Bantu Aku Merubah Takdirku

Bantu Aku Merubah Takdirku
Bab 52


__ADS_3

Dengan kedua tangan yang menutup bibir,


Juvelian berkata dengan wajah merasa


bersalah


"Ah, maaf. Tangan saya tadi lemas jadi


cangkir jatuh deh, maaf ya..."


Melihat ke luar jendela Juvelian melanjutkan


perkataannya "Karena sudah jam segini lebih baik kami pulang, aku juga sudah lelah"


'Mau sampai kapan kamu akan menahan kami di sini?' pikir Juvelian dengan tersenyum


'Apa kau pikir aku mau kalian di sini dalam waktu yang lama?' pikir Regina dengan wajah kesal


'Kalau begitu biarkan kami pulang, dong"


kata Juvelian dengan tatapannya sambil


Tersenyum kesal


Setelah bertatapan untuk waktu yang cukup


lama


Melihat Regina yang tidak mau kalah


Juvelian memilih mengalah lebih dulu


dengan mengambil napas dalam- dalam


"Karena sudah mau sore, lebih baik kami


pulang dan juga supir kami sudah datang"


Katanya sambil menunjuk ke arah luar


jendela


Saat ingin berjalan turun dari tangga dan


Ingin berjalan di halaman depan, mereka


tidak sengaja melihat Regis yang saat ini


ingin masuk ke dalam Rumah


"Paman Regis" kata mereka sambil


melambaikan tangan


"Kalian sudah akan pulang sekarang?" tanya


Regis yang berjalan ke arah mereka


"Iya, paman" jawab mereka dengan yakin


Mereka berjalan lebih cepat saat menyadari


Regina dan Hena yang mengikuti mereka


Dari belakang


Saat berpapasan dengan Regis, Juvelian


berhenti dan melihat ke arah pamannya


"Paman maaf ya, tadi aku tidak sengaja


Memecahkan cangkirnya"


Regis hanya mengangguk, Juvelian melangkah kan kakinya lagi dan berjalan


Menyusul Alan yang sedang berjalan menuju


Limousin sedangkan Kirara sudah pulang


Lebih dulu


Regina keluar dari arah pintu sambil berlari


dan berteriak dengan nada bersemangat


"Ayah, Kau sudah kembali"


Berhenti di samping Regis, dia lanjutkan


yang ingin dia katakan dengan suara ceria


"Aku sangat merindukan mu, ayah"


Regis tidak mendengar apa yang Regina


katakan dan hanya berdiri dengan tatapan kosong


Suara langkah kaki yang sedang berlari


terdengar dari arah pintu, Regina langsung


melihat ke arah pintu dengan tatapan sudah


menduga siapa yang membuat keributan itu


Hena berlari ke keluar dari pintu untuk menyusul dan memanggil Regina Meminta nya berhenti berlari


Hena berhenti di belakang Regina dan


Mengatur napas


"Nona... Regina... Jangan berlari terlalu


cepat... Nanti anda bisa terjatuh..."


kata Hena yang terengah- engah


"Maaf, Hena. Aku sangat bersemangat


Mendengar suara ayah" kata Regina sambil


Tersenyum cerah


"Bukan begitu ayah?"


Mendengar tidak ada respons dari Regis,


Regina mulai menyandari Regis tidak melihat

__ADS_1


Atau pun mendengarkan nya


Melainkan melihat ke arah Juvelian yang


sedang berjalan ke arah limusin yang akan


Juvelian naikki


Mengepal tinju di tangannya, Regina sedikit


Menundukkan kepalannya


"Tadi Juvelian memecahkan cangkir tapi


syukurlah dia baik baik saja"


Melihat ke arah Regina yang ada di


sebelahnya, dia bertanya dengan ekspresi


Datar "Apa terjadi masalah?"


Sambil melihat limosin yang di naikki Juvelian, Regina menjawab dengan santai


"Enggak ada yang terjadi kok, tapi sepertinya


Kesan pertamaku padanya jelek karena dia salah paham tentang sesuatu"


"Lalu, apa kau sudah meluruskan kesalah pahaman itu?"


Regina hanya diam dan menggigit bibirnya


"Harusnya kau meluruskan kesalahpahaman


Itu, dengan begitu dia tidak akan kembali


Dengan raut wajah cemberut seperti itu"


Kata Regis dengan nada dingin


Regina yang terkejut menjadi panik dan


mulai mencari alasan "Aah, Itu... Jadi..."


Kata Regina yang tidak bisa memikirkan


alasan sambil mengalih kan pandangan


Menyadari Regis yang bersikap dingin, Hena


Langsung muncul di samping Regina dan


Berkata "Tuan, jangan terlalu menyalahkan


Nona, yang tiba tiba datang tanpa janji


Sebelumnya adalah Nona Juvelian"


"Aku tidak menyalahkan siapa pun. Lebih


baik meluruskan kesalahpahaman sebelum


Menjadi lebih buruk"


Hena yang kaget langsung menjawab


"Iya, iya. Yang anda katakan itu memang


"Dan akulah yang meminta mereka datang,


Aku sudah mengatakan nya semalam"


Kata Regis dengan tatapan dingin


Mata Hena terbuka lebar dan langsung


teringat Regis pernah bilang Juvelian, Alan


Dan Kirara akan datang hari ini


"Maafkan saya, tuan. Saya baru mengingat


Nya sekarang"


Regis berbalik dan berjalan menuju pintu


"Kalian juga segera masuk"


"Baiklah" jawab Hena dan Regina


Regina melihat ke arah Regis yang masuk ke dalam rumah dengan tatapan


kosong sambil berpikir 'Apa perlu dia


sedingin itu kepada putrinya yang sudah


Lama menghilang?'


Dia pun menambahkan 'Benar benar, dasar pria dingin' dengan wajah kesal


Hari ini semua siswa dari kelas 7 sampai 12


Berkumpul di lapangan sekolah untuk


Mengumumkan siapa yang akan menjadi


Ketua OSIS


Kepala Sekolah berdiri di depan sedangkan


Kirara dan, anak laki- laki dengan rambut


Hitam dan mata orange dengan memakai


Kacamata oversized dengan warna hitam


dan kuning keemasan kecuali pada bagian


kacanya berdiri di dekat kepala sekolah


Anak laki laki itu berdiri dengan ekspresi


Tenang dan terlihat sangat percaya diri


Seakan dia tahu siapa yang akan terpilih


'Anak laki- laki itu bukannya yang hari itu


Bersama dengan kak Kirara, saat ingin

__ADS_1


pergi kantor guru kan?'


Karena terlalu jauh, Juvelian mengamati


wajahnya dengan baik dari kejauhan dengan


Tatapan kosong dan menyadari ada yang


Berbeda dari anak itu


'Sekarang aku ingat, anak yang tidak sengaja


kutemui itu dengan dia memancarkan aura


Yang sangat bertolak belakang. Yang ini


Sangat tenang sedangkan yang itu unik...'


'Yang waktu itu, dia terlihat tidak bisa


membaca situasi di sekitarnya, suka tertawa


Menyebalkan dan bisa membuat orang lain


Capek menghadapinya'


Saat melihat ke depan, dia tidak sengaja


Berkontak mata dengan Kirara


Kirara yang melihat Juvelian, tersenyum


Menyegarkan yang membuat keributan


"Kyakk, Kakak Kirara tersenyum padaku"


"Dewi Kirara, kamu yang paling cantik"


"Kakak Kirara, kami mendukungmu"


Begitu lah sorak beberapa orang yang ada di


Lapangan, Kirara hanya melambaikan tangan


Dengan tersenyum


Jika biasanya pemilihan ketua OSIS di


Lakukan oleh guru atau pemungutan


Suara terbanyak dengan menulis nama


Calon ketua OSIS yang mereka pilih


Di sekolah Miater mereka melakukan


Pemungutan suara dengan menekan tombol


Pilihan yang di sediakan di lapangan dan


Akan terlihat berapa banyak orang yang


Memilih calon ketua OSISg tanpa di hitung


Satu persatu


Kepala Sekolah itu mulai berbicara dengan


Menggunakan mi di depannya


"Jake dengan suara sebanyak 1023


sedangkan Kirara dengan suara sebanyak


977"


'Karena di sekolah ini sangat sedikit yang


Ingin menjadi ketua OSIS, jadi ketua OSISnya


dari SMP sampai SMA cuman ada satu di


sekolah ini karena itu yang pilih dari kelas 7sampai 12'


'Atau mungkin memang cuman satu aja?'


Karena dari sebelum kembali ke masa lalu


Sampai sekarang Juvelian hanya di sekolah yang sama dia tidak tahu bagaimana dengan


Pemilihan di sekolah lain


"Ketua OSIS tahun ini adalah Jake"


Wajah Jake yang awalnya tegang berubah


menjadi cerah sedangkan Kirara yang berdiri


di sampingnya memasang ekspresi sedih


Suara petuk tangan mulai terdengar di antara


Orang orang yang berbaris dan beberapa


Anak perempuan bersorak seperti ini


"Kakak Jake, Selamat sudah menjadikan ketua OSIS"


"kakak Jake, kau memang keren"


Suara sorakan dan tepuk tangan terdengar


dari barisan kelas 7 sampai 12 yang


membuat lapangan menjadi ribut


"Nak, katakanlah sesuatu"


Mengangkat satu tangannya dan


melambaikan nya di atas, dia berkata dengan


Tersenyum cerah yang membuat orang lain


Sulit membencinya


"Terima kasih untuk kalian semua yang


sudah memilihku"

__ADS_1


~Bersambung~


__ADS_2