
Dengan kedua tangan yang menutup bibir,
Juvelian berkata dengan wajah merasa
bersalah
"Ah, maaf. Tangan saya tadi lemas jadi
cangkir jatuh deh, maaf ya..."
Melihat ke luar jendela Juvelian melanjutkan
perkataannya "Karena sudah jam segini lebih baik kami pulang, aku juga sudah lelah"
'Mau sampai kapan kamu akan menahan kami di sini?' pikir Juvelian dengan tersenyum
'Apa kau pikir aku mau kalian di sini dalam waktu yang lama?' pikir Regina dengan wajah kesal
'Kalau begitu biarkan kami pulang, dong"
kata Juvelian dengan tatapannya sambil
Tersenyum kesal
Setelah bertatapan untuk waktu yang cukup
lama
Melihat Regina yang tidak mau kalah
Juvelian memilih mengalah lebih dulu
dengan mengambil napas dalam- dalam
"Karena sudah mau sore, lebih baik kami
pulang dan juga supir kami sudah datang"
Katanya sambil menunjuk ke arah luar
jendela
Saat ingin berjalan turun dari tangga dan
Ingin berjalan di halaman depan, mereka
tidak sengaja melihat Regis yang saat ini
ingin masuk ke dalam Rumah
"Paman Regis" kata mereka sambil
melambaikan tangan
"Kalian sudah akan pulang sekarang?" tanya
Regis yang berjalan ke arah mereka
"Iya, paman" jawab mereka dengan yakin
Mereka berjalan lebih cepat saat menyadari
Regina dan Hena yang mengikuti mereka
Dari belakang
Saat berpapasan dengan Regis, Juvelian
berhenti dan melihat ke arah pamannya
"Paman maaf ya, tadi aku tidak sengaja
Memecahkan cangkirnya"
Regis hanya mengangguk, Juvelian melangkah kan kakinya lagi dan berjalan
Menyusul Alan yang sedang berjalan menuju
Limousin sedangkan Kirara sudah pulang
Lebih dulu
Regina keluar dari arah pintu sambil berlari
dan berteriak dengan nada bersemangat
"Ayah, Kau sudah kembali"
Berhenti di samping Regis, dia lanjutkan
yang ingin dia katakan dengan suara ceria
"Aku sangat merindukan mu, ayah"
Regis tidak mendengar apa yang Regina
katakan dan hanya berdiri dengan tatapan kosong
Suara langkah kaki yang sedang berlari
terdengar dari arah pintu, Regina langsung
melihat ke arah pintu dengan tatapan sudah
menduga siapa yang membuat keributan itu
Hena berlari ke keluar dari pintu untuk menyusul dan memanggil Regina Meminta nya berhenti berlari
Hena berhenti di belakang Regina dan
Mengatur napas
"Nona... Regina... Jangan berlari terlalu
cepat... Nanti anda bisa terjatuh..."
kata Hena yang terengah- engah
"Maaf, Hena. Aku sangat bersemangat
Mendengar suara ayah" kata Regina sambil
Tersenyum cerah
"Bukan begitu ayah?"
Mendengar tidak ada respons dari Regis,
Regina mulai menyandari Regis tidak melihat
__ADS_1
Atau pun mendengarkan nya
Melainkan melihat ke arah Juvelian yang
sedang berjalan ke arah limusin yang akan
Juvelian naikki
Mengepal tinju di tangannya, Regina sedikit
Menundukkan kepalannya
"Tadi Juvelian memecahkan cangkir tapi
syukurlah dia baik baik saja"
Melihat ke arah Regina yang ada di
sebelahnya, dia bertanya dengan ekspresi
Datar "Apa terjadi masalah?"
Sambil melihat limosin yang di naikki Juvelian, Regina menjawab dengan santai
"Enggak ada yang terjadi kok, tapi sepertinya
Kesan pertamaku padanya jelek karena dia salah paham tentang sesuatu"
"Lalu, apa kau sudah meluruskan kesalah pahaman itu?"
Regina hanya diam dan menggigit bibirnya
"Harusnya kau meluruskan kesalahpahaman
Itu, dengan begitu dia tidak akan kembali
Dengan raut wajah cemberut seperti itu"
Kata Regis dengan nada dingin
Regina yang terkejut menjadi panik dan
mulai mencari alasan "Aah, Itu... Jadi..."
Kata Regina yang tidak bisa memikirkan
alasan sambil mengalih kan pandangan
Menyadari Regis yang bersikap dingin, Hena
Langsung muncul di samping Regina dan
Berkata "Tuan, jangan terlalu menyalahkan
Nona, yang tiba tiba datang tanpa janji
Sebelumnya adalah Nona Juvelian"
"Aku tidak menyalahkan siapa pun. Lebih
baik meluruskan kesalahpahaman sebelum
Menjadi lebih buruk"
Hena yang kaget langsung menjawab
"Iya, iya. Yang anda katakan itu memang
"Dan akulah yang meminta mereka datang,
Aku sudah mengatakan nya semalam"
Kata Regis dengan tatapan dingin
Mata Hena terbuka lebar dan langsung
teringat Regis pernah bilang Juvelian, Alan
Dan Kirara akan datang hari ini
"Maafkan saya, tuan. Saya baru mengingat
Nya sekarang"
Regis berbalik dan berjalan menuju pintu
"Kalian juga segera masuk"
"Baiklah" jawab Hena dan Regina
Regina melihat ke arah Regis yang masuk ke dalam rumah dengan tatapan
kosong sambil berpikir 'Apa perlu dia
sedingin itu kepada putrinya yang sudah
Lama menghilang?'
Dia pun menambahkan 'Benar benar, dasar pria dingin' dengan wajah kesal
Hari ini semua siswa dari kelas 7 sampai 12
Berkumpul di lapangan sekolah untuk
Mengumumkan siapa yang akan menjadi
Ketua OSIS
Kepala Sekolah berdiri di depan sedangkan
Kirara dan, anak laki- laki dengan rambut
Hitam dan mata orange dengan memakai
Kacamata oversized dengan warna hitam
dan kuning keemasan kecuali pada bagian
kacanya berdiri di dekat kepala sekolah
Anak laki laki itu berdiri dengan ekspresi
Tenang dan terlihat sangat percaya diri
Seakan dia tahu siapa yang akan terpilih
'Anak laki- laki itu bukannya yang hari itu
Bersama dengan kak Kirara, saat ingin
__ADS_1
pergi kantor guru kan?'
Karena terlalu jauh, Juvelian mengamati
wajahnya dengan baik dari kejauhan dengan
Tatapan kosong dan menyadari ada yang
Berbeda dari anak itu
'Sekarang aku ingat, anak yang tidak sengaja
kutemui itu dengan dia memancarkan aura
Yang sangat bertolak belakang. Yang ini
Sangat tenang sedangkan yang itu unik...'
'Yang waktu itu, dia terlihat tidak bisa
membaca situasi di sekitarnya, suka tertawa
Menyebalkan dan bisa membuat orang lain
Capek menghadapinya'
Saat melihat ke depan, dia tidak sengaja
Berkontak mata dengan Kirara
Kirara yang melihat Juvelian, tersenyum
Menyegarkan yang membuat keributan
"Kyakk, Kakak Kirara tersenyum padaku"
"Dewi Kirara, kamu yang paling cantik"
"Kakak Kirara, kami mendukungmu"
Begitu lah sorak beberapa orang yang ada di
Lapangan, Kirara hanya melambaikan tangan
Dengan tersenyum
Jika biasanya pemilihan ketua OSIS di
Lakukan oleh guru atau pemungutan
Suara terbanyak dengan menulis nama
Calon ketua OSIS yang mereka pilih
Di sekolah Miater mereka melakukan
Pemungutan suara dengan menekan tombol
Pilihan yang di sediakan di lapangan dan
Akan terlihat berapa banyak orang yang
Memilih calon ketua OSISg tanpa di hitung
Satu persatu
Kepala Sekolah itu mulai berbicara dengan
Menggunakan mi di depannya
"Jake dengan suara sebanyak 1023
sedangkan Kirara dengan suara sebanyak
977"
'Karena di sekolah ini sangat sedikit yang
Ingin menjadi ketua OSIS, jadi ketua OSISnya
dari SMP sampai SMA cuman ada satu di
sekolah ini karena itu yang pilih dari kelas 7sampai 12'
'Atau mungkin memang cuman satu aja?'
Karena dari sebelum kembali ke masa lalu
Sampai sekarang Juvelian hanya di sekolah yang sama dia tidak tahu bagaimana dengan
Pemilihan di sekolah lain
"Ketua OSIS tahun ini adalah Jake"
Wajah Jake yang awalnya tegang berubah
menjadi cerah sedangkan Kirara yang berdiri
di sampingnya memasang ekspresi sedih
Suara petuk tangan mulai terdengar di antara
Orang orang yang berbaris dan beberapa
Anak perempuan bersorak seperti ini
"Kakak Jake, Selamat sudah menjadikan ketua OSIS"
"kakak Jake, kau memang keren"
Suara sorakan dan tepuk tangan terdengar
dari barisan kelas 7 sampai 12 yang
membuat lapangan menjadi ribut
"Nak, katakanlah sesuatu"
Mengangkat satu tangannya dan
melambaikan nya di atas, dia berkata dengan
Tersenyum cerah yang membuat orang lain
Sulit membencinya
"Terima kasih untuk kalian semua yang
sudah memilihku"
__ADS_1
~Bersambung~