
'Masalah mu apa sih?!'
Wah, sepertinya Daniel berada dalam masalah besar nih~
Di tengah perasaan kesal dia merasa ada yang aneh dengan Daniel yang seperti sengaja mendengarkan percakapan mereka, Mina kembali menatap sinis ke Daniel
Daniel segera bertanya dengan acuh tak acuh "kenapa kau menatapku seperti itu?"
'Kau kan hanya perlu mengatakan nya kenapa menatap ku tidak jelas begitu'
Mina kemudian mengangkat jarinya dan mengarahkan nya ke Daniel sambil memberikan sebuah peringatan keras
Seolah olah Arin dan Daniel sedang berpacaran dan dia yang tidak suka pada Daniel, mencoba membawa Arin bertemu pria lain
'Apa lagi yang mau dia katakan... ' Arin benar benar takut akan terjadi pertengkaran di sini
"Jangan coba coba kau mengganggu Arin
yang akan pergi nongkrong denganku" di nadanya terdapat ancaman yang membuat merinding sesaat
Sama seperti Arin, Daniel nampak tercengang dengan ekspresi jijik seperti baru saja memakan mentega, dia kembali lagi ke tampilan biasanya dan menjawab dengan apatis
"Kenapa aku harus melarangnya? kami
saja tidak pacaran"
Perkataannya memberikan pukulan telak pada Mina tapi dia tidak mundur begitu saja, baginya tidak ada kata kalah dengan memamerkan seringai dia membalas
"Baguslah, kau tidak ikut campur"
Dia mengatakan nya dengan tenang seolah olah dia tidak di takdir untuk kalah
Berbeda dengan biasanya, Daniel ikut campur meskipun berkata dengan acuh tak acuh tapi tetap saja itu mencurigakan
Jika ada Nine, Jiho atau anak anak yang lain dia pasti akan di tanya banyak pertanyaan
yang menyebalkan, dia merasa tenang hanya ada mereka di sana
"Mengapa kalian mau pergi ke grup nongkrong? itu tempat yang payah"
dia mengatakan seakan akan dia pernah ke sana setidaknya sekali
Mereka terangga pada yang baru saja dia
katakan dengan Arin yang rahangnya
seperti jatuh ke lantai
Sebagian anak dari sekolah lain akan ikut nongkrong bukan hanya untuk menghilangkan stres tapi juga menambah temannya atau mencari pacar dan pengalaman dalam bersosial
Tapi jika kata itu keluar dari mulut Daniel yang punya aura dingin bagaikan es dan memasang dinding besi yang sangat tebal
Pada setiap orang yang baru dia temui dan sulit untuk berbaur dengan orang lain akan terdengar aneh
Saat tahun ajaran baru di mulai apa lagi ketika kelas 10, sebagian dari mereka adalah lulusan dari sekolah lain
Jadi bukan hal aneh jika lingkaran tempat kita berdiri hanyalah lingkaran kecil dan
__ADS_1
kita lebih sering bertemu dan bermain dengan teman teman dari sekolah yang dulu
Atau ketika bertemu di jalan kita memperkenalkan teman dari sekolahnya yang dulu dengan teman sekelasnya
Jika mereka mengumpulkan semua teman
mereka dan mendapatkan teman baru yang
cepat atau lambat akan menjadi akrab
seperti sudah mengenal sangat lama pada mereka punya hobi yang sama
Tidak heran banyak orang dari sekolah yang berbeda berkumpul di suatu tempat di pusat kota untuk mencari teman terutama mereka yang punya banyak koneksi
Tapi tidak mungkin itu terjadi pada Daniel yang hanya sibuk dengan game yang sudah seperti dunia kedua baginya pikir mereka
"K, kau pernah pergi grup nongkrong yang aku maksud?" tanya Mina yang sedikit tergagap
'Apa dia benar benar pernah pergi ke sana,
Daniel bukan lah tipe orang yang suka
berbohong atau bercanda dengan orang lain'
Atau mungkin saja dia di ajak ke grup nongkrong yang lain Mina berharap seperti itu tapi masalahnya hanya ada satu di kota ini karena alasan yang tidak di ketahui
Siapa yang membentuk nya juga tidak ada yang tau karena dia seperti bermain di balik layar, tidak ada yang peduli tapi yang pasti dia bukan dari keluarga biasa
Bukan hanya menyiapkan tempat khusus tapi juga mengatur pertemuan mereka sesuai giliran setiap minggunya
melihat ke luar jendela dengan ekspresi
acuh tak acuh
"Terserah, kalian mau percaya atau tidak" jawabnya dengan singkat setelahnya tidak ada suara yang terdengaran lagi
Mina nampak tercengang dengan jawaban Daniel yang nggak jelas sambil menunjuk kan kekesalan di wajahnya
Kemudian Daniel membuka bibirnya seperti ingin mengatakan sesuatu, entah dia memang melakukannya dengan sengaja atau tidak, dia berkata pada dirinya sendiri dengan suara keras yang terdengar sampai ke luar
"Sebagian besar yang akan datang ke grup nongkrong adalah lelaki tampan dan gadis cantik atau lucu yang terkenal di sekolah mereka"
Kata kata Daniel mem buat Arin tersentak dan menundukkan kepalanya sambil tersenyum canggung
"Pasti akan sulit kalo aku ikut" gumam Arin
pada dirinya sendiri setelah mendengar
perkataan Daniel
Jika orang seperti Mina yang kelihatan tegas dan terjiwa bebas tapi wajah cantik dan penampilan yang sesuai dengan sifat akan menarik perhatian
Dan Daniel yang punya mata merah seperti
batu rubi dengan sifat dingin dan aura
tenang pasti akan membuat anak perempuan tertarik padanya
__ADS_1
walaupun hanya menggerakkan jarinya dan bernapas dengan pemikiran seperti itu, Arin merasa tidak percaya diri dengan penampilan nya yang menurutnya biasa biasa aja
Terutama jika ada pembicaraan yang tidak
dia mengerti dan hanya satu kalimat saja bisa menghancurkan keharmonisan yang anak lain ciptakan
Arin langsung terkejut dengan keringat
dingin di lehernya ketika menyadari Mina
mengalihkan pandangannya dari Daniel ke Dia dengan tatapan tajam
Dengan tersenyum menyegarkan, Mina melontarkan pertanyaan pada Arin seolah olah dia tidak pernahmendengar yang Daniel katakan
"Siapa yang peduli apa kau cantik atau enggak? kita ke sana untuk bersenang senang dan menghilangkan rasa lelah karena pelajaran bukannya akan ikut kencan buta"
"Jika ada yang berani mengataimu sesuka hati mereka, aku tidak akan mengampuninya, akan ku pukul mereka"
Perkatan itu membuatnya tertawa kecil tapi juga terdengar seperti hiburan yang indah
sampai menyentuh bagian terdalam dari
hatinya
Dengan hati hati Mina bertanya lagi "Jadi kembali ke pertanyaan ku, Kau mau
pergi bersama kami kan?"
Dia menambahkan dengan berusaha menyakinkan Arin dengan tatapannya "Kalo ada orang yang aneh di sana, kita akan langsung pulang"
Kata katanya sangat menyakinkan sampai Arin sangat sulit untuk menolaknya tapi dia masih dalam pertimbangan antara kedua pilihan
"Um, aku..."
"Ya?" tanya Mina yang sudah menanti jawaban yang dia harapkan dengan mata berbinar
Arin mengaruk pipinya karena malu untuk
menolak setelah percakapan barusan
yang membujuknya "Aku seperti nya tidak
bisa bergabung"
"Eh? kenapa?" tanyanya dengan wajah yang
menunjukkan perasaan bingung
Dari sebelum bertanya pada Arin dia merasa Arin akan menerimanya dengan senang hati tapi sepertinya kali ini firasatnya tidak mendukung
~Bersambung~
tunggu bab selanjutnya, tiga hari lagi~
Terima kasih sudah membaca novel ini
Dan terima kasih sudah memberi semangat dengan like, vote dan komentar
__ADS_1