Bantu Aku Merubah Takdirku

Bantu Aku Merubah Takdirku
Bab 48


__ADS_3

Arin yang kaget melihat Ian tidur berdiri di dalam bayangan pohon, bergumam


"Anak ini memang unik..."


Daniel menggoyangkan lengan Ian dengan ekspresi datar dan berkata "Hei, mau berada lama kau tertidur sambil berdiri".


Ian langsung bangun, berjalan ke arah Nine dengan sangat santai dan meletakkan bungkusan plastik yang berisi makanan ringan di atas meja


Duduk di sampingnya Nine dengan kepalanya di atas tangannya yang di lipat.


"Kalian boleh memakannya tapi, jangan ganggu aku tidur..."


"Selamat tidur..."


Setelah mengatakan itu, Ian kembali ke alam mimpinya.


'Karena Ian yang selalu bersama Nine, ada rumor yang bilang mereka berdua itu 'gay'' kata Juvelian dalam hatinya yang menghela napas.


Karena cuaca hari ini sangat panas, tirai di kelas di geser untuk menutupi cahaya matahari yang masuk, sakin terangnya kelas tidak memerlukan bantuan cahaya dari lampu untuk melihat tulisan yang kecil.


Kelas yang biasanya hanya menyalahkan kipas angin dan satu Ac tapi sekarang dua AC yang ada di kelas di hidupkan.


Juvelian yang melihat Ian langsung tertidur nyenyak tidak sampai satu menit, meletakkan dagunya di tangannya dan menghela napas sambil berpikir


'Tidak heran, begitu bel istirahat kedua berbunyi dan pak guru keluar kelas, dia langsung mengeluarkan bantal kecil dari tasnya dan meletakkan nya di atas meja, dan tertidur setelah mengucapkan 'Selamat tidur'.


'Karena itu, kadang ada saatnya aku iri dengannya yang bisa tertidur dengan cepat.


Tapi, apa kata 'Selamat tidur' itu adalah mantra tidur' kata Juvelian dalam hatinya yang terkikik.


Dengan kedua tangan yang memegang es krim yang berbeda, Alan menunjukkannya pada Juvelian dan bertanya dengan semangat "Lian, mau es krim yang rasa chocolate almond atau white almond?".


Juvelian melihat ke arah Alan dengan tatapan kosong, dari arah belakang terlihat Rudan yang menunjukkan seringai.


"Juju, itu sukanya es krim rasa 'Love teh almond'" kata Rudan yang mengeluarkan minuman kaleng dari plastik dan memberikannya pada Juvelian.


"Juju, ini" kata Rudan dengan tersenyum cerah.


Juvelian mengambilnya dan berkata sambil tersenyum "Terima kasih, Rudan"


Alan menundukkan kepalanya dengan wajah masam dan bergumam "Kakak macam apa aku ini..."


'Aku benar benar tidak pantas bilang aku menyayangi Lian, aku bahkan tidak tahu Lian sukanya es krim rasa lov-, tunggu'


Alan terdiam sebentar karena merasa ada yang aneh dan bertanya pada dirinya sendiri


'Emang nya ada ya, es krim rasa love teh almond?'. Alan mengangkat kepalanya dengan cepat dan melihat ke arah Rudan yang tertawa kecil.


"Sejak kapan ada es krim rasa 'Love teh almond'?" kata Alan dengan nada yang hampir berteriak dan menunjuk aura membunuh di sekitarnya.


Rudan hanya memasang ekspresi datar, kemudian terlihat seringai di bibirnya dengan santai dia menjawab "Beberapa hari yang lalu".


Alan menghela napas untuk menghilangkan rasa kesalnya dan bertanya lagi "Di mana kau melihatnya? Aku akan membelinya".


'Bagaimana pun juga aku bisa tahu apa yang Lian suka dari anak ini'.


'Tapi setelah ini, aku akan menyingkirkan nya dan membuatnya hilang dari dunia ini' kata Alan dalam hatinya dengan membayangkan dirinya yang tertawa bahagia setelah mendorong Rudan ke jurang.


Rudan diam beberapa saat, melihat ke arah lain dan menjawab dengan percaya diri


"Tapi, Kak Alan tidak akan bisa membelinya"


"Kenapa? Memang nya ada di luar angkasa?"


Dengan tersenyum Rudan menjawab "Enggak sampai ke luar angkasa kok, Karena hanya ada di dalam mimpiku".


Nine dan Arin yang mendengarnya dari awal sampai akhir tertawa kecil.

__ADS_1


Alan yang kesal menatap tajam ke arah Rudan dengan es krim yang masih ada di tangannya.


Arin meletakkan kedua tangannya di bawah dagu dan tertawa kecil.


"Iri nya..., di rebut oleh dua laki laki yang tampan di sekolah. Ya meskipun cuman pacar sama kakaknya sih"


Melihat tidak ada yang merespons perkataannya, di tambah Arin menjadi kesal mendengar suara Nine yang menahan tawa di sebelahnya.


Melihat Alan yang masih memegang es krim, Arin dengan cepat mengambil es krim rasa chocolate almond dan berkata dengan tersenyum cerah "Kalau enggak mau, untukku aja".


Membuka mulutnya dengan besar dan menggigit es krimnya.


Nine yang melihat itu membuka matanya lebar karena kaget, "Kau bisa beku otak jika memakannya seperti itu..."


Tapi sudah terlambat, Arin sudah memakannya dengan mengerang dan menutup matanya.


Rasa dingin mulai menyebar di dalam mulutnya.


Membuka matanya perlahan lahan.


"Dingin banget" kata Arin dengan nada bahagia.


Melihat Arin yang memakan es krim yang dia beli, Alan menatapnya ke tatapan sinis "Kenapa jadi kau makan es krimnya?".


"Di cuaca yang panas ini, paling cocok makan atau minum yang dingin" jawab Nine.


Saat Juvelian sedikit menepuk bahunya, Alan menghela napas dan mengangguk dengan sedikit tersenyum.


Memakan es krim yang satunya untuk menghilangkan rasa kesalnya.


"Enak..." gumam Alan.


Sebagian besar waktu yang di habiskan siswa di sekolah Miater saat istirahat ke dua adalah bermain di lapangan, berada di dalam kelas kafetaria atau taman untuk mengobrol.


Tapi berbeda dari biasanya, mata mereka seperti mati rasa dan hanya tertuju pada dua arah.


Dan satunya bangku tempat lima sekawan dan Alan.


Saat mengangkat kepalanya untuk meminum minuman kaleng, Juvelian tidak sengaja melihat beberapa orang berkumpul melihat ke arah mereka dengan wajah tersipu.


'Kayak nya aku ini karena apa...'


Juvelian melihat ke depan dan ke kanan ke kiri. 'Itu benar, di sini ada lima orang dari sepuluh laki laki paling tampan di sekolah ini'


Pikir Juvelian yang tersenyum tanpa perasaan sambil menghela napas.


Alan yang merasakan tatapan kagum dari suatu tempat, melihat ke arah tempat itu dengan ekspresi datar.


Menyadari Alan yang ingin melihat ke arah mereka, langsung mengalihkan pandangan ke arah lain dan pura pura bicara.


'Emang nya kami ini hewan langka yang ada di kebun binatang? Sudahlah ini juga bukan sekali atau dua kali terjadi' pikir Alan dengan tatapan kosong dengan mulutnya yang menggigit es krim.


Tampaknya Lilian masih mengejar Jiho dengan perasaan yang membara.


Mereka bahwa tidak terlihat di sekitar kafetaria atau pun taman.


seseorang dari samping bangunan di sebelah kafetaria yang hanya terlihat jari tangannya menunjukkan senyum tipis di bibirnya dan membuka mulutnya.


"Akhirnya saya menemukan anda, nona Juvelian"


Juvelian langsung melihat ke belakang, Mina berjalan ke luar dan berdiri di belakang Alan.


Mina memberikan hormat seperti di zaman kerajaan dan berkata "Senang bertemu dengan anda, mulai hari ini saya di tugas kan untuk melindungi anda".


Melihat apa yang Mina lakukan, mata Juvelian terbuka lebar dengan mulut yang sedikit terbuka tidak bisa berkata kata.


"Mi... Mina..." kata Juvelian yang tergagap dengan wajah malu.

__ADS_1


Di sisi lain beberapa orang baik itu perempuan atau laki- laki mulai berbisik dengan mata yang tertuju ke Juvelian dan Mina.


"Hei, jangan bilang anak itu benar benar anak dari keluarga konglomerat..."


"Memang dia itu putri sampai di beri hormat seperti itu".


"Wah, anak konglomerat memang beda sampai ada pengawal pribadi tapi, anak itu seumur sama kita kan"


"Emang nya untuk apa pengawal pribadi sampai ada di sekolah ini".


'Aku bahkan lebih bingung dari kalian'


Menatap tajam orang orang yang ada di meja lain dengan ekspresi datar Arin dan Nine berkata dengan dingin "Kami dengar semua itu"


Mereka terdiam seribu kata dengan ekspresi takut. Juvelian berjalan ke arah Mina dan memegang kedua bahunya.


"Berdirilah dulu".


Mina langsung merespons dengan berdiri tegak dan kedua tangan di samping yang di kepalkan dengan erat.


'Emang nya kau itu petugas keamanan ?' pikir Juvelian yang terkejut.


Menyadari tatapan orang orang, Juvelian menarik tangan Mina dan berlari ke arah samping bangunan di sebelah kafetaria dengan terburu buru.


"Pertama, kenapa kau memanggiku dengan sebutan 'nona'?" tanya Juvelian dengan ekspresi serius.


Mina memutar matanya sebentar dan menjawab dengan percaya diri.


"Karena anda adalah adik nona Luxia, jadi aku harus memanggil anda dengan nona".


Menggigit bibirnya mengingatkan kejadian beberapa hari yang lalu.


Setelah melihat pesan dari kakak, aku kembali meletakkan HP ku di atas meja.


Aku melemparkan diriku di atas tempat tidur dan menutup mata dengan erat, karena ada suara pesan masuk, aku melihat ke arah layar dengan tatapan kosong.


'Kakak memang mengirim pesan seperti ini


[Mina], tapi karena aku pikir itu salah ketik, jadi aku enggak mikir panjang dan ku abaikan'


'Ternyata maksudnya Mina akan jadi pengawal pribadiku, tapi ini sih sama aja dengan mengawasiku secara tidak langsung' pikir Juvelian yang membayangkan menjambak rambutnya sendiri.


Juvelian menyentuh dahinya sendiri yang terlihat lelah sambil menghela napas panjang. "Juvel" kata Juvelian dengan nada rendah.


Mira yang tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang Juvelian katakan, bertanya dengan melihat ke arah Juvelian yang menyentuh dahi dengan kepala sedikit menunduk "Hah?"


Mengangkat kepalanya dengan tangan yang di turunkan, Juvelian membuka mulutnya dan berkata "Jangan panggil aku 'nona' tapi Juvelian atau Juvel"


"Juvel..." Gumamnya dengan kepala yang sedikit di miringkan.


"Iya, itu nama panggilanku"


Mina segera berlutut dengan satu kaki menyentuh tanah dan tangan kanan di atas ujung paha kanan sedangkan tangan yang satunya menyentuh tanah dengan kepala sedikit menunduk.


Juvelian yang melihatnya, menjadi pusing dan menghela napas panjang "Jangan pernah berlutut seperti itu, memberikan hormat seperti tadi, oke?".


Mengedipkan kedua matanya beberapa kali, Mina menjawab dengan suara cerah dan mengangkat satu tangannya meskipun masih memasang ekspresi datar. "Oke"


Mendengar suara Mina bergema beberapa saat. Juvelian meletakkan jari telunjuk nya di depan bibirnya yang sedikit terbuka.


Mina mengangguk dengan cepat dengan ekspresi datar dan mengikuti Juvelian, meletakkan jari telunjuknya di bibir.


"Mina, apa kau bisa berakting?"


Mina memutar matanya dan diam beberapa saat untuk berpikir.


Melihat Mina yang hanya diam, Juvelian berkata dalam hatinya dengan tersenyum pasrah 'Tamat sudah'.

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2