereka melihat siapa orang itu, Arin dan Nine menoleh untuk melihat siapa orang itu. Arin seketika terkikik, karena orang itu tidak lain adalah Jiho.
dia bersandar pada pohon di sebelah mereka dengan wajah yang terlihat sangat lelah, yang jarang terjadi. "Dengan kecepatan seperti itu kenapa anak itu enggak jadi atlet lari saja?" gumam Jiho dengan wajah pucat.
Jiho melirik ke arah es krim yang baru saja Arin makan setengah.
Butir- butir keringat yang ada di dagunya mengalir ke lehernya.
Menelan ludahnya sendiri, dia bertanya dengan ragu ragu. "Apa es krim... rasa Chocolate almond nya, masih ada?".
Arin memasang seringai di bibirnya dengan tertawa tanpa suara seperti iblis kecil yang merencanakan sesuatu.
"Masih ada kok"
Jiho yang mendengar apa yang Arin katakan menjadi lebih cerah yang dapat di lihat dari wajahnya.
__ADS_1
"Ada di sini" kata Arin yang menyentuh perutnya yang ramping.
"Kau bercanda?"
Dengan ceria nya dia menjawab "Enggak kok. Aku benar benar serius".
"Es krim chocolate almond sudah habis, yang ada tersisa hanya white almond dan vanila rasberry" kata Alan.
Seketika Jiho menjadi lemas dan berjalan ke arah tempat kosong di sebelah Daniel.
Meletakkan plastik yang berisi makanan ringan miliknya dan melihat minuman kaleng di atas meja.
"Kau boleh mengambil nya".
"Apa?" kata Jiho yang tidak mengerti apa yang Rudan katakan.
"Bukannya kau ingin bertanya apa kau boleh
meminum minuman kaleng itu" kata Rudan dengan santai.
Menyadari Jiho yang hanya diam, Rudan membuka bibirnya dan sedikit memiringkan kepala sambil berkata.
"Kalau enggak mau ya enggak usah di ambil, kenapa kau hanya diam seperti patung di situ"
Jiho membuka minuman kaleng yang ada di tangan kirinya, begitu suara minuman kaleng terbuka terdengar, dia mengangkat kepalanya untuk meminumnya
Melihat Jiho yang minum dengan cepat dan kembali semangat seperti orang yang menemukan air di tengah gurun, daniel tertawa.
"Hei, Jiho. Kau baru saja kembali dari terdampar di gurun ya?"
Dari arah belakang seseorang memegang bahu Jiho dengan nada sangat dingin dia berkata "Ketemu"
Jiho yang terkejut, berteriak tanpa suara dengan wajah pucatnya.
Meletakkan dagunya di atas tangannya, Juvelian melihat Jiho dan Lilian yang bertengkar dengan tatapan kosong.
Menutup matanya dengan lembut dan tenggelam dengan pikiran sendiri.
Tidak ada yang terjadi pagi ini, lebih tepatnya sudah 400 hari sejak aku kembali ke masa lalu, tidak ada apa pun yang terjadi yang terjadi sejauh ini.
Tidak ada tanda tanda hal buruk akan terjadi dan rencana awal ku untuk berteman pura pura dengan mereka dan mengumpulkan informasi yang berguna gagal total, tidak ada informasi yang aku dapatkan.
Aku sekarang menjadi lebih dekat bukan hanya dengan Lilian, tapi juga Lima Sekawan dan Arin. Banyak hal yang sudah berubah dari aku dan Arin yang berteman.
Tinggal bersama keluargaku, dan pacaran dengan Rudan.
Malu dengan apa yang dia pikirkan, tangan Juvelian yang menampung dagunya bergeser dan kehilangan keseimbangan.
Wajah Juvelian yang hampir jatuh ke atas meja, di tangkap Rudan menggunakan tangannya.
"Enggak ada yang terluka kan? " tanya Rudan dengan wajah khawatir.
"Aku enggak apa apa kok" jawab Juvelian sambil tersenyum hangat.
'Aku ini ada ada aja deh, hanya karena memikirkan aku dan Rudan yang pacaran jadi hilang konsentrasi'
Dan satu hal lagi, karena aku merasa curiga dengan Lia (pelayan pribadi), aku meminta Lux untuk mengawasi Lia dan temukan hal yang mencurigakan.
Tapi sebagai gantinya aku harus mengorbankan lima kotak coklat kesukaanku.
Karena terlalu sering memberinya coklat, mama jadi khawatir dengan coklat yang harusnya habis dalam satu bulan menjadi satu minggu.
Berkat hal itu, mama selalu memeriksa kesehatanku hampir setiap bulan.
Sebenarnya yang jadi masalah utamanya adalah anak perempuan yang mengaku sebagai anak paman regis.
Mama bilang aku harus berhati hati dengannya.
Meskipun terlihat seperti anak yang polos tapi mama merasa bahwa dia bukan anak yang polos seperti wajah.
~Bersambung~
Karena alasan pribadi saya tidak akan update sampai tanggal 19 januari 2022.
Terima kasih untuk kalian yang sudah komen, like dan baca karyaku
Sampai jumpa lagi pada tanggal 19
~Terima kasih ~
__ADS_1