Bantu Aku Merubah Takdirku

Bantu Aku Merubah Takdirku
Bab 62


__ADS_3

Selamat membaca


Jangan lupa di like dan komen


Diam -diam melirik ke arah isi buku tapi,


mata Mina mulai merah dan berkaca kaca


saat dia berkedip beberapa air mata menetes dan mengalir di wajahnya


Juvelian yang melihatnya berkata pada


dirinya sendiri 'Anak ini tidak sakit kan?'


Melihat ke sebelah lain, Alan tertidur dengan


kepala mengangguk menunjukkan betapa mengantuk nya dia


Tidak sampai beberapa detik kepalanya


terbentur kaca jendela di sampingnya


Dia langsung tersentak terbangun dan


membuka matanya lebar -lebar seperti akan


keluar


Melirik raut wajah Juvelian yang sangat


terkejut


Menyilangkan kakinya dengan dagunya di


atas tangannya yang di gepal dengan lembut


yang di sandar kan di dekat kaca


Tatapan nya lurus ke depan seperti tidak


terjadi apa apa dengan wajah yang sangat


tenang seperti air di dasar laut, tidak ada


ekspresi yang di perlihatkan di wajahnya


Posisi duduk dan tatapan nya yang


meyakinkan seperti seseorang yang sedang


berpose untuk di foto, Juvelian hanya


menatap kosong dengan acuh tak acuh


Alan hanya diam dengan posisi yang sama


dengan matanya yang keluar bintang kuning


yang seperti mengatakan 'Aku adalah orang


yang paling keren'


Merasa ada yang salah dengan penglihatan


nya atau dia sedang melamun, Juvelian


menggosok salah satu matanya dengan


lembut tapi, karena tidak ada perubahan


pada posisi duduk Alan


Juvelian berkata pada dirinya sendiri 'Lah,


Kak Alan kenapa lagi?' sedangkan Alan yang


masih merasa tatapan dari Juvelian, mulai


merasa lelah dengan posisi duduknya


Tapi dia yang selalu ingin terlihat keren di


mata Juvelian dan tidak ingin menjadi orang


terakhir di hati Juvelian harus menahan apa


pun untuk menempati posisi teratas


Satu butir keringat yang tergantung di


pipinya mengalir ke lehernya yang terasa


dingin seperti air es dari kulkas membuat nya merasa geli


Walaupun di luar sedang panas tapi di dalam mobil hanya terasa udara yang sejuk dengan


keheningan yang menambah udara menjadi dingin


Tidak heran Arin yang duduk di belakang


sampai tertidur dengan nyenyak dengan


kepalanya di sandar kan di bahu Lilian


sedangkan


Lilian yang memberikan Arin tempat


bersandar di bahunya terlihat waspada


dengan sekitarnya, tangannya yang


menyentuh kepala Arin dengan lembut


menjaga kepalanya agar tidak terjatuh atau


terbentur sesuatu


Arin tertidur dengan sangat nyenyak dengan


kepalanya di sandar kan di bahu Lilian

__ADS_1


Jika Lilian adalah seorang pria, pasti orang


yang melihat nya akan berpikir mereka


adalah sepasang kekasih


Melihat semua itu dari kaca depan, hati


Juvelian terasa sakit, seolah olah seseorang


telah merebut posisi nya di hati Lilian


Tapi di sisi lain dia tidak bisa menyalahkan


siapa pun baik itu Arin atau orang lain


Karena semuanya terjadi karena dirinya


sendiri yang salah paham dengan Lilian


Tersenyum pahit di bibirnya terlihat dengan wajahnya sedih


Melihat ke luar jendela ke arah sinar


matahari yang sangat cerah, menurunkan


pandangan ke bawah, menutup matanya


dengan lembut


Bulu matanya yang panjang berkilau terkena


sinar matahari yang berhasil menembus


masuk melalui kaca jendela


Mengingat kembali saat dia masih bersama dengan Lilian sebagai Riana


Juvelian yang merasa terluka dengan perlakuan orang tuanya


Juvelian kecil yang haus akan kasih sayang


menjadi dekat dengan Mira (pengasuhnya


dan kepala pelayan di rumah Juvelian) yang


memberinya banyak kasih sayang


Merubah identitas menjadi Riana dan hidup


sebagai orang biasa dari dia berusia lima


tahun dengan Mira yang menjadi ibunya,


Juvelian sedikit kesulitan dengan lingkungan sekolahnya


Banyak anak sekelas yang tidak mengerti


apa yang Juvelian kecil katakan seperti


nama buku langka di perpustakaan pribadi


keluarganya


sekelas nya, sifat Juvelian kecil yang ramah


dan mudah tersenyum membuat orang


menyukai nya dalam waktu singkat


Banyak anak yang akan mengerumuninya


karena penasaran dengan ceritanya


meskipun tidak mengerti apa yang Juvelian


katakan


Juvelian yang bisa menyerap dengan


sempurna apa yang dia pelajari dan dia


dengar mulai beradaptasi dengan lingkungan


sekolah


Bermain banyak hal yang tidak pernah dia


mainkan bersama dengan teman sekelasnya


Karena kedua orang tuanya dan kakak


kakaknya selalu sibuk dan mengabaikan nya


Dia yang selalu di abaikan tidak pernah


berlari dengan bahagia dan tertawa lepas


di lapangan untuk bermain bola


Baginya hidup sebagai Riana adalah hal yang tidak akan pernah dia lupa


Sampai dia bertemu dengan Lilian kecil yang


selalu sendirian dan duduk meringkuk tanpa


mengatakan apa pun di pojok ruang kelas


dengan tatapan kosong hanya melihat


Juvelian dan teman sekelas yang bermain


Juvelian yang melihat Lilian yang hanya


memperhatikan nya dengan tatapan kosong


mengingatkan nya pada dirinya sendiri saat


menjadi Juvelian


Mungkin karena merasa perasaan yang

__ADS_1


sama Juvelian mendekati Lilian dan


mengulurkan tangannya dengan tersenyum


hangat


Merasa ketulusan dari Juvelian yang


mengulurkan tangan dengan tersenyum


hangat, Lilian tanpa ragu -ragu menerima


uluran tangan itu


Sejak saat itu Juvelian dan Lilian selalu


bersama seperti saudari kandung


Mereka bahkan sampai bisa tahu berapa


banyak sendok dan garpu di rumah satu


sama lain dan kata sandi rumah


Selama bertahun tahun mereka selalu menempel seperti permen karet


Meskipun Lilian tidak pernah berteman


dengan anak anak yang lain


Karena baginya Juvelian adalah satu satunya


sahabatnya dan orang yang berharga bagi


nya, Mengingat kenangan indah bersama


Lilian yang seperti baru saja terjadi


Dia linglung sesaat sampai suara tawa kecil


seseorang yang terdengar sangat bahagia


menghancurkan keheningan di dalam kepala


Juvelian yang langsung tersentak


Melihat ke suara tawa yang membuatnya


kembali penasaran


Juvelian hanya menatap kosong ke arah


Mina sambil bertanya pada dirinya


'Anak ini masih waras kan...?'


Saat itu juga suara pintu yang di tutup


terdengar dari arah belakang


Bingung dengan asal suara, Juvelian melihat sekilas ke belakang


Terkejut dengan dua orang yang tidak ada di


tempatnya dan tidak ada siapa pun di jok


belakang, Juvelian langsung melihat ke


samping di sebelahnya, Arin dan Lilian


berdiri di luar


'Ah, sudah sampai ya' pikir Juvelian sambil membuang napas lega


Karena terlalu sibuk dengan pikiran sendiri,


Juvelian tidak tahu apa yang terjadi di


sekitarnya


Bahkan dua orang yang duduk di


belakangnya yang keluar dari mobil saja, dia


tidak menyadari nya sampai melihat ke arah


belakang


Tanpa di sadari mobil kembali berjalan


kembali, walaupun hanya sekilas tapi Lilian


berjinjit sambil melambaikan tangannya ke


atas dan tersenyum cerah seperti sinar


matahari


Arin berdiri tepat di sampingnya hanya


menggerakkan tangannya dengan lamban


dan kepalanya sedikit menunduk sambil


menguap, yang menunjukkan betapa


mengantuk nya dia


Setelah mobil berjalan untuk waktu yang cukup lama, mobil yang mereka naiki kembali berhenti, kali ini mereka berhenti di


depan sebuah cafe dengan tiga lantai dan


dinding putih polos


Tiba tiba ekspresi wajah Mina juga ikut


kembali menjadi datar dan tatapan dingin


seperti salju yang turun sambil menutup


buku dengan kedua tangannya bersamaan

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2