
[Beberapa jam yang lalu sebelum jam istirahat kedua]
Begitu masuk ke dalam kelas, Juvelian yang melihat Mina datang lebih dulu tersenyum padanya tapi Mina memalingkan wajahnya ke arah lain.
Saat berjalan melewati meja Mina, Juvelian ingin mengucapkan selamat pagi tapi, Mina berlari keluar kelas dengan cepat.
Itu yang terus terjadi sebelum bel pelajaran di mulai berbunyi Mina terus menghindar dari tatapan mata Juvelian dan saat Juvelian ingin memanggil namanya, Mina menghilang tiba tiba.
Setelahnya Juvelian menyerah untuk mengobrol dengan Mina dan memilih tidak bertanya bagaimana Mina bisa ada di sekolah yang sama dengannya.
Setelah suara bel sekolah berbunyi untuk menandakan istirahat kedua, sebagai besar anak pergi ke kafeteria sekolah.
Lilian yang berada di samping Jiho melihat ke sekeliling ruang kelas yang hanya ada Mina, Lima Sekawan, Alan, Juvelian, Arin dan Lilian.
Setelah suara bel sekolah berbunyi untuk menandakan istirahat kedua, sebagai besar anak pergi ke kafeteria sekolah.
Lilian yang berada di samping Jiho melihat ke sekeliling ruang kelas yang hanya ada Mina, Lima Sekawan, Alan, Juvelian, Arin dan Lilian.
Menghela nafasnya dan menggerakkan bibirnya seakan ingin mengatakan sesuatu
"Hei, kalian tidak mungkin ingin berada di kelas selama waktu istirahat yang singkat ini kan?"
Melihat ke arah Lilian dengan tatapan kosong, Arin bangkit dari tempat duduknya dan menjawab dengan semangat
"Tentu saja tidak, ayo pergi ke kafeteria..."
Alan, Juvelian, Rudan, Jiho sedikit mengangguk tanda mereka juga ikut.
Mereka bersama sama melihat ke Nine dan Ian yang ada belakang.
Menutup buku yang ada di tangannya dan meletakkannya di atas meja, Nine mengangguk dan melihat ke orang yang ada di samping.
Ian tertidur dengan melipat tangan di atas meja. 'Dia tertidur?'
Ian yang selalu tertidur saat jam istirahat tidak akan terbangun dengan mudah.
Bahkan, jika kau berteriak padanya, dia tepat tertidur dengan nyenyak karena dia selalu memasang earphone di salah satu telinganya karena satu lagi telinganya tertekan oleh tangannya.
Jika, itu terjadi hanya satu hal yang dapat di lakukan yaitu mengambil susu coklat yang ada di dalam lacinya.
Nine melihat ke arah teman temannya yang duduk di depan dengan tatapan yang mengatakan 'Siapa yang mau melakukannya?'.
Mereka hanya melihat ke depan seakan tidak terjadi apa apa.
Nine menelan ludah sendiri dan memasukkan tangannya yang sedikit gemetar ke dalam laci meja Ian.
Begitu jarinya menyentuh kotak susu coklat, Nine merasa lega karena Ian tidak bangun, yang artinya gantian yang lain.
Menarik tangannya keluar dari laci dengan ekspresi wajah yang sedikit cerah.
Ian yang merasakan gerakan seseorang di sekitar lacinya, langsung bangun dan memegang tangan orang itu dengan menatap tajam ke arahnya.
Nine yang terkejut, dengan ragu ragu membuka mulutnya dan menutupnya lagi.
Lilian yang ingin membantu Nine langsung bertanya "Ian, apakah kau sudah bangun?"
Ian yang tidak mendengar, hanya menatap tajam ke arah Nine dengan kepala yang menimpa tangan yang lain.
'Aku dikacangin nih?'.
Jiho yang melihatnya, tertawa kecil dengan tatapan yang bilang 'Kasihan deh, lu'.
Lilian yang kesal menendang kursi Jiho, yang hampir membuatnya kehilangan keseimbangan.
"Kau mau ikut kami ke kafetaria ?" Juvelian bertanya dengan nada bersemangat dan tersenyum cerah.
Ian hanya mengangkat kepalanya melihat ke depan dan mengangguk.
Ian yang menyadari dengan tangannya memegang tangan Nine langsung melepaskannya.
'Ku pikir hari ini adalah hari kematianku'.
Ian menyentuh pipinya yang memerah karena menekannya di lengannya, dia kemudian menata rambutnya yang acak acakan.
Arin melihat ke samping, Mina hanya melihat ke arah papan tulis dengan tatapan kosong.
"Mina, kau mau ikut?"
Mina yang tersadar seseorang berbicara dengannya, melihat ke arah suara itu dan menjawab dengan tatapan malas
"Enggak, aku mau di kelas aja".
"Ayo, kita pergi ke kafetaria" kata Lilian dan Arin dengan tersenyum cerah.
Begitu berjalan keluar dari gedung sekolah, cahaya matahari langsung mengenai mereka.
"Gila... Hari ini panas banget" kata Lilian yang melihat ke atas dengan tangan yang menghalau sinar matahari mengenai matanya.
"Kau benar, padalah semalam hujannya deras banget" kata Juvelian yang mengeluh dengan cuaca yang tidak menentu.
Setelah berjalan di sepanjang jalan beton putih yang mengelilingi halaman sekolah, mereka melihat beberapa orang yang duduk di bangku di bawah pohon yang di taman depan kafetaria.
Dan kafetaria yang di penuhi sangat banyak orang.
Sebagai dari mereka memilih untuk mencari di bangku yang masih kosong
__ADS_1
Dan yang lainnya masuk ke dalam kafetaria.
"Juju, kau ingin beli apa?"
"Oh, aku akan beli sendiri aja".
Dari arah belakang, Alan memotong pembicaraan mereka.
"Tidak, Lian. Di dalam terlalu banyak orang, nanti kau bisa tersesat seperti saat kita di pantai, lebih baik kau menunggu di bangku di bawah pohon".
'Tapi, aku ini kan bukan anak kecil dan lagi pula kita ada di dalam kawasan sekolah'
Rudan mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah kerumunan yang ada di kafetaria.
"Kak Alan benar, Juju. nanti kau bisa dalam bahaya karena di dalam sana seperti neraka"
Dengan percaya diri Alan menambahkan
"Yang di katakan 'manusia ini' benar Lian, di dalam sana seperti neraka"
Rudan menatap Alan yang mengatakan 'Apa pada akhirnya matahari terbit dari barat?'
Alan menatap balik ke arah mata Rudan yang mengatakan
'Kali ini aku setuju dengan apa yang kau katakan, karena ini demi keselamatan Lian'.
Tapi sebenarnya apa yang mereka takut kan berbeda dengan apa yang mereka katakan.
'Aku tidak ingin Juju masuk ke dalam sana dan serangga mengerumuninya'
Dan alasan kenapa Alan melarang Juvelian masuk adalah 'Jika, Juvelian tersesat dan bertemu dengan Rudan, maka mereka akan berduaan di dalam kafetaria'.
Setelahnya Juvelian, Lilian, dan Arin pergi ke tempat di samping kafetaria yang memiliki beberapa meja panjang yang di satukan dan banyak kursi yang tersusun rapi.
Kalau kursi di kafetaria sudah penuh semua, biasanya mereka akan makan di sini.
Tetapi siapa yang mau makan makanan panas di cuaca sepanas ini.
Melihat ke sekeliling mencari tempat yang kosong, yang ada hanya orang yang duduk dengan memegang es krim atau pun minuman dingin, mereka hanya diam tidak bisa berkata kata melihat tidak ada satu tempat duduk pun yang tersisa.
Biasanya siswa mengobrol dalam kelompok di sini, tapi yang ada di sini hanyalah keheningan yang menyesak, mereka lebih memilih fokus sama es krim atau minuman kaleng yang mereka pegang dengan ekspresi datar.
'Tidak heran, bangku di luar kafetaria hampir penuh semua'
Melihat masih ada bangku kosong di luar, Juvelian merasa lega.
"Kayaknya, kita harus cepat duduk di sana sebelum orang datang dan duduk di sana deh" kata Juvelian yang menunjuk ke arah bangku kosong yang ada di taman dari jendela.
Pada akhirnya mereka menunggu di bangku di bawah pohon paling ujung.
Lilian duduk dengan meletakkan dagunya di tangannya dan menghela napas panjang yang terdengar suara gumaman darinya
"Musim hujan, kapan kau akan datang... Aku benar sangat merindukanmu".
Juvelian yang mendengar gumaman Lilian berkedip beberapa kali dan tertawa kecil.
Meletakkan dagunya di tangannya dengan satu tangan di atas yang mengetuk meja dengan jarinya.
'Kak Luxia melarangku menggunakan kekuatanku terlalu berlebihan atau lebih baik jangan di gunakan selama dia pergi untuk beberapa hari, Tapi...'
Melihat ke arah Lilian dan Arin yang seperti es krim mencari, Juvelian berpikir lagi.
'Kalau aku pakai sedikit saja kekuatanku, enggak apa apa kan. Kakak bilang kan jangan gunakan terlalu berlebihan '
Menutup mata untuk merasakan udara di sekitarnya dan merubahnya menjadi angin sepoi sepoi yang terus bertambah kencang dengan mengikuti suara ketukan meja.
Angin menyegarkan di sekitar kafetaria yang mulai menyebar di area sekolah.
Beberapa orang mulai menutup mata dan merasakan angin yang menyegarkan dengan angin yang berembus menerbangkan sedikit rambut mereka.
[Di dalam kafetaria]
Nine, Jiho dan Ian nyaris tidak menyelinap melewati kerumunan dan berjalan ke arah makanan ringan yang banyak di pajak di atas rak dengan mudah
Sedangkan Alan, Daniel dan Rudan mengabaikan makanan ringan yang mereka lihat dan berdiri melihat orang orang yang mengerumuni freezer box dan kulkas minuman.
'Dalam pengalaman hidupku selama ini ada beberapa cara untuk mengatasi masalah ini yaitu pertama mengatakan "Air panas" "Air panas".
Setelah mereka memberikan jalan, kami bisa berjalan dengan santai dan membeli es krim dan minuman kaleng dan cara yang lain adalah mengalihkan perhatian mereka dengan hal lain seperti
Menunjuk ke arah seseorang dan berteriak
"Hei, lihat itu salah satu anggota lima sekawan" atau "Teman teman, lihat orang tampan yang ada di sana".
'Tapi, jika kami melakukan itu dan tidak berhasil, yang ada anggota OSIS datang atau orang yang menjaga kafetaria menendang kami keluar dari tempat ini karena membuat keributan'
Setelahnya mereka harus berjuang untuk berjalan menuju freezer yang berada di antara banyak orang, sampai beberapa orang melihat mereka dan memberikan jalan dengan senang hati.
'Apa ini yang nama wajah adalah segalanya'
Setelah mengambil beberapa es krim dan minuman kaleng, mereka berjalan ke arah kasir dan membayarnya.
Ketika berhasil keluar dari kafetaria yang membuat sesak, mereka mengambil nafas dan berpikir hal yang sama
'Akhirnya aku bisa keluar dari tempat yang seperti neraka itu'.
__ADS_1
Dari arah belakang seseorang meletakkan tangannya di atas kepala Lilian.
Lilian terkejut, langsung memukul perut orang itu menggunakan siku tangannya dengan keras.
Jiho yang terkena pukulan dari Lilian menahan rasa sakit dengan tangan tangan kanan yang menyentuh perut dan berkata
"Emang lebih baik jika kau tidak pacaran deh, Lili"
Lilian yang bingung bertanya "Apa hubungannya?".
Jiho menunjukkan satu ujung bibir yang sedikit terangkat sedangkan yang satunya tidak dan mengangkat sedikit bahunya
"Coba kau bayangkan, kalau misalnya kau punya pacar dan dia punya kebiasaan memegang bahu atau mengelus kepala, dia pasti akan masuk rumah sakit dalam waktu kurang satu minggu kalian pacaran"
Lilian hanya menatap Jiho dengan tatapan bingung, diam beberapa saat untuk mencerna maksud perkataan Jiho dan Tidak sampai tiga puluh detik Lilian menyadari maksud perkataan Jiho.
Mengepal tinju di tangannya dan mengarahkan pukulan ke arah Jiho.
Jiho dengan santainya menghindar dari pukulan Lilian.
Dengan tersenyum cerah dia berkata dan memberikan jari jempol
"Wah Lilian kau memang keren, pukulan mu itu bisa membuat orang lain masuk rumah sakit dan berbaring selama satu minggu".
Lilian hanya menatap tajam ke arah Jiho dan menahan amarahnya tapi, begitu Jiho bilang
"Tidak, dia pasti akan pergi ke alam lain dalam waktu singkat" dengan tersenyum cerah.
Mendengar suara kewarasan yang putus dari Lilian, dia berlari dan menghilang dengan cepat.
Bangkit dari bangku dan berlari mengejar Jiho sambil berteriak "Awas aja kalau kau ketangkap".
Meskipun Lilian jauh lebih pendek dari Jiho, tapi dia berlari dengan sangat kencang hampir mengejar Jiho yang berlari lebih dulu.
Jiho yang berpikir Lilian masih jauh darinya melihat ke belakang dengan santai dan terkejut dengan Lilian yang sudah ada di belakangnya.
Melihat Lilian yang hampir meraih baju, dia menambah kecepatan dan bertanya dengan suara tinggi
"Dasar gila, kau itu sebenarnya manusia atau kucing liar sih?"
Lilian hanya diam dan memilih untuk fokus mengejar Jiho, Jiho yang punya kebiasaan membuat seseorang kesal tidak akan puas jika tidak melihat wajah orang itu kesal.
"Hei, kucing liar. Kenapa kau lari cepat banget ?"
Lilian yang kesal membalas perkataan Jiho
"Kucing liar ya.." kata Lilian yang membuat Jiho merinding.
"Kalau begitu, rasakan di kejar oleh kucing liar" kata Lilian yang menambah kecepatan dan jarak langkah kaki.
Jiho berteriak tanpa melihat ke belakang.
Juvelian, Arin, Rudan, Alan, Daniel, dan Nine yang menyaksikannya terdiam tidak bisa berkata kata kecuali Ian yang tidur berdiri dengan tangan yang memegang plastik.
'Ternyata dugaan ku benar cinta Jiho bertepuk sebelah tangan pada Lili' Pikir Arin yang merasa tertarik dengan Jiho yang ingin di kejar oleh Lilian.
'Mereka benar benar pacaran diam diam...' pikir Juvelian dan yang lainnya hanya menghela napas dengan kejadian yang sudah biasa mereka lihat.
Dari sudut pandang Arin dan Juvelian, Jiho dan Lilian terlihat sedang bermain kejar kejaran seperti sepasang kekasih.
Dengan Jiho yang berkata dengan nada yang lembut "Ayo kemari~"
Dan Lilian yang membalas dengan tersenyum dan berkata "Iya, aku ke sana"
'Tapi bukannya kembali? Biasanya yang di kejar perempuan tapi kenapa di sini laki- laki...' pikir Arin yang sedikit memiringkan kepala.
Alan yang merasakan keanehan pada angin di sekitar mereka, memegang bahu Juvelian, Juvelian melihat ke belakang dan bertanya dengan tatapannya.
[Ada apa?]
Melihat ke sekeliling dan menatap kembali ke Juvelian dengan tatapan yang mengatakan [Apa semua angin ini kau yang membuatnya?]
Mengalihkan pandangan nya ke arah lain dengan mengaruk pipinya.
Alan menghela napas [Ternyata benar ya]
Rudan meletakkan tangannya di atas meja dan duduk di sebelah kanan Juvelian, Alan yang melihatnya langsung duduk di sebelah kiri Juvelian.
'Kenapa selalu aku yang duduk di tengah jika ada kak Alan dan Rudan ?'
Pikir Juvelian yang mengingatkannya pada kejadian saat pulang dari pantai.
Daniel duduk di bangku panjang yang sama dengan Alan, Juvelian dan Rudan.
Sedangkan Nine di bangku yang Arin duduki.
Arin yang tidak melihat Ian bertanya pada Nine "Di mana Ian berada? Bukannya kalian selalu ke mana mana berdua"
"Selalu berdua? Kau pikir kami apa... Dan anak itu ada di belakang Daniel sekarang " kata Nine yang membuka bungkusan makanan ringan dengan ekspresi kesal.
Arin yang kaget melihat Ian tidur berdiri di dalam bayangan pohon, bergumam
"Anak ini memang unik..."
~Bersambung~
__ADS_1