
Selamat membaca
Jangan lupa di like dan komen
Diam -diam melirik ke arah isi buku tapi,
mata Mina mulai merah dan berkaca kaca
saat dia berkedip beberapa air mata menetes dan mengalir di wajahnya
Juvelian yang melihatnya berkata pada
dirinya sendiri 'Anak ini tidak sakit kan?'
Melihat ke sebelah lain, Alan tertidur dengan
kepala mengangguk menunjukkan betapa mengantuk nya dia
Tidak sampai beberapa detik kepalanya
terbentur kaca jendela di sampingnya
Dia langsung tersentak terbangun dan
membuka matanya lebar -lebar seperti akan
keluar
Melirik raut wajah Juvelian yang sangat
terkejut
Menyilangkan kakinya dengan dagunya di
atas tangannya yang di gepal dengan lembut
yang di sandar kan di dekat kaca
Tatapan nya lurus ke depan seperti tidak
terjadi apa apa dengan wajah yang sangat
tenang seperti air di dasar laut, tidak ada
ekspresi yang di perlihatkan di wajahnya
Posisi duduk dan tatapan nya yang
meyakinkan seperti seseorang yang sedang
berpose untuk di foto, Juvelian hanya
menatap kosong dengan acuh tak acuh
Alan hanya diam dengan posisi yang sama
dengan matanya yang keluar bintang kuning
yang seperti mengatakan 'Aku adalah orang
yang paling keren'
Merasa ada yang salah dengan penglihatan
nya atau dia sedang melamun, Juvelian
menggosok salah satu matanya dengan
lembut tapi, karena tidak ada perubahan
pada posisi duduk Alan
Juvelian berkata pada dirinya sendiri 'Lah,
Kak Alan kenapa lagi?' sedangkan Alan yang
masih merasa tatapan dari Juvelian, mulai
merasa lelah dengan posisi duduknya
Tapi dia yang selalu ingin terlihat keren di
mata Juvelian dan tidak ingin menjadi orang
terakhir di hati Juvelian harus menahan apa
pun untuk menempati posisi teratas
Satu butir keringat yang tergantung di
pipinya mengalir ke lehernya yang terasa
dingin seperti air es dari kulkas membuat nya merasa geli
Walaupun di luar sedang panas tapi di dalam mobil hanya terasa udara yang sejuk dengan
keheningan yang menambah udara menjadi dingin
Tidak heran Arin yang duduk di belakang
sampai tertidur dengan nyenyak dengan
kepalanya di sandar kan di bahu Lilian
sedangkan
Lilian yang memberikan Arin tempat
bersandar di bahunya terlihat waspada
dengan sekitarnya, tangannya yang
menyentuh kepala Arin dengan lembut
menjaga kepalanya agar tidak terjatuh atau
terbentur sesuatu
Arin tertidur dengan sangat nyenyak dengan
kepalanya di sandar kan di bahu Lilian
__ADS_1
Jika Lilian adalah seorang pria, pasti orang
yang melihat nya akan berpikir mereka
adalah sepasang kekasih
Melihat semua itu dari kaca depan, hati
Juvelian terasa sakit, seolah olah seseorang
telah merebut posisi nya di hati Lilian
Tapi di sisi lain dia tidak bisa menyalahkan
siapa pun baik itu Arin atau orang lain
Karena semuanya terjadi karena dirinya
sendiri yang salah paham dengan Lilian
Tersenyum pahit di bibirnya terlihat dengan wajahnya sedih
Melihat ke luar jendela ke arah sinar
matahari yang sangat cerah, menurunkan
pandangan ke bawah, menutup matanya
dengan lembut
Bulu matanya yang panjang berkilau terkena
sinar matahari yang berhasil menembus
masuk melalui kaca jendela
Mengingat kembali saat dia masih bersama dengan Lilian sebagai Riana
Juvelian yang merasa terluka dengan perlakuan orang tuanya
Juvelian kecil yang haus akan kasih sayang
menjadi dekat dengan Mira (pengasuhnya
dan kepala pelayan di rumah Juvelian) yang
memberinya banyak kasih sayang
Merubah identitas menjadi Riana dan hidup
sebagai orang biasa dari dia berusia lima
tahun dengan Mira yang menjadi ibunya,
Juvelian sedikit kesulitan dengan lingkungan sekolahnya
Banyak anak sekelas yang tidak mengerti
apa yang Juvelian kecil katakan seperti
nama buku langka di perpustakaan pribadi
keluarganya
sekelas nya, sifat Juvelian kecil yang ramah
dan mudah tersenyum membuat orang
menyukai nya dalam waktu singkat
Banyak anak yang akan mengerumuninya
karena penasaran dengan ceritanya
meskipun tidak mengerti apa yang Juvelian
katakan
Juvelian yang bisa menyerap dengan
sempurna apa yang dia pelajari dan dia
dengar mulai beradaptasi dengan lingkungan
sekolah
Bermain banyak hal yang tidak pernah dia
mainkan bersama dengan teman sekelasnya
Karena kedua orang tuanya dan kakak
kakaknya selalu sibuk dan mengabaikan nya
Dia yang selalu di abaikan tidak pernah
berlari dengan bahagia dan tertawa lepas
di lapangan untuk bermain bola
Baginya hidup sebagai Riana adalah hal yang tidak akan pernah dia lupa
Sampai dia bertemu dengan Lilian kecil yang
selalu sendirian dan duduk meringkuk tanpa
mengatakan apa pun di pojok ruang kelas
dengan tatapan kosong hanya melihat
Juvelian dan teman sekelas yang bermain
Juvelian yang melihat Lilian yang hanya
memperhatikan nya dengan tatapan kosong
mengingatkan nya pada dirinya sendiri saat
menjadi Juvelian
Mungkin karena merasa perasaan yang
__ADS_1
sama Juvelian mendekati Lilian dan
mengulurkan tangannya dengan tersenyum
hangat
Merasa ketulusan dari Juvelian yang
mengulurkan tangan dengan tersenyum
hangat, Lilian tanpa ragu -ragu menerima
uluran tangan itu
Sejak saat itu Juvelian dan Lilian selalu
bersama seperti saudari kandung
Mereka bahkan sampai bisa tahu berapa
banyak sendok dan garpu di rumah satu
sama lain dan kata sandi rumah
Selama bertahun tahun mereka selalu menempel seperti permen karet
Meskipun Lilian tidak pernah berteman
dengan anak anak yang lain
Karena baginya Juvelian adalah satu satunya
sahabatnya dan orang yang berharga bagi
nya, Mengingat kenangan indah bersama
Lilian yang seperti baru saja terjadi
Dia linglung sesaat sampai suara tawa kecil
seseorang yang terdengar sangat bahagia
menghancurkan keheningan di dalam kepala
Juvelian yang langsung tersentak
Melihat ke suara tawa yang membuatnya
kembali penasaran
Juvelian hanya menatap kosong ke arah
Mina sambil bertanya pada dirinya
'Anak ini masih waras kan...?'
Saat itu juga suara pintu yang di tutup
terdengar dari arah belakang
Bingung dengan asal suara, Juvelian melihat sekilas ke belakang
Terkejut dengan dua orang yang tidak ada di
tempatnya dan tidak ada siapa pun di jok
belakang, Juvelian langsung melihat ke
samping di sebelahnya, Arin dan Lilian
berdiri di luar
'Ah, sudah sampai ya' pikir Juvelian sambil membuang napas lega
Karena terlalu sibuk dengan pikiran sendiri,
Juvelian tidak tahu apa yang terjadi di
sekitarnya
Bahkan dua orang yang duduk di
belakangnya yang keluar dari mobil saja, dia
tidak menyadari nya sampai melihat ke arah
belakang
Tanpa di sadari mobil kembali berjalan
kembali, walaupun hanya sekilas tapi Lilian
berjinjit sambil melambaikan tangannya ke
atas dan tersenyum cerah seperti sinar
matahari
Arin berdiri tepat di sampingnya hanya
menggerakkan tangannya dengan lamban
dan kepalanya sedikit menunduk sambil
menguap, yang menunjukkan betapa
mengantuk nya dia
Setelah mobil berjalan untuk waktu yang cukup lama, mobil yang mereka naiki kembali berhenti, kali ini mereka berhenti di
depan sebuah cafe dengan tiga lantai dan
dinding putih polos
Tiba tiba ekspresi wajah Mina juga ikut
kembali menjadi datar dan tatapan dingin
seperti salju yang turun sambil menutup
buku dengan kedua tangannya bersamaan
__ADS_1
~Bersambung~