
Pesan itu menceritakan tentang apa yang
terjadi siang tadi, Arin hanya mengetik apa yang ada di kepalanya yang tak lain adalah ingatan
Entah kenapa semakin dia mengetik kata demi kata ingatannya terasa lebih jelas tapi apa yang dia ketik berbeda dengan yang dia alami
Setelah mempertimbangkannya perkataan Arin memang masuk akal tapi bukan berarti dia tidak akan campur tangan
'Insiden kekacauan itu harus di hindari' kalimat itu terukir di kepalanya seolah ada yang membisikkan kalimat itu berulang kali
Jika dia tidak salah ingat ada beberapa orang yang harus berada di kantor polisi untuk beberapa saat karena kejadian itu
Di antara orang orang itu, Yeri adalah salah satunya meski mereka hanya perlu memanggil orang tua tapi itu hal yang memalukan
Hari sekolah di mulai dengan kericuhan, suara bisikan di lorong sekolah terdengar halus seakan itu adalah suara halusinasi
Kau uda dengar gak?.
Katanya anak itu.
Kata kata itu terus berulang, meski suasana di kelas mereka lebih tenang karena Nine mengambil mengendalikan keadaan
Tapi tidak dengan kelas Juvelian. Kacau, kata itu bahkan kurang untuk menjelaskan situasi yang kayak kebun binatang
Setiap kakinya melangkah Juvelian dasar beberapa dari mereka di kucilkan bahkan dari gosip yang beredar ada yang sampai pindah sekolah karena terlalu malu
Jari jari tangannya kaku, semakin di ingat semakin dia dasar betapa kacaunya saat itu, dia tidak mau membayangkan temannya terlibat terlibat
Matanya terbuka lebar dia tahu itu egois. Jika Arin atau Mina tidak terlibat apa dia akan peduli? Apa kamu akan mengingatnya
Dia menggigit tepi bibirnya, Bodoh. Padahal dia saja sampai saat ini belum menemukan hal aneh, dia bersikap sombong pada Regina seakan siap menerima semua serangan Regina nantinya
'Ah, masa bodoh deh'
Dia kembali mencari Rudan, dengan perasaan tidak bisa di jelaskan tapi hatinya mengatakan dia bisa membantu mu
Sepertinya Rudan tidak akan membalas dengan cepat karena terakhir kali dia aktif ketika saling mengirim pesan dengan Juvelian
Untuk Rudan: [Rudan]
Untuk Rudan: [Apa kau bisa membantu ku?]
Dari Rudan: [Kenapa kau harus bertanya? aku akan selalu membantu mu semampuku kapan pun dan apa pun itu]
Di luar dugaan dia langsung memberi balasan seolah olah dia orang yang selalu menggunakan HP adahal yang
Juvelian lihat Rudan sama sepertinya jarang menggunakan HP kecuali ada yang ingin di sampaikan
'Dia memang dapat di andalkan!'
Untuk Rudan: [Aku mau minta tolong kau mencari daftar orang orang yang ikut akan grup nongkrong malam ini]
'Apa aku kurang detail mengatakannya?'
Dari Rudan: [Grup nongkrong? maksudmu grup nongkrong yang di bicarakan mereka waktu di kafeteria?]
Dari Juvelian: [Ya, apa kau bisa mencarinya?]
__ADS_1
Dari Rudan: [Sayang bukannya kau terlalu meremehkan pacar mu ini? muka sedih]
Dalam kurang waktu sepuluh menit dia sudah menemukan daftar puluhan nama yang ikut
'Pacar siapa si ini?'
Dengan bantuan Rudan, Juvelian menjadi lebih mudah mencari orang orang yang harus Arin jauhi
Jumlahnya lebih sedikit dari dugaan Juvelian, yang lebih mengejutkan Rudan sama sekali tidak bertanya kenapa Juvelian membutuhkan Itu
'Apa kau tidak terlalu percaya pada ku? Atau kau tidak penasaran. Wajahnya terlalu santai'
Saat ini di depan nya ada wajah Rudan
dalam bentuk hologram, wajahnya yang
terlihat ramah seperti biasanya tidak
menunjukkan rasa kesal atau jenisnya
"Kenapa kau tidak bertanya?"
"Hm? Daftar ini?" tanyanya sambil menggoyangkan beberapa lebar kertas berisi latar belakang orang orang yang akan ikut grup nongkrong
Tanpa rasa ragu Rudan menjawab dengan
tersenyum hangat "Karena aku percaya
kau melakukan ini karena alasan yang
tidak bisa kau katakan bukan? dan juga kau tidak mungkin akan ikut ke sana"
Masih ada jurang kecil di antara yaitu kenyataan mereka hanya berpura pura
Tidak peduli seberapa baik mereka menutupinya suatu hari hubungan ini akan berakhir dan di ganti dengan yang lebih baik
Rudan juga terdiam dengan kenyataan
itu. "Jika itu memang terjadi, aku akan
mendukung mu"
Dia mengatakan itu tanpa nada padahal hatinya sangat hati, sebisa mungkin dia menyembunyikannya sambil
mencengkram sesuatu di tangannya
"Suara apa itu?"
"Hah? Tapi tidak ada siapa siapa di sini?"
"Aku salah dengar ya"
'Aku bertanya itu suara apa bukan ada seseorang di sana, aku tidak mungkin salah dengar. Sesuatu yang di hancurkan'
"Dan juga Juju jika kau ingin mencari
pacar sungguhan bukan kah dia harus
__ADS_1
lebih tampan dari ku?"
Juvelian terkekeh dengan candaan Rudan
'Iya, itu benar. aku hanya akan menjadi bahan tertawaan para gadis di sekolah.
'Membuang batu permata demi batu kerikil' mereka pasti akan bikang kayak gitu'
Juvelian bahkan bisa membayangkannya sekarang, "Kenapa kau jadi mirip Jiho, apa sifat menyebalkan bisa menular?" Tanya Juvelian dengan nada cemberut
"Hahaha"
Di atasnya ada pesan masuk, [Mama? apa kau masih ada di sana?] Karena berbicara dengan Rudan, dia sampai lupa dengan Arin yang masih menunggu balasan darinya
"Makasih ya, Rudan"
"Hm"
"Kalau gitu aku matikan ya, dadah~"
Di akhir dia melihat Rudan melambaikan tangannya dengan wajah yang enggan di bibirnya yang tersenyum
Begitu melihat layarnya ada banyak pesan yang belum di baca karena malas baca satu satu dia hanya membaca yang akhir dan membalas dengan cepat
Dari Mama [Kau harus mengingat nama nama ini, jauhi mereka]
Tanpa menjelaskan Juvelian hanya mengirimnya foto
Dari Arin [Oke, aku akan menghafal nya tapi gimana kalau aku lupa?]
Untuk Arin: [Tulis aja di tangan wkwkwk]
Dari Arin: [kayak mau ikut ujian aja pakai contekan]
Untuk Arin: [Hahaha. Arin Kalau gitu aku sudahi ya]
Saat ini Luxia, Allen dan Alan berada di
ruang keluarga dengan suasana hening
mereka hanya diam memandangi TV di
depan mereka
Tatapan kosong seolah mereka hanya bengong bukan mereka yang lihat TV tapi TVnya
Dari pada pertengkaran tanpa akhir lebih baik duduk diam menjaga kedamaian, terkadang walau hanya diam tapi kita malah merasa nyaman
Dari pada pembicaraan yang canggung ini lebih baik dan keheningan itu hancur dengan datangnya Juvelian yang berlari ke sana
"Ayo, kita pergi ke pasar malam!"
Luxia menegakan dirinya sambil menyilangkan kakinya dengan senyum tipis di bibirnya
"Kau juga bisa tersenyum ya?" tanya Allen
dengan acuh tak acuh Luxia mengabaikannya sambil kembali ke ekspresi datarnya
__ADS_1
Kesal karena kalau malas berekspresi di godaan sama Lucas, kalau tersenyum di ejek sama bocah satu itu
'Menyebalkan...'